5 Novel Mengangkat Profesi Unik, Jadi Teman Ngabuburit yang Asyik

- Lima novel direkomendasikan sebagai teman ngabuburit karena mengangkat profesi unik, menghadirkan konflik menarik, dan memberi wawasan baru bagi pembaca di bulan Ramadan.
- Novel-novel tersebut menampilkan beragam profesi seperti penyusun kamus, petugas surat hilang, pemberi nasihat lewat surat, penjaga toko buku bekas, hingga detektif makanan.
- Melalui kisah-kisahnya, pembaca diajak menikmati cerita yang hangat sekaligus reflektif tentang pekerjaan, kehidupan, dan makna kebahagiaan sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Merasa gak, ada ketenangan tersendiri saat kita tenggelam dalam sebuah cerita, terlebih di tengah suasana syahdu bulan puasa. Kalau sudah begitu, waktu jadi terasa lebih cepat berjalannya. Tahu-tahu, azan magrib sudah berkumandang saja. Pastinya cerita yang dibaca bukan cerita yang membosankan, melainkan cerita yang bisa bawa kita masuk ke dalamnya.
Nah, cerita dalam novel-novel berikut cocok loh jadi teman ngabuburit kamu. Sebab, premisnya gak itu-itu saja. Novel-novel ini mengangkat profesi unik dengan konflik yang gak hanya mendebarkan, tapi juga mampu menambah wawasan dan perspektif kamu. Ada apa saja?
1. The Great Passage karya Shion Miura

Terjemahan bahasa Indonesia buku ini adalah Merakit Kapal. The Great Passage merupakan novel bergenre literary fiction atau drama yang berkisah tentang perjalanan seorang direktur kepala redaksi bernama Mitsuya Majime dalam menyusun sebuah kamus baru bersama timnya. Kenapa novel ini populer di dunia termasuk di kalangan masyarakat Indonesia? Selain karena karakternya yang memikat, premis cerita yang diangkat terbilang menarik.
Kisah tentang sekelompok orang yang berdedikasi selama 15 tahun untuk menghasilkan kamus bahasa Jepang yang baru terbilang menghibur bagi pembaca. Melalui kisah dalam buku ini, pembaca jadi mengetahui betapa rumit sekaligus bermaknanya memproduksi sebuah kamus. Dari cerita ini juga pembaca bisa memperkaya kosakata karena novel ini benar-benar menyelami makna kata dan bahasa.
2. The Lost Letters of William Woolf karya Helen Cullen

Pernah mendengar judul novel ini? Novel ini mengangkat profesi yang unik loh, yakni petugas di Departemen Surat yang Hilang (Dead Letters Depot). The Lost Letters of William Woolf bercerita tentang William Woolf yang mencari pelarian dari masalah rumah tangganya dengan menjadi seorang detektif bagi surat-surat yang tak sampai ke tujuan. Pekerjaannya itu menuntutnya untuk memecahkan misteri di balik setiap surat dengan alamat yang gak lengkap, tulisan tangan yang gak terbaca, atau tujuan yang gak masuk akal.
Nah, suatu waktu, ia menemukan sebuah surat yang ditujukan kepada “My Great Love”. Ketika Willian menemukan banyak surat yang seperti itu, ia pun mulai mempertanyakan kebahagiaan dan keutuhan pernikahannya sendiri. Novel ini punya alur yang mudah dipahami dan membuat pembaca merenungkan momen “bagaimana jika …” dalam hidup.
3. The Miracles of the Namiya General Store karya Keigo Higashino

Novel ini sepertinya gak asing lagi di telinga pecinta buku. Terjemahan bahasa Indonesia novel ini berjudul Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Novel di termasuk novel best seller internasional dari Jepang yang ditulis oleh salah satu penulis populer Jepang, Keigo Higashino. Pekerjaan unik yang diangkat di novel ini adalah pemberi nasihat melalui surat di sebuah toko kelontong tua.
Cerita bermula saat tiga orang pemuda berandalan (Kohei, Shota, dan Atsuya) bersembunyi di toko kelontong tua dari kejaran polisi setelah mereka melakukan aksi perampokan. Secara ajaib, surat misterius muncul di toko itu yang isinya meminta suatu pendapat. Saat ketiganya membalas surat tersebut, surat balasan lainnya dengan surat baru dari pengirim berbeda pun turut bermunculan. Diceritakan bahwa surat-surat tersebut merupakan surat dari masa lalu.
4. Days at the Morisaki Bookshop karya Satoshi Yagisawa

Days at the Morisaki Bookshop pertama kali terbit pada tahun 2008, ditulis oleh penulis Jepang bernama Satoshi Yagisawa. Novel ini gak begitu tebal, hanya terdiri dari 150 halaman. Days at the Morisaki Bookshop mengisahkan tentang Takako yang bekerja di sebuah toko buku tua milik pamannya setelah memutuskan untuk resign di tempat kerja sebelumnya akibat masalah personal dan mengalami patah hati.
Novel ini mengangkat profesi yang menenangkan, yakni penjaga toko buku bekas di kawasan bersejarah, Jimbocho, Tokyo. Jimbocho dikenal sebagai kawasan yang penuh dengan toko buku tua dan antik sehingga mampu membawa nuansa klasik. Awalnya, Takako merasa ragu bekerja di tempat itu, tetapi lambat laun, bekerja di sana baginya bukan sekadar menjaga kasir, melainkan proses penyembuhan diri. Lewat kisah dalam buku ini, kamu diajak menyelami dunia literatur dan melakukan refleksi tentang kehidupan.
5. The Kamogawa Food Detectives karya Hisashi Kashiwai

Terakhir adalah The Kamogawa Food Detectives karya Hisashi Kashiwai. Bayangkan, kalau di dunia ini ada sebuah profesi unik yakni menjadi detektif khusus untuk makanan. Tugasnya adalah menemukan kembali hidangan yang pernah membekas di hati seseorang. Menarik, bukan? Inilah pekerjaan yang dilakukan oleh Koshi Kamogawa dan ayahnya di sebuah restoran kecil di Kyoto yang diceritakan dalam novel ini.
Selain menjadi pemilik restoran kecil, duo ayah dan anak ini adalah detektif makanan. Mereka kerap membantu klien menemukan kembali makanan yang pernah dicicipi di masa lalu, sebuah hidangan yang begitu istimewa hingga membekas di hati. Menariknya lagi, makanan yang ada di buku ini dideskripsikan begitu jelas, sampai-sampai pembaca seolah bisa mencium aromanya. Buku ini terdiri dari beberapa bab yang masing-masing bab diberi judul sesuai dengan makanan yang dicari klien, misalnya bab “Salmon Grilled with Saikyo Miso”.
Nah, dari kelima rekomendasi di atas, novel mana yang paling ingin segera kamu baca? Sembari menunggu beduk magrib, yuk, pilih salah satu buku di atas dan biarkan imajinasimu berkelana. Selamat ngabuburit dengan membaca!