Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi baca buku (pexels.com/@minan1398/)
ilustrasi baca buku (pexels.com/@minan1398/)

Intinya sih...

  • I’m Glad My Mom Died karya Jennette McCurdy menceritakan hubungan toksik dan kontrol ekstrem dengan sang ibu, memberikan wawasan tajam tentang dinamika keluarga yang merusak.

  • An Abbreviated Life karya Ariel S. Leve menggugah karena membuka realitas emosional anak yang tumbuh dalam lingkungan abusif.

  • Cry the Darkness: One Woman’s Triumph over the Tragedy of Incest karya Donna L. Friess menyoroti dampak kekerasan orang tua serta pentingnya menghadapi kenyataan demi penyembuhan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kekerasan dari orangtua sering kali meninggalkan luka yang paling dalam, karena datang dari sosok yang seharusnya menjadi tempat paling aman. Bagi banyak perempuan, pengalaman ini bukan hanya soal masa lalu, tetapi sesuatu yang terus memengaruhi cara mereka membangun relasi, memandang diri sendiri, dan menjalani hidup.

Memoar menjadi ruang penting untuk menyuarakan pengalaman yang lama terpendam, sekaligus bentuk klaim kembali atas cerita hidup sendiri. Lewat tulisan, para penyintas tidak hanya bercerita tentang luka, tetapi juga tentang bertahan, memahami, dan perlahan memulihkan diri. Lima memoar berikut memperlihatkan bagaimana keberanian untuk jujur bisa menjadi langkah awal menuju penyembuhan.

1. I’m Glad My Mom Died karya Jennette McCurdy

I’m Glad My Mom Died karya Jennette McCurdy (amazon.com)

Dalam memoar kontroversial ini, Jennette McCurdy menceritakan hubungan toksik dan kontrol ekstrem yang dialaminya dari sang ibu sejak kecil, mulai dari pengaturan makan, kontrol tubuh, sampai manipulasi psikologis yang mendalam. Ia menggambarkan bagaimana tindak kekerasan emosional dan fisik dari orang tua membentuk trauma jangka panjang yang harus ia jalani bahkan setelah dewasa. Buku ini memberikan wawasan tajam tentang dinamika keluarga yang merusak dan perjalanan penyembuhan.

2. An Abbreviated Life karya Ariel S. Leve

An Abbreviated Life karya Ariel S. Leve (amazon.com)

Memoar ini mengisahkan masa kecil Ariel yang penuh dengan kekerasan emosional dan psikologis dari ibunya, seorang penyair yang terkenal tetapi sangat kejam secara verbal. Leve menggambarkan bagaimana kata-kata dan tindakan ibunya menciptakan luka yang bertahan lama dalam hidupnya, serta bagaimana ia berusaha membangun kehidupan yang berbeda dari masa lalu itu. Buku ini menggugah karena membuka realitas emosional anak yang tumbuh dalam lingkungan abusif.

3. Cry the Darkness: One Woman’s Triumph over the Tragedy of Incest karya Donna L. Friess

Cry the Darkness: One Woman’s Triumph over the Tragedy of Incest karya Donna L. Friess (amazon.com)

Donna Friess berbagi kisah pahit tentang pelecehan seksual yang ia alami dari ayahnya, serta bagaimana luka itu memengaruhi keluarga dan hidup dewasa. Memoar ini juga menyoroti bagaimana keluarga sering menutup rapat rahasia kekerasan, sehingga korban hidup dalam denial panjang. Friess berbicara secara langsung dan tanpa kompromi tentang dampak kekerasan orang tua serta pentingnya menghadapi kenyataan demi penyembuhan.

4. The Glass Castle karya Jeannette Walls

The Glass Castle: A Memoir karya Jeannette Walls (amazon.com/Jeannette Walls)

Memoar The Glass Castle menceritakan masa kecil Jeannette Walls yang penuh ketidakstabilan, kelaparan, dan pengabaian emosional dari orang tua yang sangat tidak bertanggung jawab. Meski bukan kekerasan fisik ekstrem, kekerasan emosional dan pola pengasuhan yang ceroboh membuat ia dan saudara-saudaranya tumbuh dengan tanggung jawab besar di masa muda mereka. Walls merefleksikan bagaimana luka masa kecil membentuk pilihan hidup dan pandangan dirinya terhadap keluarga dan kekuatan pribadi.

5. Breaking Night karya Liz Murray

Breaking Night karya Liz Murray (amazon..com)

Breaking Night adalah memoar karya Liz Murray tentang masa kecilnya bersama orangtua pecandu narkoba yang penuh penelantaran dan kekerasan emosional. Ia menjadi tunawisma pada usia 15 tahun, tidur di jalanan New York sambil tetap berusaha bertahan hidup.

Meski menghadapi kemiskinan ekstrem, Murray menunjukkan tekad luar biasa untuk melanjutkan pendidikan. Dengan kerja keras, ia akhirnya diterima di Harvard University, sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat latar belakangnya. Buku ini menjadi kisah inspiratif tentang daya tahan, harapan, dan keberanian keluar dari siklus keluarga yang penuh kekerasan.

Membaca kisah para penyintas bukan sekadar melihat penderitaan orang lain, tetapi juga belajar tentang daya tahan manusia menghadapi kondisi yang paling tidak adil. Memoar-memoar ini menunjukkan bahwa luka akibat kekerasan orangtua bisa bertahan lama, tetapi bukan berarti mustahil untuk dipahami dan diolah dengan lebih sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team