5 Rekomendasi Novel Sastra Hong Kong dan Taiwan

- Artikel ini memperkenalkan lima novel sastra dari Hong Kong dan Taiwan yang menawarkan tema sosial, politik, dan realisme sebagai alternatif dari tren healing fiction Asia populer.
- Setiap novel menyoroti isu berbeda, mulai dari tekanan bahasa di sekolah, krisis identitas penulis, perjalanan detektif lintas dekade, trauma sejarah keluarga, hingga perjuangan perempuan melawan patriarki.
- Karya-karya tersebut menunjukkan kekayaan budaya serta kompleksitas sejarah Hong Kong dan Taiwan, sekaligus membuka wawasan pembaca terhadap sisi lain sastra Asia Timur.
Mulai jenuh dengan novel Asia, terutama Jepang dan Korsel yang berkutat di genre healing fiction? Aksesnya memang cukup mudah, karena sudah banyak yang diterjemahkan ke bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Sayang, belum banyak yang melakukan hal serupa kepada novel asal negara Asia lain macam Hong Kong dan Taiwan, deh.
Kedua negara itu ternyata punya banyak koleksi novel sastra yang cocok buat tipe pembaca penjelajah. Mulai dari crime sampai yang berbau politik dan realisme. Gak heran, latar politik, ekonomi dan kultural mereka lumayan unik dan rumit. Tergabung dalam China, tapi punya identitas bahasa dan latar belakang sejarah yang beda.
Cocok buat yang suka isu sosial politik dan ingin mengenal sastra Asia di luar Korsel dan Jepang. Lirik sejenak lima rekomendasi novel sastra Hong Kong dan Taiwan yang sudah terbit dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia berikut ini. Layaklah masuk wishlist dulu setidaknya.
1. Tongueless (Lau Yee-Wa)

Tongueless adalah kisah dua guru di sekolah menengah di Hong Kong bernama Wai dan Ling. Dari yang biasa mengajar dengan bahasa Kanton, mereka diminta untuk beralih ke bahasa Mandarin oleh otoritas setempat. Ini memang bikin gak nyaman, tetapi mengingat keduanya apatis dan tak mau menambah masalah, diturutinya saja regulasi baru itu dengan cara masing-masing.
Masalahnya, beberapa waktu kemudian Wai justru ditemukan tewas bunuh diri, kemungkinan karena tak tahan dengan tekanan itu. Bagaimana nasib Ling? Bisakah ia melalui masa sulit itu atau ia akan memilih jalan yang sama dengan rekan sejawatnya.
2. The Drunkard (Liu Yichang)

Terbit perdana pada 1962, The Drunkard adalah novel yang memakai POV narator tak bernama. Ia bergender pria, berprofesi sebagai penulis dan akademisi, tetapi mengalami krisis setelah melihat transformasi besar-besaran di negaranya, Hong Kong secara spesifik.
Kapitalisme merajalela, sementara trauma perang belum benar-benar hilang. Di tengah ketidakpastian dan ketidakpuasan itu, ia sering menemukan dirinya mabuk berat di bar. Buku ini seperti buku harian seorang alkoholik yang mencoba menjelaskan alasan di balik distraksi destruktifnya itu.
3. The Borrowed (Chan Ho Kei)

Sudah terbit dalam bahasa Indonesia, The Borrowed adalah kisah seorang detektif yang membentang selama beberapa dekade dari tahun 1967—2013. Kisah dan kasusnya diceritakan dengan laju mundur dimulai dari tahun 2013 saat ia sudah berstatus senior, dilanjutkan hingga ia masih muda dan hijau pada 1960-an. Total ada 6 kasus yang dikupas dalam novel ini, semuanya berlatar Hong Kong dan erat kaitannya dengan situasi politik, sosial, dan ekonomi di negeri itu.
4. Green Island (Shawna Yang Ryan)

Lanjut dengan membaca novel fiksi sejarah Taiwan berjudul Green Island. Ditulis oleh penulis Taiwan-Amerika, novel ini mengikuti kisah keluarga yang membentang dari dekade 1940-an sampai 2010-an.
Dimulai dengan berakhirnya okupasi Jepang atas Taiwan, penetapan darurat militer, transformasi menuju demokrasi dan Taiwan modern. Meski beberapa dekade sudah berlalu, luka dan trauma akibat kemelut politik itu tak berhenti menghantui anggota keluarga tersebut. Cocok buat penggemar novel family saga dan fiksi sejarah macam Pachinko.
5. The Butcher’s Wife (Li Ang)

The Butcher’s Wife adalah novel feminis yang mengikuti kisah seorang perempuan muda bernama Lin Shi. Kerap diperlakukan kasar oleh suaminya yang berprofesi sebagai tukang jagal hewan, Lin Shi justru dihakimi tetangga dan orang-orang di sekitarnya karena teriakan dan rintihannya yang dianggap mengganggu.
Pada satu malam, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaan itu dengan membunuh sang suami. Novel ini menyorot kultur patriarki di Taiwan dan sempat jadi tabu mengingat ia terbit perdana pada 1983. Namun, seiring perkembangan zaman, The Butcher’s Wife justru jadi ikon yang menandai kebangkitan gerakan feminisme di negeri itu, terutama lewat sastra.
Gak hanya healing fiction genre andalan novel-novel Asia. Justru kalau kamu mau lebih tekun mengulik, banyak karya sastra penulis Asia yang politis dan tajam kritik sosialnya. Seperti kelima karya penulis Hong Kong dan Taiwan tadi.