- Creation of knowledge: institusi pendidikan perlu terus lahirkan gagasan dan pengetahuan baru, sehingga inovasi jadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia akademik.
- Transmission of knowledge: institusi pendidikan perlu menawarkan nilai yang benar-benar dibutuhkan mahasiswa.
- Curation of knowledge: institusi pendidikan perlu berperan mengubah fakta menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi peradaban.
Dari TELADAN ke Panggung Leadership, Ini Serunya Hari Pertama TSG 2026

Kalau selama ini kamu mungkin mengira beasiswa itu hanya soal keringanan biaya kuliah, serius deh, kamu itu keliru! Soalnya, sekarang ada beasiswa yang menawarkan jauh lebih banyak dari sekadar bantuan finansial. Yap, Beasiswa Kepemimpinan TELADAN besutan Tanoto Foundation hadir dengan konsep berbeda: selain menopang biaya pendidikan, program ini juga membuka jalan buat kamu mengasah potensi diri, membangun koneksi yang luas, sampai menyiapkan bekal karier begitu lulus nanti.
Bagi Tanoto Foundation, Beasiswa Kepemimpinan TELADAN bukanlah tujuan akhir, melainkan gerbang menuju proses berkembang yang lebih panjang. Lewat program ini, para Tanoto Scholar (sapaan bagi para penerima TELADAN) diajak untuk mengasah soft skills, memperluas relasi, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia pasca kampus.
Bicara soal TELADAN, kali ini IDN Times berkesempatan hadir langsung meliput rangkaian Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026 di Pangkalan Kerinci, Riau. Kira-kira, seseru apa sih momen di hari pertama acara ini? Keep scrolling!
1. Lebih dekat dengan perjalanan program dari TELADAN

Seperti yang telah dijelaskan Eddy Henry (Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation), TELADAN bukan hanya memberikan dukungan finansial lewat beasiswa saja, tapi juga berfokus pada pengembangan keterampilan kepemimpinan para Tanoto Scholar. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, program TELADAN menghadirkan perjalanan pembelajaran yang terbagi ke dalam tiga tahap utama, yakni Lead Self (semester 2–4), Lead Others (semester 5–6), dan Professional Preparation (semester 7–8).
Pada fase awal, Lead Self, para Tanoto Scholar diajak membangun self-awareness serta mengembangkan tujuan hidup dan aspirasi yang mampu menciptakan dampak bermakna, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Setelah melewati fase tersebut, para Tanoto Scholar kini memasuki fase Lead Others. Di fase ini, tujuan dan aspirasi yang telah dibangun mulai diwujudkan melalui kolaborasi, kepemimpinan, dan berbagai inisiatif yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Melalui beragam aktivitas pengembangan, para Tanoto Scholar juga didorong untuk mengasah kemampuan memimpin tim, berkomunikasi secara efektif, serta mengelola kolaborasi lintas latar belakang sebagai bekal menjadi pemimpin yang adaptif dan berdampak.
2. Inspirational talk bersama Menaker

Semangat hari pertama Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026 berlanjut melalui sesi inspirational talk bertajuk "Bertumbuh sebagai Talenta, Memberikan Dampak di Dunia Kerja dan Masyarakat" bersama Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Ir. Yassierli, Ph.D. Di hadapan para Tanoto Scholar, Menaker Yassierli menyoroti pentingnya menyiapkan generasi muda agar mampu menghadapi tantangan dunia kerja di masa depan.
Menurutnya, Indonesia akan menghadapi lonjakan besar jumlah penduduk usia produktif pada 2045 mendatang. Indonesia Emas 2045 bukan sekadar wacana, melainkan momentum krusial yang mengharuskan sumber daya manusia Indonesia dipersiapkan secara matang agar mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Pesan Menaker Yassierli

Di penghujung sesi, Menaker Yassierli turut menitipkan pesan khusus bagi para Tanoto Scholar yang hadir.
"Tentu saya ucapkan selamat kepada adik-adik semua, dan terima kasih kepada Tanoto Foundation yang telah memberikan kesempatan kepada adik-adik untuk tumbuh, dan bisa kemudian mendapatkan beasiswa dan seterusnya. Tadi saya menyampaikan, tiga pesan saya kepada para Tanoto Scholar: kunci sukses untuk menjadi leaders di Indonesia Emas 2045. Yang pertama adalah innovation mindset, memiliki mindset untuk terus melakukan inovasi. Yang kedua adalah growth mindset, memiliki mindset untuk terus bertumbuh, dan yang terakhir adalah future mindset, bagaimana berpikir tentang masa depan dan bisa memberikan kontribusi untuk masa depan," tutup Menaker.
3. Pemahaman kondisi economic bubble bersama Wamendiktisaintek

Lanjut, kita masuk ke sesi yang tak kalah ‘daging’ bersama Prof. Stella Christie, Ph.D., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, dalam inspirational talk “Transformasi Pendidikan dan Peningkatan Daya Saing Generasi Muda di Era Akal Imitasi (AI)”. Setidaknya, di hadapan 240 Tanoto Scholar yang hadir, Wamen Stella memaparkan kondisi economic bubble, kondisi saat value suatu aset naik terlalu tinggi, lalu mendadak turun drastis saat minat pasar menghilang. Pertanyaannya: apakah AI masuk dalam fenomena economic bubble atau tidak?
Jawabannya, mungkin. Pasalnya, kini kita sedang berada di fase di mana hampir semua permasalahan, pertanyaan, dan kebutuhan kita itu seolah bisa dijawab oleh AI. Sebut saja, mulai dari rumah sakit, perusahaan, bahkan sampai institusi pendidikan pun kini banyak memanfaatkan AI.
"Kalau semua jawaban dari semua pertanyaan itu hanya satu, saya rasa kita sedang berada di dalam bubble," ungkap Stella.
Pesan Wamen Stella
Menjawab hal tersebut, Wamen Stella menambahkan ketika sebuah institusi pendidikan menerapkan AI itu sebenarnya kembali bergantung dari apa yang diajarkan. Secara garis besar, apapun yang diajarkan (prodi/bidangnya), setidaknya ada tiga ‘resep’ supaya institusi pendidikan bisa tetap adaptif di tengah gempuran AI:
Lalu bagaimana dengan para Tanoto Scholar? Secara khusus, Wamen Stella ingatkan tentang pentingnya terus berkembang di era AI, terutama sebagai calon pemimpin di masa depan.
“AI dapat menyajikan jutaan informasi dalam hitungan detik. Namun, manusialah yang mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Itulah kompetensi yang harus dibangun oleh pemimpin muda: kemampuan mengkurasi pengetahuan untuk menghadirkan keputusan yang berdampak bagi masyarakat dan masa depan bangsa,” pesan Wamen Stella.
4. Tanoto Scholars Gathering Opening Ceremony
Sebagai penutup rangkaian hari pertama, Tanoto Scholars Gathering Opening Ceremony menjadi penanda pembukaan Tanoto Scholars Gathering 2026. Acara diawali dengan sambutan dari Eduward Ginting, Chief Operating Officer APRIL, dan Eddy Henry, Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyalaan obor oleh 10 Tanoto Scholar yang mewakili perguruan tinggi mitra Program TELADAN: IPB University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, Universitas Mulawarman, Universitas Riau, dan Universitas Sumatera Utara.
Lalu, seperti apa keseruan hari kedua Tanoto Scholars Gathering 2026? Nantikan cerita selengkapnya di artikel berikutnya! (WEB/AD)





















