Momen akhir tahun identik dengan menghabiskan waktu bersama keluarga dan kerabat. Namun tentu saja, momen tersebut tidak selamanya menyenangkan. Terkadang, kamu bertemu pihak keluarga yang menyebalkan, sok tahu, dan hobi ikut campur urusan personal.
3 Alasan Toksik Seseorang Menghindari Gesekan dalam Keluarga

- Banyak orang memilih memendam perasaan agar terhindar dari ketegangan saat berinteraksi dengan keluarga, padahal hal itu bisa menumpuk dan memicu konflik lebih besar di kemudian hari.
- Kecenderungan untuk selalu menyenangkan hati keluarga sering membuat seseorang mengorbankan kesejahteraan diri sendiri, yang akhirnya berdampak pada harga diri dan kesehatan emosional.
- Idealisasi terhadap gambaran keluarga sempurna membuat sebagian orang takut menghadapi konflik, padahal perbedaan justru bisa menjadi ruang tumbuh dan memperkuat hubungan antaranggota keluarga.
Menariknya, seringkali kita memendam diri agar tidak terlibat konflik. Kelihatannya cara seperti ini baik dan bijak, tapi sebetulnya, memendam-mendam malah berpotensi membuat ledakan yang lebih besar.
Tidak apa-apa, lho, cut off orang-orang toksik dalam hidup kita. Tak terkecuali, keluarga sendiri. Biasanya, orang-orang memilih untuk menahan-nahan karena tiga alasan umum di bawah. Relate, nggak, menurutmu?
1. Gak mau terjebak dalam perasaan tidak nyaman

Manusia cenderung menghindari perasaan tidak nyaman—entah fisikal maupun emosional. Tentu saja, terlibat gesekan, perdebatan, dan perbedaan pendapat bisa menghadirkan situasi yang menegangkan. Bisa jadi, ini salah satu alasan mengapa sampai hari ini kamu lebih memilih untuk memendam dibanding mengekspresikan perasaanmu pada keluarga.
Contoh sederhana, saat kumpul keluarga dan paman-bibimu menanyakan “kapan nikah?” berulang-ulang. Sejujurnya, hal ini membuatmu merasa direndahkan dan tidak nyaman, tapi dibanding konflik, kamu memilih untuk mengangguk sopan.
Tidak apa-apa mengekspresikan perasaan tidak nyamanmu, selama disampaikan dengan sopan dan tidak menyinggung. Kamu juga berhak untuk mengekspresikan perasaanmu dan membangun batasan yang sehat. Rasa tidak nyaman dalam hubungan adalah lumrah, justru itu yang membuatmu semakin kuat.
2. Kecenderungan untuk menyenangkan hati orang

Banyak orang merasa tekanan yang sangat besar dari pasangan, saudara kandung, atau orantua untuk menutupi konflik demi menjaga keutuhan keluarga. Akhirnya, kamu terbiasa dewasa jadi orang yang memendam kebutuhan diri demi menyenangkan orang lain.
Padahal, mengorbankan kesejahteraan diri sendiri untuk membahagiakan orang lain bisa menciptakan dinamika hubungan yang tidak sehat. Awalnya hanya memendam, tapi lama-lama, perasaan itu bisa bertumbuh dan menyebabkan gejolak batin dan gangguan signifikan terhadap harga diri.
Pada beberapa istuasi, kamu perlu untuk membela dirimu. Itu bukan egois, melainkan wujud sikap respect pada diri sendiri.
3. Idealisasi untuk punya gambaran keluarga yang sempurna

Kita semua pasti ingin punya keluarga sempurna layaknya gambaran film-film: tidak pernah bertengkar dan selalu mendukung satu sama lain. Namun, memendam kepentingan diri demi mempertahankan idealisasimu juga bukan sikap bijak.
Tidak ada hubungan yang benar-benar sempurna. Justru, kehadiran konflik bisa membuka celah dalam keluarga dan mengungkap masalah di dalamnya. Dari situ, kalian akan tumbuh jadi pribadi yang dewasa.
Tiga hal di atas merupakan alasan umum mengapa seseorang menghindari konflik. Tetapi, jangan sampai itu dibiasakan terjadi. Ingatlah bahwa konflik dalam keluarga adalah hal yang normal, kamu tidak perlu menghindar apalagi menahan diri. Kamu berhak untuk membangun batasan, bahkan terhadap keluargamu.


![[QUIZ] Kami Tahu Siapa Member EXO yang Paling Cocok Jadi Sahabatmu](https://image.idntimes.com/post/20201223/wp4253073-034ce8bd7d81b429d0ad80f4c4e96890.jpg)
![[QUIZ] Kami Tahu Siapa Member EXO yang Cocok Jadi Pacarmu](https://image.idntimes.com/post/20201202/7c6733763316458d9e4691cacabf1349-8645a346c6d3bf1790d5bcdaee514e19.jpeg)














