Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Janice Tjioe Atelier dan Seni Menghidupkan Interior yang Personal

Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang
Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang. 5 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)
Intinya sih...
  • Atelier sebagai ruang perjumpaan, bukan sekadar showroom
    • Lantai dasar difungsikan sebagai area showroom sekaligus atelier
    • Desain tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus dikagumi dari jauh
    • HAAS dan bahasa furnitur yang jujur
      • Atelier ini juga menjadi panggung bagi HAAS, label furnitur in-house yang ditampilkan secara selektif
      • Pendekatan selektif memperlihatkan cara Janice memandang furnitur sebagai aksen yang berbicara
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Di tengah ritme Kemang yang dinamis, sebuah rumah kreatif baru dibuka. Bukan sekadar showroom, melainkan ruang dialog antara desain, rasa, dan cara hidup. Janice Tjioe Atelier resmi diperkenalkan sebagai perpanjangan tangan dari filosofi desain Janice Tjioe yang selama ini dikenal hangat, berlapis, dan penuh pertimbangan detail pada Kamis (5/2/2026).

Berlokasi di Jalan Kemang Timur No. 60, atelier dua lantai ini menjadi ruang di mana interior tidak hanya dipamerkan, tetapi dialami. Dari furnitur, elemen dekoratif, hingga aroma ruang, semuanya dirangkai untuk mengajak pengunjung memahami desain sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar estetika visual.

1. Atelier sebagai ruang perjumpaan, bukan sekadar showroom

Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang
Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang. 5 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Berbeda dari ruang pamer konvensional, Janice Tjioe Atelier dirancang sebagai tempat pertemuan antara ide, klien, dan inspirasi gaya hidup. Lantai dasar difungsikan sebagai area showroom sekaligus atelier, memungkinkan pengunjung menyusuri proses kreatif yang menjadi identitas studio Janice Tjioe Interiors.

Setiap sudut ruang disusun agar terasa lived-in, tidak kaku, dan tidak berjarak. Di sinilah desain tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus dikagumi dari jauh, melainkan dirasakan secara langsung, seperti memasuki rumah yang sudah lama dihuni.

2. HAAS dan bahasa furnitur yang jujur

Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang
Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang. 5 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Atelier ini juga menjadi panggung bagi HAAS, label furnitur in-house yang ditampilkan secara selektif. Salah satu yang ditonjolkan adalah barstool, elemen fungsional yang sekaligus menjadi penanda karakter ruang sederhana, proporsional, dan berakar pada kualitas material.

Pendekatan selektif ini juga memperlihatkan cara Janice memandang furnitur yang bukan hanya sebagai pengisi ruang, tetapi sebagai aksen yang berbicara. Setiap produk hadir dengan tujuan, bukan sekadar variasi.

3. Turut merilis Jean & Hahn Home

Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang
Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang. 5 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Bersamaan dengan pembukaan atelier, Jean & Hahn Home diperkenalkan sebagai jenama home & living yang memperluas makna interior ke ranah sensorik. Pada tahap awal, fokus diberikan pada produk aromatik, seperti home diffuser dan perfumed candles, sebuah langkah yang menegaskan bahwa desain juga bekerja lewat penciuman dan suasana.

Jean & Hahn Home memandang rumah sebagai ruang yang hidup dan bertumbuh bersama penghuninya. Aroma dihadirkan bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai elemen emosional yang membangun kedekatan dan rasa tenang dalam ruang.

4. Dialog kreatif lewat kolaborasi

Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang
Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang. 5 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Atelier ini juga menampilkan hasil kolaborasi Janice Tjioe dengan berbagai jenama, seperti Maison Sava by Alphabirama, Maradi, dan Grandome. Di area living room, elemen-elemen ini berdampingan tanpa saling mendominasi, menciptakan dialog kreatif yang kaya sekaligus tetap terasa personal.

Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana sebuah ruang dapat diperkaya tanpa repetisi. Setiap objek membawa narasinya sendiri, namun tetap menyatu dalam satu bahasa desain yang hangat dan elegan.

5. Affordable luxury dan craftsmanship sebagai inti filosofi

Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang
Pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang. 5 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Sejak mendirikan studionya pada 2017, Janice Tjioe dikenal melalui pendekatan desain yang menyeimbangkan estetika dan kenyamanan. Pada atelier ini, filosofi tersebut diterjemahkan ke dalam konsep affordable luxury, kemewahan yang tidak berjarak, namun tetap menonjolkan kualitas craftsmanship.

“Di Atelier ini juga mengedepankan kualitas craftsmanship dalam konteks affordable luxury yang menjadi keunikan dari pengalaman desain di atelier ini,” ujar Janice dalam pembukaan Janice Tjioe Atelier di Kemang, Kamis (5/2/2026).

Perhatian pada tekstur, warna, dan detail menjadi benang merah yang mengikat seluruh ruang. Semua padanannya menciptakan interior yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga nyaman dihuni.

Melalui Janice Tjioe Atelier, desain interior diposisikan sebagai pengalaman yang utuh dari sisi visual, emosional, dan personal. Ruang ini tidak menawarkan jawaban instan, melainkan undangan untuk memahami rumah sebagai refleksi dari penghuninya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Latest in Life

See More

Ramalan Shio Kuda Tahun 2026: Karier, Asmara, dan Keuangan

07 Feb 2026, 11:10 WIBLife