HUT Ke-77 Polwan 2025: Sejarah hingga Peran Polisi Wanita

- Tema HUT ke-77 Polwan 2025HUT ke-77 Polwan mengangkat tema "Polri untuk Masyarakat". Peringatan HUT Polwan meneguhkan semangat pengabdian dan kedekatan Polwan dengan masyarakat.
- Sejarah HUT Polwan 1 SeptemberPada awal tahun 1948, organisasi perempuan Islam di Bukittinggi mengajukan usulan agar perempuan diikutsertakan dalam pendidikan kepolisian untuk menangani kasus perempuan.
- Enam Polwan pertama dan tugas khususnyaPada 1 September 1948, enam perempuan pertama resmi dididik sebagai calon Polwan. Mereka diberikan tugas khusus terkait perempuan, anak-anak, dan masalah sosial.
Peringatan HUT ke-77 Polwan 2025 menjadi momen penting untuk mengenang perjalanan panjang Polisi Wanita Republik Indonesia dalam menjaga keamanan dan ketertiban bangsa. Setiap tahunnya, perayaan ini selalu menjadi ajang refleksi atas dedikasi dan kontribusi Polwan (Polisi Wanita) bagi masyarakat.
HUT ke-77 Polwan pada 1 September 2025 mengusung tema "Polri untuk Masyarakat". Dengan adanya peringatan ini, menjadi pengingat bahwa Polwan berkomitmen untuk mengayomi dan mempererat hubungan dengan masyarakat.
1. Tema HUT ke-77 Polwan 2025

HUT ke-77 Polwan mengangkat tema "Polri untuk Masyarakat". Peringatan HUT Polwan tidak hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial, melainkan juga sebagai momentum untuk meneguhkan kembali semangat pengabdian dan kedekatan Polwan dengan masyarakat. HUT ke-77 Polwan diharapkan dapat membawa makna yang lebih dalam, yakni hadir di tengah warga dan berbagi dengan hati, serta memperkuat jati diri Polwan sebagai sosok pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.
2. Sejarah HUT Polwan 1 September
Pada awal tahun 1948, polisi sempat mengalami kesulitan saat memeriksa korban, tersangka, ataupun saksi perempuan, terutama pemeriksaan fisik untuk menangani sebuah kasus. Oleh karena itu, para polisi sering meminta bantuan para istri polisi dan pegawai sipil perempuan untuk melaksanakan tugas pemeriksaan fisik.
Kemudian, organisasi perempuan dan organisasi perempuan Islam di Bukittinggi, Sumatera Barat berinisiatif mengajukan usulan kepada pemerintah agar perempuan diikutsertakan dalam pendidikan kepolisian untuk menangani masalah tersebut. Lalu, Cabang Djawatan Kepolisian Negara untuk Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi, memberikan kesempatan mendidik perempuan-perempuan pilihan untuk menjadi polisi.
3. Enam Polwan pertama dan tugas khususnya

Pada 1 September 1948, enam perempuan pertama resmi dididik sebagai calon Polwan, yaitu:
Mariana Saanin
Nelly Pauna
Rosmalina Loekman
Dahniar Sukotjo
Djasmainar
Rosnalia Taher
Pada 1 Mei 1951, keenam calon inspektur tersebut lulus pendidikan dan mulai bertugas di Djawatan Kepolisian Negara serta Komisariat Polisi Jakarta Raya. Mereka diberikan tugas khusus terkait perempuan, anak-anak, dan masalah sosial, seperti:
Mengusut, memberantas dan mencegah kejahatan yang dilakukan oleh atau terhadap perempuan dan anak-anak
Memberi bantuan kepada polisi umum dalam pengusutan dan pemeriksaan perkara terhadap terdakwa atau saksi khusus untuk memeriksa fisik kaum perempuan yang tersangkut atau terdakwa dalam suatu perkara
Mengawasi dan memberantas pelacuran, perdagangan perempuan dan anak-anak
Sejarah HUT Polwan 1 September menjadi bukti peran perempuan dalam menjaga keamanan dan melindungi masyarakat. Dengan semangat pengabdian yang terus hidup, HUT Polwan 2025 menjadi momentum untuk mengenang jasa para perintis sekaligus memperkuat kiprah Polwan di masa depan.