Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Anak Lebih Mudah Mabuk Perjalanan, Orangtua Wajib Tahu!

5 Alasan Anak Lebih Mudah Mabuk Perjalanan, Orangtua Wajib Tahu!
ilustrasi anak kecil di dalam mobil (freepik.com/prostooleh)
Intinya Sih
  • Anak lebih mudah mabuk perjalanan karena sistem keseimbangan tubuhnya masih berkembang, membuat otak belum stabil memproses sinyal gerakan dari telinga dan mata.
  • Ketidaksesuaian sinyal antara mata dan telinga bagian dalam menyebabkan otak bingung, memicu rasa mual, pusing, hingga ketidaknyamanan selama perjalanan.
  • Faktor seperti posisi duduk terbatas, aktivitas membaca atau melihat layar, serta sensitivitas tinggi terhadap gerakan kendaraan memperparah gejala mabuk perjalanan pada anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mabuk perjalanan merupakan kondisi yang cukup sering dialami anak saat melakukan perjalanan menggunakan mobil, bus, kapal, atau pesawat. Kondisi ini biasanya ditandai dengan rasa mual, pusing, keringat dingin, hingga keinginan untuk muntah. Pada beberapa anak, gejala tersebut dapat langsung muncul saat kendaraan mulai bergerak.

Fenomena ini sebenarnya berkaitan dengan cara tubuh memproses sinyal gerakan yang diterima oleh mata, telinga bagian dalam, dan otak. Pada anak-anak, sistem keseimbangan tubuh masih dalam tahap perkembangan sehingga respons terhadap gerakan sering kali lebih sensitif. Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut di bawah ini!

1. Sistem keseimbangan tubuh yang masih berkembang

ilustrasi orangtua dan anak
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Gustavo Fring)

Salah satu alasan utama anak lebih mudah mengalami mabuk perjalanan berkaitan dengan perkembangan sistem keseimbangan tubuh. Bagian telinga dalam yang berfungsi mendeteksi gerakan tubuh masih terus berkembang selama masa kanak-kanak. Struktur ini dikenal sebagai vestibular system yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan.

Ketika kendaraan bergerak, tubuh merasakan perubahan gerakan yang terus menerus. Pada anak, otak terkadang belum mampu memproses sinyal tersebut dengan stabil sehingga muncul rasa pusing dan mual. Sensitivitas yang lebih tinggi terhadap gerakan inilah yang sering membuat anak lebih cepat merasakan gejala mabuk perjalanan dibandingkan orang dewasa.

2. Ketidaksesuaian sinyal antara mata dan otak

ilustrasi berpergian bersama keluarga
ilustrasi berpergian bersama keluarga (pexels.com/Kampus Production)

Mabuk perjalanan juga sering terjadi karena adanya perbedaan informasi yang diterima oleh mata dan telinga bagian dalam. Saat berada di dalam kendaraan, tubuh sebenarnya sedang bergerak tetapi mata mungkin melihat lingkungan yang tampak relatif diam di dalam kabin. Perbedaan sinyal tersebut dapat membingungkan otak.

Kondisi ini dikenal dalam ilmu kesehatan sebagai sensory conflict. Otak berusaha menyesuaikan berbagai sinyal yang diterima dari sistem penglihatan dan sistem keseimbangan tubuh. Pada anak-anak, proses penyesuaian ini sering belum berjalan sempurna sehingga memicu munculnya rasa mual, pusing, atau ketidaknyamanan selama perjalanan.

3. Posisi duduk yang membatasi pandangan

ilustrasi anak kecil di dalam mobil
ilustrasi anak kecil di dalam mobil (unsplash.com/Daisy D)

Posisi duduk juga dapat memengaruhi kemungkinan anak mengalami mabuk perjalanan. Anak sering duduk di kursi belakang kendaraan dengan pandangan yang terbatas terhadap jalan di depan. Kondisi ini membuat mata sulit mengikuti arah gerakan kendaraan secara jelas.

Ketika pandangan tidak selaras dengan gerakan tubuh, otak lebih sulit memahami perubahan posisi yang terjadi selama perjalanan. Akibatnya tubuh dapat merespons dengan gejala mual atau pusing. Pandangan yang terbatas terhadap lingkungan sekitar sering memperkuat efek motion perception mismatch yang memicu mabuk perjalanan.

4. Aktivitas membaca atau melihat layar selama perjalanan

ilustrasi bermain gadget
ilustrasi bermain gadget (freepik.com/wirestock)

Beberapa anak senang membaca buku atau menggunakan gawai selama perjalanan. Aktivitas ini sebenarnya dapat meningkatkan risiko mabuk perjalanan karena mata fokus pada objek yang tidak bergerak. Sementara itu tubuh tetap merasakan gerakan kendaraan yang terus berubah.

Perbedaan informasi yang diterima oleh mata dan sistem keseimbangan tubuh menjadi semakin jelas dalam kondisi tersebut. Otak harus memproses dua sinyal yang saling bertentangan secara bersamaan. Situasi ini dapat memperparah gejala motion sickness sehingga rasa mual muncul lebih cepat.

5. Sensitivitas tubuh terhadap gerakan kendaraan

ilustrasi anak kecil ada di dalam mobil
ilustrasi anak kecil ada di dalam mobil (freepik.com/freepik)

Setiap anak memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap gerakan kendaraan. Sebagian anak memiliki respons tubuh yang lebih kuat terhadap perubahan kecepatan, tikungan tajam, atau getaran selama perjalanan. Sensitivitas ini sering dipengaruhi oleh faktor biologis dan perkembangan sistem saraf.

Gerakan kendaraan yang tidak stabil dapat memicu reaksi pada pusat keseimbangan di otak. Respons tersebut kemudian menimbulkan gejala seperti pusing, keringat dingin, serta rasa tidak nyaman pada perut. Sensitivitas terhadap gerakan ini juga berkaitan dengan respons tubuh terhadap vestibular stimulation yang lebih kuat.

Mabuk perjalanan pada anak merupakan kondisi yang cukup umum dan biasanya tidak berbahaya. Faktor perkembangan sistem keseimbangan, perbedaan sinyal sensorik, hingga posisi duduk dapat memengaruhi munculnya gejala tersebut. Dengan memahami berbagai penyebabnya, orang tua dapat lebih mudah mencari cara untuk membantu anak merasa lebih nyaman selama perjalanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More