Comscore Tracker

Silaturahmi atau Silaturahim? Ternyata Dua-duanya Benar lho!

Silaturahmi artinya 'tali persaudaraan'

Dalam Islam, menjalin hubungan persaudaraan sangat penting untuk dilakukan. Ini biasanya kita kenal dengan istilah menyambung atau menjalin tali silaturahim. Tunggu, bukannya yang benar "silaturahmi", ya?

Mengenai penulisan silaturahmi atau silaturahim, memang masih sering muncul kebingungan di antara kita. Lantas, penulisan mana yang benar? Langsung scroll ke bawah untuk menemukan jawabannya! Psst, dua-duanya sebetulnya benar, lho!

1. Arti silaturahim/silaturahmi

Silaturahmi atau Silaturahim? Ternyata Dua-duanya Benar lho!ilustrasi perempuan muslimah (Freepik.com/freepik)

Kalau kita lihat melalui tinjauan bahasa Arab, silaturahmi atau silaturahim (صلة الرحم) disusun atas dua kata, yakni shilah (صلة) dan ar-rahim (الرحم).

Shilah bisa diartikan sebagai 'menyambung', 'menjalin', atau 'menghubungkan'. Sementara itu, ar-rahim memiliki akar kata rahima–yarhamu. Nah, kata tersebut mempunyai dua bentuk kata infinitif yang berlainan arti, yaitu bisa berarti 'kasih sayang' ataupun 'rahim perempuan'.

Namun, dalam istilah silaturahmi/silaturahim, ar-rahim lebih merujuk ke kasih sayang. Maksud dari kasih sayang di sini adalah afeksi kepada kerabat. Mengenai hal ini, Ar Raghib Al Asfahani, dilansir muslim.or.id, menjelaskan,

"Ar-rahim yang dimaksud adalah rahim perempuan, yaitu tempat di mana janin berkembang dan terlindungi (dalam perut perempuan). Dan istilah ar-rahim digunakan untuk menyebutkan karib-kerabat karena mereka berasal dari satu rahim." (dinukil dari Ruhul Ma'ani, 9/142).

Jadi, bisa kita simpulkan bahwa silaturahmi atau silaturahim adalah menjalin hubungan dengan kerabat dekat. Lebih jelasnya, berikut pengertian silaturahmi/silaturahim dari An Nawawi:

"Adapun silaturahim adalah berbuat baik kepada karib-kerabat sesuai dengan keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang hendak dihubungkan. Terkadang berupa kebaikan dalam hal harta, terkadang dengan memberi bantuan tenaga, terkadang dengan mengunjunginya, dengan memberi salam, dan cara lainnya." (Syarh Shahih Muslim, 2/201).

Baca Juga: Arti & Hukum Memberi Ucapan Barakallah Fii Umrik di Hari Ulang Tahun

2. Jadi, yang benar silaturahmi atau silaturahim?

Silaturahmi atau Silaturahim? Ternyata Dua-duanya Benar lho!ilustrasi makan bersama (Pexels.com/PNW Production)

Merujuk laman Muhammadiyah, Rasulullah SAW sebenarnya lebih sering mengucapkan "rahim" daripada "rahmi". Contohnya ada pada kedua hadis berikut ini:

1. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang suka dilapangkan rezekinya atau ditambahkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung rahim (kekerabatannya)'." (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, diriwayatkan dari Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, ia bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung rahim (kekerabatannya). Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau hendaklah ia diam." (HR. Bukhari).

Kalau berdasarkan arti harfiah Bahasa Arab, yang lebih tepat sebenarnya silaturahim. Namun, dilansir Muhammadiyah, Majelis Tarjih Muhammadiyah mengatakan bahwa tak menjadi masalah mengucapkan maupun menuliskan "silaturahmi" sesuai dengan yang mudah di lisan kita.

Pasalnya, sangat lumrah bagi sebuah bahasa mengalami modifikasi dan perkembangan, terlebih ketika menerjemahkan suatu kata ke bahasa lain. Jadi, laman Muhammadiyah menekankan bahwa bukan termasuk menyalahi syariat ketika kata "silaturahim" berubah menjadi "silaturahmi" saat diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Namun, ada satu catatan penting yang perlu diperhatikan. Laman Muhammadiyah menyebutkan, kalau kita mengucapkan atau menuliskan "silaturahmi", maka arti dari kata tersebut harus dikembalikan ke bahasa Indonesia—menurut KBBI, silaturahmi adalah "tali persahabatan atau persaudaraan"—dan bukan arti harfiah dalam bahasa Arab.

Hal serupa juga dilansir laman muslim.or.id. Mengucapkan "silaturahmi" dalam konteks Bahasa Indonesia tidaklah mengapa. Akan tetapi, kita sebaiknya tidak mengaitkan kata tersebut dengan perintah dan keutamaan menjalin silaturahmi sesuai syariat. Hal ini karena menurut muslim.or.id, keduanya berbeda.

3. Pentingnya menyambung tali silaturahmi

Silaturahmi atau Silaturahim? Ternyata Dua-duanya Benar lho!ilustrasi silaturahmi (Pexels.com/mentatdgt)

Terkait perintah silaturahmi, Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 36 yang artinya,

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS. An-Nisa, [4]:36).

Begitu juga dengan hadis yang diriwayatkan Abu Ayyub Al Anshori, Rasulullah SAW berkata ketika ditanyai amalan yang dapat membawa seseorang menuju surga:

"Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orangtua dan kerabat)." (HR. Bukhari no. 5983).

Selain amalan yang dapat mengantarkan ke surga, laman Rumaysho menyebutkan bahwa menyambung tali silaturahmi juga menyebabkan dilapangkannya rezeki dan umur oleh Allah SWT. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturrahmi." (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).

Dari hadis tersebut, bisa kita lihat bahwa silaturahmi memiliki banyak keutamaan. Namun sebaliknya, kalau kita sengaja memutus silaturahmi, maka balasan dari perbuatan tersebut akan disegerakan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah dari Abu Bakroh yang artinya,

"Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya (di dunia ini)—berikut dosa yang disimpan untuknya (di akhirat)—daripada perbuatan melampaui batas (kezaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)". (HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211, sahih).

Jadi, baik silaturahmi atau silaturahim, keduanya sama-sama boleh kita ucapkan. Wallahu a'lam bishawab.

Penulis: Fria Sumitro

Baca Juga: Apa Arti Shadaqallahul Adzim? Ini Pengertian dan Hukum Membacanya!

Topic:

  • Bunga Semesta Int
  • Febriyanti Revitasari
  • Stella Azasya

Berita Terkini Lainnya