ilustrasi perpustakaan, baca buku (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Walaupun memiliki banyak manfaat, immersive reading bukan berarti menggantikan seluruh pengalaman membaca tradisional. Menurut Maryanne Wolf, ahli neurosains kognitif dari UCLA yang memimpin Center for Dyslexia, Diverse Learners and Social Justice, membaca teks secara langsung tetap memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, empati, dan refleksi yang mendalam. Kemampuan-kemampuan tersebut dibangun melalui proses membaca yang lebih lambat dan penuh perhatian, sehingga pembaca memiliki waktu untuk mencerna serta memahami makna yang terkandung dalam sebuah teks.
Wolf menjelaskan bahwa proses menghadapi kata-kata di halaman buku membutuhkan kesabaran kognitif yang membantu pembaca membangun keterampilan membaca mendalam. Meski demikian, ia tetap mendukung penggunaan immersive reading jika metode tersebut dapat membuat lebih banyak orang kembali menikmati buku. Baginya, cara apa pun yang mendorong minat membaca layak diapresiasi, terutama ketika kebiasaan membaca untuk kesenangan pribadi terus mengalami penurunan.
Jika kamu sering kesulitan fokus saat membaca buku, immersive reading bisa menjadi alternatif yang patut dicoba. Menggabungkan membaca teks dan mendengarkan audiobook secara bersamaan dapat membantu menjaga konsentrasi, membuat cerita terasa lebih hidup, serta meningkatkan keterlibatan selama membaca.
Meski bukan solusi yang cocok untuk semua orang, metode ini terbukti membantu banyak pembaca menyelesaikan buku yang sebelumnya sulit mereka nikmati. Pada akhirnya, menemukan cara membaca yang paling nyaman adalah langkah penting agar kebiasaan membaca bisa terus berkembang dan menjadi aktivitas yang menyenangkan.