Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Penyebab Banyak Orang Merasa Salah Jurusan padahal Sudah Bekerja

ilustrasi lelah kerja
ilustrasi lelah kerja (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya sih...
  • Ekspektasi kampus yang terlalu ideal
  • Tuntutan industri yang berbeda dari kurikulum
  • Tekanan sosial dan pembanding dari sekitar
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perasaan salah jurusan sering muncul bukan saat masih kuliah, tapi justru setelah masuk dunia kerja. Rutinitas, tekanan target, dan realita industri kadang jauh dari bayangan semasa memilih jurusan. Situasi ini membuat banyak orang mulai mempertanyakan keputusan lama yang dulu terasa paling masuk akal.

Ketika dunia kerja mulai menunjukkan wajah aslinya, ekspektasi dan kenyataan sering kali gak sejalan. Perasaan ragu, jenuh, dan kehilangan makna bisa muncul meski karier terlihat stabil dari luar. Kondisi ini wajar dan dialami banyak orang di berbagai bidang. Yuk, telaah beberapa penyebab umum kenapa perasaan salah jurusan sering muncul setelah resmi bekerja!

1. Ekspektasi kampus yang terlalu ideal

ilustrasi seminar kerja
ilustrasi seminar kerja (pexels.com/Matheus Bertelli)

Masa kuliah sering memberi gambaran ideal tentang dunia profesional. Presentasi dosen, seminar karier, dan cerita sukses alumni membentuk bayangan bahwa pekerjaan akan penuh tantangan menarik dan ruang berkembang yang luas. Saat masuk dunia kerja, realita sering terasa lebih repetitif dan penuh tekanan administratif.

Perbedaan antara bayangan kampus dan realita lapangan ini membuat banyak orang merasa kecewa. Rasa kecewa ini kemudian berkembang menjadi pertanyaan besar tentang pilihan jurusan. Padahal, yang berubah sering kali bukan minat, tapi konteks kerja yang jauh lebih kompleks.

2. Tuntutan industri yang berbeda dari kurikulum

ilustrasi belajar praktik
ilustrasi belajar praktik (pexels.com/Anamul Rezwan)

Kurikulum kampus sering tertinggal dibanding kebutuhan industri. Banyak lulusan merasa ilmu yang dipelajari kurang relevan dengan tugas harian di tempat kerja. Kondisi ini membuat proses adaptasi terasa berat dan memicu perasaan gak kompeten.

Ketika pekerjaan lebih banyak menuntut soft skill dan problem solving dibanding teori, rasa salah jurusan bisa muncul. Perasaan ini bukan selalu tanda pilihan salah, tapi tanda adanya jarak antara pendidikan formal dan kebutuhan lapangan. Tanpa pemahaman ini, rasa ragu bisa makin menguat.

3. Tekanan sosial dan pembanding dari sekitar

ilustrasi pria aktif media sosial
ilustrasi pria aktif media sosial (pexels.com/Helena Lopes)

Media sosial penuh dengan cerita sukses dan pencapaian orang lain. Melihat teman yang terlihat lebih puas dengan pekerjaannya bisa memicu perbandingan yang melelahkan. Perlahan, perasaan tertinggal atau salah langkah mulai tumbuh.

Tekanan sosial ini membuat banyak orang menilai karier dari luar, bukan dari kecocokan pribadi. Padahal, setiap orang punya ritme dan jalur berkembang yang berbeda. Tanpa kesadaran ini, perasaan salah jurusan bisa lebih dipicu oleh lingkungan dibanding realita diri sendiri.

4. Perubahan minat dan nilai hidup

ilustrasi lelah kerja
ilustrasi lelah kerja (pexels.com/Tiger Lily)

Minat dan nilai hidup jarang bersifat statis. Apa yang terasa menarik di usia 18 tahun bisa terasa berbeda di usia 25 atau 30 tahun. Perubahan prioritas ini sering membuat pekerjaan yang dulu terasa tepat kini terasa hampa.

Saat nilai hidup bergeser, pekerjaan lama bisa terasa gak sejalan lagi. Ini bukan kegagalan, tapi bagian alami dari proses tumbuh. Banyak orang baru menyadari arah hidupnya setelah merasakan langsung dunia kerja.

5. Kurangnya ruang eksplorasi di awal karier

ilustrasi menggunakan laptop
ilustrasi menggunakan laptop (unsplash.com/Ben Maffin)

Banyak lulusan langsung masuk jalur kerja yang sempit tanpa sempat eksplorasi. Pekerjaan pertama sering diambil karena kebutuhan finansial, bukan karena kecocokan jangka panjang. Lama-kelamaan, rasa terjebak mulai muncul.

Tanpa ruang mencoba peran berbeda, sulit mengenali potensi dan minat yang sebenarnya. Kondisi ini membuat perasaan salah jurusan terasa makin kuat. Padahal, yang sering dibutuhkan adalah eksplorasi peran, bukan sekadar mengganti bidang studi.

Perasaan salah jurusan setelah bekerja adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Banyak faktor, mulai dari ekspektasi, tuntutan industri, hingga perubahan nilai hidup, berperan dalam membentuk perasaan ini. Memahami penyebabnya membantu melihat situasi dengan lebih jernih. Dari sana, langkah karier bisa disusun dengan lebih sadar dan selaras dengan arah hidup yang terus berkembang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Dari Karakter Upin dan Ipin Pilihan Kamu, Kami Tahu Gaya Bekerjamu!

30 Jan 2026, 13:30 WIBLife