Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret Malala Yousafzai
potret Malala Yousafzai (instagram.com/malala)

Intinya sih...

  • I Am Malala: The Story of the Girl Who Stood Up for Education and was Shot by the Taliban

  • Malala’s Magic Pencil

  • We Are Displaced

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Malala Yousafzai, dunia mengenalnya sebagai sosok pemberani pejuang hak perempuan. Malala tak gentar menyuarakan hak pendidikan meski sebuah tragedi sempat mengancam nyawanya. Atas keberanian dan dedikasinya itulah, Malala mendapatkan Nobel Perdamaian di usianya yang masih 17 tahun. Ia adalah penerima nobel termuda sepanjang sejarah.

Selain gemar membaca, Malala juga rajin menulis. Karya-karyanya menyampaikan pesan kuat tentang keberanian, kekuatan, dan harapan. Hingga detik ini, Malala telah banyak melahirkan karya tulis yang menyentuh jutaan hati pembaca di seluruh dunia. Berikut 4 rekomendasi buku ikonik karya Malala Yousafzai yang bisa memicu semangat baru!

1. I Am Malala: The Story of the Girl Who Stood Up for Education and was Shot by the Taliban

cover buku I Am Malala (amazon.com)

I Am Malala (2013) adalah karya fenomenal Malala Yousafzai yang menceritakan perjalanan hidupnya sebagai pejuang hak pendidikan bagi perempuan. Dalam penulisan buku ini, Malala dibantu oleh Christina Lamb, seorang jurnalis asal Inggris dan reporter media terkenal. I Am Malala dikategorikan sebagai buku internasional best seller.

Di buku ini, Malala menceritakan latar belakang keluarganya, pun kisah hidupnya di Pakistan yang kala itu dibayangi oleh ketidakpastian politik. Ia mengisahkan bagaimana Taliban mulai masuk ke kehidupan masyarakat Pakistan hingga berhasil menguasai wilayah itu, bahkan pemerintah pun tak berani melawan.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat Taliban terasa semakin mengekang dan ekstrem, terutama bagi kaum perempuan (seperti melarang perempuan pergi ke sekolah). Jelas, Ayah Malala yang merupakan seorang aktivis pendidikan dan Malala sangat menentang aturan itu. Kisah ikonik dalam memoar ini ialah ketika Malala ditembak oleh kelompok Taliban saat sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Namun, kisah ini gak berakhir sebagai peristiwa tragis, melainkan menunjukkan kekuatan harapan dan keyakinan.

2. Malala’s Magic Pencil

cover buku Malala's Magic Pencil (amazon.com)

Buku autobiografi lainnya yang dibuat Malala adalah Malala’s Magic Pencil (2017). Hal menarik dari buku ini ialah karya ini merupakan cerita bergambar yang ditujukan untuk segala usia, termasuk anak-anak (gak hanya orang dewasa). Dengan begitu, anak-anak juga bisa memahami nilai-nilai perjuangan sejak dini.

Dalam Malala’s Magic Pencil, Malala menceritakan tentang masa kecilnya di Pakistan. Kala itu, ia bermimpi memiliki pensil ajaib yang bisa menghapus masalah, seperti menghentikan peperangan, menghapus sampah, dan memastikan keadilan. Malala dewasa lantas menyadari bahwa walaupun gak ada pensil ajaib di dunia ini, suara dan kata-kata nyatanya dapat mengubah dunia.

Cerita dalam buku bergambar ini mengangkat isu ketidaksetaraan, kemiskinan, serta kekerasan. Meskipun isu-isu yang diangkat terbilang kompleks, narasi yang disajikan begitu lembut dan sesuai usia, sehingga pesan-pesan berat pun tetap tersampaikan dan mudah diterima oleh imajinasi pembaca.

3. We Are Displaced

cover buku We Are Displaced (amazon.com)

Karya Malala lainnya adalah We Are Displaced yang terbit pada tahun 2019. Jika buku sebelumnya (I Am Malala) berfokus pada perjalanan hidupnya dan perjuangannya untuk hak perempuan di Pakistan, We Are Displaced menyoroti permasalahan perempuan yang lebih luas lagi, terkhusus terkait krisis pengungsi global.

Malala berkesempatan mengunjungi banyak kamp pengungsi ketika ia melakukan perjalanan untuk mempromosikan pendidikan bagi anak perempuan. Nah, di kunjungan itu, ia bertemu banyak anak perempuan pengungsi yang punya kisah inspiratif.

Melalui buku We Are Displaced, Malala gak hanya berbagi memoar singkat tentang kerinduannya pada tanah air, tapi juga berbagi sejumlah kisah anak perempuan pengungsi di kamp. Mereka berbagi tentang harapan, impian, dan perjuangan mencari rasa aman. Buku ini mampu membuka wawasan pembaca lebih luas lagi.

4. Finding My Way: A Memoir

cover buku Finding My Way karya Malala Yousafzai (amazon.com)

Finding My Way (2025) menceritakan tentang perjalanan hidup Malala yang menolak batasan dan melampaui batas trauma. Melalui memoar ini, pembaca diajak memahami bagaimana Malala menyembuhkan dirinya sendiri setelah tragedi yang mengubah hidupnya di masa lalu.

Berbeda dengan I Am Malala yang lebih mengangkat aspek politis dan perjuangan menegakkan hak perempuan, Finding My Way disajikan lebih personal. Di buku ini, Malala gak berbicara tentang sosok dirinya sebagai ikon global atau pejuang hak perempuan, melainkan sebagai seorang perempuan muda yang tengah berproses dan belajar.

Ia menceritakan tentang usahanya membuka diri pada kerentanan dan keraguan serta lingkungan yang baru. Kalau kamu sedang berjuang menyembuhkan luka masa lalu dan kembali mendefinisikan hidup, buku ini cocok kamu baca di waktu luang.

Buku-buku yang ditulis Malala bukan sekadar catatan sejarah, tapi juga refleksi mendalam tentang kekuatan dan keyakinan diri. Membaca bukunya seakan mengalami perjalanan emosional yang penuh makna, mampu membangkitkan semangat pembaca untuk terus berproses dan berdampak bagi sekitar. Selamat membaca karya-karya inspiratif Malala!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team