Ketika anak mencetak prestasi baik di dalam maupun di luar sekolah, tentu bukan hanya ia sendiri yang senang. Sekolah ikut bangga. Orangtua sebagai pihak yang setiap hari mendampingi anak dan memfasilitasinya apalagi.
Mental Juara yang Perlu Ditanamkan pada Anak agar Berprestasi

- Orangtua perlu membangun mental juara bersama kemampuan anak, dengan menekankan bahwa hasil terbaik membutuhkan usaha maksimal dan proses latihan yang konsisten.
- Anak perlu tetap fokus, tidak kalah mental, menjunjung sportivitas, serta berani mencoba lagi setelah gagal tanpa menganggap kekalahan sebagai akhir peluang.
- Mental pemenang juga mencakup kemampuan mengakui keunggulan lawan sebagai bahan belajar dan tetap rendah hati meski meraih prestasi tertinggi.
Bahkan kerap kali prestasi anak dimulai dari dorongan orangtua agar ia mengikuti berbagai les lalu lomba. Memang anak perlu diarahkan ke jalur prestasi. Akan tetapi, jangan lupa untuk secara konsisten menanamkan mental juara atau pemenang dalam dirinya.
Hindari orangtua hanya sibuk mengasah kemampuan anak di bidang yang akan dilombakan tanpa membangun mental pemenang. Mental pemenang tidak berarti anak harus selalu menjuarai kompetisi. Justru mental juara yang perlu ditanamkan pada anak agar berprestasi dan ia siap bila pun mesti kalah dalam pertandingan. Berikut poin-poin penting yang wajib dipahami anak.
1. Jangan berharap hasil terbaik jika usaha tidak maksimal

ilustrasi siswa (pexels.com/Max Fischer) Semua orang pasti ingin hasil terbaik dalam perlombaan, pekerjaan, atau apa pun. Akan tetapi, tidak setiap orang siap memberikan yang terbaik dari dirinya untuk mencapai hal tersebut. Padahal, tanpa usaha sungguh-sungguh, tentu mustahil hasil terbaik dapat diraih.
Anak mesti sejak dini mengerti ini agar setiap usahanya tidak setengah-setengah. Bekerja keras dulu, baru bicara tentang hasil yang memuaskan. Tanpa pemahaman akan sebab dan akibat, anak cuma jago berangan-angan menjadi juara tanpa pernah benar-benar berjalan menuju ke sana.
2. Menang bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan proses di baliknya

ilustrasi berlatih gitar (pexels.com/Pavel Danilyuk) Kemenangan tidak dicetak dalam semalam. Memang gelar juara 1, 2 , dan 3 ditentukan di akhir. Namun, kemenangan sesungguhnya punya arti lebih dari sekadar siapa yang menempati ketiga posisi tersebut.
Saat anak sudah mau berproses sedemikian panjang guna menempa diri, kemampuan, dan persiapan lomba; dia juga telah menang. Anak menang melawan rasa malas, takut mencoba, lelah, dan bosan. Maka, di samping predikat juara 1 sampai 3, seluruh peserta kompetisi sesungguhnya juga telah menjadi pemenang.
3. Jangan sampai kalah mental

ilustrasi pertandingan sepak bola (pexels.com/Ben Cheers) Kalah mental sangat berbahaya. Orang dengan kemampuan yang hebat di suatu bidang pun, jika kalah mental sebelum bertanding, akan dengan mudah dilibas lawan. Maka, di samping mengasah kemampuan anak, jangan lupa membangun mentalnya.
Agar sebanyak apa pun peserta lomba, ia tidak lantas gentar. Demikian juga dalam kompetisi-kompetisi yang mempertemukan peserta dari beragam sekolah bahkan usia. Anak mesti tetap bisa fokus dan menyelesaikan tugasnya hari itu.
4. Kalah dalam sportivitas lebih terhormat daripada menang dengan curang

ilustrasi tim sepak bola (pexels.com/Kampus Production) Baik anak maupun orangtua harus memiliki prinsip ini. Keinginan orangtua melihat anak menjadi pemenang jangan sampai membuatnya menghalalkan segala cara. Termasuk melakukan kecurangan-kecurangan guna mengungguli peserta lain.
Kemenangan dengan kecurangan seperti itu hanya semu. Sama sekali tidak menunjukkan kemampuan anak yang tinggi. Kalaupun sejumlah peserta curang, anak tidak perlu ikut-ikutan. Nanti malah menjadi kebiasaan dan anak gak pernah bisa menjadi juara jika pengawasan jalannya kompetisi sangat ketat.
5. Kegagalan tak perlu bikin takut mencoba lagi

ilustrasi persiapan bertanding (pexels.com/Sergey Platonov) Masalah umum pada anak yang ikut lomba adalah gampang semangat, tapi juga mudah kehilangan semangat. Apalagi kalau anak sudah capek-capek latihan atau belajar, tapi ternyata kalah. Ia merasa segala kerja kerasnya sia-sia.
Ini yang harus diantisipasi orangtua sejak dini. Beri tahu anak bahwa loyo setelah melihat pengumuman pemenang tanpa ada namanya memang wajar. Semua peserta yang kalah pasti merasakannya.
Akan tetapi, ke depan, saat ada kesempatan lagi, anak tidak perlu kapok mencoba. Beda event sudah beda cerita. Semua peserta punya peluang menang walaupun pernah gagal di kompetisi-kompetisi sebelumnya.
6. Berani mengakui keunggulan lawan juga bentuk kemenangan

ilustrasi pertandingan bela diri (pexels.com/Noel Snpr) Mengakui keunggulan lawan sangat sulit dilakukan oleh orang yang tidak memiliki mental pemenang. Ini menunjukkan rasa gengsi lebih besar daripada objektivitasnya. Sekalipun keunggulan lawan amat mencolok, ia tetap enggan mengakuinya.
Bahkan boleh jadi dia malah meremehkannya. Sikap begini jangan sampai ada dalam diri anak. Penyangkalan atas kehebatan lawan hanya akan mempersulitnya dalam belajar memperbaiki diri dan meningkatkan kemampuan.
Sesungguhnya lawan adalah buku yang terbuka. Baik kelebihan maupun kelemahannya selama pertandingan dapat menjadi bahan belajar yang sangat baik. Pengakuan atas kemampuan lawan juga membuat anak tidak sekadar mengikuti kompetisi di sana-sini, melainkan membangun pertemanan dengan sesama anak hebat.
7. Kemenangan terbesar ialah tetap rendah hati meski di posisi tertinggi

ilustrasi para pemenang (pexels.com/cottonbro studio) Bahaya kalau anak hanya didorong untuk berprestasi tanpa diimbangi dengan penanaman sifat rendah hati. Pencapaian sedikit saja sudah membuatnya pongah. Padahal, kesombongan memudahkannya terjatuh. Ia menjadi lengah bahwa di sekitarnya ada banyak anak yang tak kalah hebat.
Selalu sampaikan kepada anak bahwa setinggi apa pun prestasinya, dia tetap wajib rendah hati. Apa yang sudah dicapainya tidak akan kurang diakui hanya karena ia menjaga sikap agar tak terlalu menonjolkan diri. Pemenang sejati perlu fokus membangun prestasi. Selebihnya bergaul biasa dengan teman-teman.
Orangtua berperan besar dalam membangun mental anak. Meski guru atau pelatih juga akan membimbing anak, fokusnya lebih pada latihan untuk mengasah kemampuan. Maka tugas orangtua bukan hanya mengantar-jemput anak untuk latihan, tetapi juga mengajarkan mental juara yang perlu ditanamkan pada anak agar berprestasi.





















