IDN Times Xplore/ADHISWARA_SMK WACHID HASYIM SURABAYA
CIEE: Cintai Ekosistem, Eksekusi! – Gen-Z Surabaya Mengubah Sampah Plastik Jadi Peluang
Pagi itu, udara di kawasan Mangrove Wonorejo terasa hangat. Di sela-sela suara burung dan riak ombak kecil yang memecah bibir pantai, beberapa orang muda bergerak cepat. Tangan mereka sigap memunguti plastik kresek, botol minuman, dan sisa-sisa kemasan yang tersangkut di akar mangrove. Keringat bercucuran, namun semangat mereka tidak surut. Satu per satu karung terisi, hingga total 800 kilogram sampah plastik berhasil terkumpul.
Itu bukan angka kecil. Di balik tumpukan plastik itu, tersimpan cerita tentang masalah besar yang masih membayangi kota besar seperti Surabaya—masalah yang tak hanya mengotori pemandangan, tapi juga merusak ekosistem dan membahayakan kesehatan manusia.
Ledakan Sampah di Kota Pahlawan
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), pada 2024 Indonesia menghasilkan 33,79 juta ton sampah, dan hampir 20 persen di antaranya adalah plastik. Di Surabaya, perhitungannya lebih konkret: 1.800 ton sampah diproduksi setiap hari oleh 3 juta penduduk tetap—bahkan bisa membengkak ketika siang hari jumlahnya mendekati 5 juta jiwa karena arus mobilitas.
Meski masyarakat sudah mulai memilah, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo tetap menerima antara 1.300 hingga 1.500 ton sampah setiap hari. Angka ini adalah bukti bahwa upaya mengurangi sampah memang ada, tetapi belum cukup.
Sampah plastik, dengan sifatnya yang sulit terurai, menjadi ancaman jangka panjang. Di kawasan pesisir Surabaya, terutama Pantai Timur (Pamurbaya) dan Pantai Ria Kenjeran, masalah ini terlihat jelas. Dalam aksi “Beach Clean Up III” yang diinisiasi Komunitas Marine Buddies Surabaya bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga, 580 kilogram sampah berhasil diangkut hanya dalam satu hari.
Dari Ekosistem Laut ke Tubuh Manusia
Bahaya plastik tidak berhenti pada pemandangan kumuh. Potongan kecil bernama mikroplastik kini menjadi momok baru. Menurut Kementerian Kesehatan, mikroplastik bisa masuk ke tubuh melalui udara, air, atau makanan laut, lalu mengendap di saluran pernapasan. Jika dibiarkan, endapan ini bisa memicu peradangan kronis yang berpotensi berkembang menjadi kanker atau tumor.
Bayangkan: partikel tak kasat mata itu bisa saja kini sudah ada di tubuh kita, hasil dari kebiasaan membuang plastik sembarangan dan pengelolaan sampah yang tidak optimal.
Gen-Z Menggagas Gerakan Hijau
Namun di tengah berita buruk, muncul kabar baik dari sekelompok anak muda di Wonokusumo. Mereka menamakan diri sebagai Yayasan Bina Bakti Lingkungan dan membawa sebuah misi: membuktikan bahwa sampah plastik bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sesuatu yang bernilai.
Program unggulan mereka, “Gerakan Hijau”, dilakukan dengan konsistensi yang mengagumkan. Setiap minggu, mereka mengumpulkan 1–2 kilogram sampah plastik dan 2–3 kilogram kardus bekas. Tak berhenti di situ, limbah cair juga dimanfaatkan menjadi eco enzym, lalu diolah menjadi sabun ramah lingkungan.
“Awalnya, saya ikut karena diajak teman,” kata Jefri, salah satu anggota komunitas, sambil tersenyum. “Tapi lama-lama saya sadar, ini bukan cuma soal membersihkan lingkungan. Dari sampah yang kami olah, saya bisa dapat pemasukan tambahan. Jadi, kami membantu bumi dan membantu diri sendiri.”
Merangkul Sekolah, Menumbuhkan Kesadaran Dini
Komunitas ini paham betul bahwa perubahan besar harus dimulai dari generasi muda. Karena itu, mereka menggandeng sekolah-sekolah, salah satunya SMK Wachid Hasyim Surabaya. Di sekolah ini, siswa-siswi diajak mengumpulkan sampah plastik di titik-titik yang sudah disiapkan. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) bertugas memilah, lalu hasilnya dijual ke komunitas. Uangnya masuk ke kas sekolah, menambah motivasi siswa untuk terlibat.
Dengan pendampingan langsung dari komunitas, proses ini menjadi lebih dari sekadar kegiatan rutin—ini adalah pembelajaran hidup tentang tanggung jawab, keberlanjutan, dan kolaborasi.
CIEE: Cintai Ekosistem, Eksekusi!
Di mading sekolah, terpampang tulisan besar: “CIEE: Cintai Ekosistem, Eksekusi!”. Slogan itu menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya urusan pemerintah atau orang dewasa, melainkan tugas semua kalangan.
Gen-Z, yang sering dilabeli sebagai generasi digital, membuktikan bahwa mereka juga bisa menjadi generasi peduli. Dari aksi di pesisir hingga program di sekolah, langkah-langkah kecil itu, jika dilakukan secara konsisten, akan menjadi gelombang besar yang membawa perubahan nyata.
Karena pada akhirnya, menyelamatkan bumi bukan soal siapa yang memulai, tapi siapa yang mau terus melangkah.