Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Berkomunikasi dengan Orang Alzheimer agar Mereka Nyaman

5 min read
5 Cara Berkomunikasi dengan Orang Alzheimer agar Mereka Nyaman
Ilustrasi mengobrol dengan orang tua (pexels.com/Ron Lach)
  • Alzheimer dapat mengganggu pemahaman percakapan, pencarian kata, dan ingatan; keluarga perlu memahami bahwa perubahan komunikasi bukan dilakukan dengan sengaja.
  • Komunikasi dianjurkan memakai kalimat singkat, satu informasi dalam satu waktu, pertanyaan sederhana, serta memberi waktu ekstra agar mereka dapat merespons tanpa disela.
  • Keluarga perlu menghindari debat dan koreksi berlebihan, memakai bahasa tubuh hangat, mengurangi distraksi, serta tetap melibatkan orang dengan Alzheimer dalam percakapan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Alzheimer tidak hanya memengaruhi daya ingat, tetapi juga kemampuan seseorang dalam memahami percakapan, menemukan kata yang tepat, menyampaikan pikiran, hingga mengikuti pembicaraan. Seiring perkembangan penyakit, cara seseorang berkomunikasi pun dapat berubah. Mereka mungkin mengulang pertanyaan yang sama, lupa nama orang terdekat, kehilangan alur pembicaraan, atau kesulitan menjelaskan apa yang sedang dirasakan. National Institute on Aging (NIA) menyebut perubahan perilaku dan komunikasi sebagai bagian yang umum terjadi pada penyakit Alzheimer.

Bagi keluarga, perubahan tersebut terkadang dapat menimbulkan rasa sedih, bingung, bahkan frustrasi. Namun, penting untuk mengingat bahwa kesulitan tersebut bukan dilakukan dengan sengaja. Menyesuaikan cara berkomunikasi dapat membantu anggota keluarga dengan Alzheimer merasa lebih aman, dihargai, dan tetap terhubung dengan orang-orang terdekatnya. Berikut lima cara yang dapat diterapkan saat berkomunikasi dengan anggota keluarga yang hidup dengan Alzheimer.

  1. 1. Berbicara dengan kalimat yang sederhana dan jelas

    Ilustrasi berbicara dengan sopan
    Ilustrasi berbicara dengan sopan (pexels.com/Ron Lach)

    Saat berbicara dengan anggota keluarga yang memiliki Alzheimer, usahakan menggunakan kalimat pendek, sederhana, dan mudah dipahami. Berikan satu informasi atau pertanyaan pada satu waktu. Daripada mengatakan, “Setelah makan, mandi, lalu ganti baju karena nanti kita akan pergi ke rumah dokter,” lebih baik sampaikan langkah tersebut satu per satu. Terlalu banyak informasi sekaligus dapat membuat seseorang kesulitan memahami dan mengingat apa yang harus dilakukan.

    Alzheimer's Association juga menyarankan keluarga berbicara secara perlahan dan jelas serta memberikan instruksi secara bertahap ketika diperlukan. Pertanyaan sederhana juga dapat membantu. Misalnya, daripada bertanya, “Kamu ingin minum apa?”, kamu dapat memberikan pilihan yang lebih mudah seperti, “Mau teh?” Pertanyaan yang dapat dijawab dengan “ya” atau “tidak” mungkin lebih mudah diproses ketika kemampuan komunikasi mulai menurun.

  2. 2. Berikan waktu lebih lama untuk menjawab

    Ilustrasi sedang bertanya
    Ilustrasi sedang bertanya (pexels.com/Antoni Shkraba)

    Jangan terburu-buru mengisi keheningan ketika anggota keluarga tampak kesulitan menjawab pertanyaan. Orang dengan Alzheimer mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk memahami perkataan, mengingat informasi, atau menemukan kata yang ingin digunakan. Memotong pembicaraan atau terus memberikan pertanyaan baru justru dapat membuat mereka semakin bingung atau tertekan.

    Berikan kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan perkataannya sendiri. Tatap dengan tenang, dengarkan, dan tunjukkan bahwa kamu tidak sedang terburu-buru. NIA menyarankan keluarga memberikan waktu tambahan untuk merespons serta menghindari menyela atau berdebat. Kesabaran kecil dalam percakapan dapat membantu menjaga rasa percaya diri dan membuat orang dengan Alzheimer merasa tetap didengarkan.

  3. 3. Hindari berdebat atau terlalu sering mengoreksi

    Ilustrasi bertanya dengan sabar
    Ilustrasi bertanya dengan sabar (pexels.com/SHVETS production)

    Anggota keluarga dengan Alzheimer mungkin mengatakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan, salah menyebut nama, atau mengingat suatu peristiwa secara berbeda. Naluri pertama kita mungkin ingin langsung memperbaikinya. Namun, terus-menerus mengatakan, “Itu salah,” atau “Kamu kan sudah diberi tahu tadi,” dapat membuat mereka malu, frustrasi, atau merasa tidak dimengerti.

    Tidak semua kesalahan harus dikoreksi, terutama jika informasi tersebut tidak membahayakan siapa pun. Jika anggota keluarga mengulang pertanyaan yang sama, jawablah kembali dengan tenang atau arahkan perhatiannya ke aktivitas lain. NIA dan Alzheimer's Association sama-sama menyarankan untuk menghindari berdebat atau terus mengoreksi orang dengan Alzheimer. Fokuslah pada perasaan di balik perkataannya daripada berusaha memenangkan perdebatan mengenai fakta.

  4. 4. Gunakan kontak mata, ekspresi, dan bahasa tubuh

    Ilustrasi mengobrol dengan kontak mata
    Ilustrasi mengobrol dengan kontak mata (pexels.com/RDNE Stock project)

    Komunikasi tidak selalu harus melalui kata-kata. Ketika kemampuan berbicara seseorang mulai berkurang, ekspresi wajah, kontak mata, nada suara, sentuhan yang nyaman, dan gerakan tubuh dapat menjadi semakin penting. Saat berbicara, usahakan berada di posisi yang mudah terlihat, panggil namanya, dan lakukan kontak mata. Hindari berbicara dari ruangan lain karena mereka mungkin kesulitan mengetahui siapa yang sedang berbicara atau memahami konteks percakapan.

    Nada suara juga perlu diperhatikan. Berbicaralah dengan tenang dan hindari menunjukkan kemarahan atau ketegangan meskipun pertanyaan yang sama sudah ditanyakan berkali-kali. NIA menyarankan penggunaan nama orang tersebut, kontak mata, serta sikap terbuka terhadap kekhawatirannya. Selain membantu menyampaikan pesan, bahasa tubuh yang hangat dapat memberikan rasa aman ketika kata-kata semakin sulit dipahami.

  5. 5. Kurangi gangguan dan ciptakan suasana yang nyaman

    Ilustrasi membangun suasana nyaman
    Ilustrasi membangun suasana nyaman (pexels.com/RDNE Stock project)

    Lingkungan sangat memengaruhi kemampuan seseorang dengan Alzheimer untuk mengikuti percakapan. Televisi yang menyala, musik terlalu keras, banyak orang berbicara bersamaan, atau ruangan yang ramai dapat menjadi distraksi. Jika ingin membicarakan sesuatu yang penting, pilih tempat yang lebih tenang sehingga anggota keluarga dapat memusatkan perhatian kepada orang yang sedang berbicara.

    Alzheimer's Association merekomendasikan percakapan satu lawan satu di tempat yang tenang dengan gangguan seminimal mungkin, terutama ketika penyakit memasuki tahap menengah. Selain itu, masalah pendengaran atau penglihatan juga dapat membuat komunikasi semakin sulit sehingga pemeriksaan fungsi tersebut dapat menjadi penting. Lingkungan yang nyaman bukan hanya membuat percakapan lebih mudah, tetapi juga dapat mengurangi kebingungan serta rasa kewalahan.

    Kesulitan berkomunikasi bukan berarti seseorang dengan Alzheimer tidak lagi memiliki perasaan atau tidak memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Hindari membicarakan kondisinya di depan mereka seolah-olah mereka tidak ada. Libatkan mereka dalam percakapan dan aktivitas keluarga sesuai kemampuan yang masih dimiliki. NIA secara khusus menyarankan agar orang dengan Alzheimer tidak dikeluarkan dari percakapan atau dibicarakan seakan-akan mereka tidak hadir.

    Pada akhirnya, komunikasi dengan anggota keluarga yang memiliki Alzheimer bukan tentang mendapatkan percakapan yang selalu sempurna. Tujuan utamanya adalah mempertahankan hubungan, memberikan rasa aman, dan membantu mereka merasa tetap dihargai. Berbicara dengan sederhana, memberikan waktu untuk menjawab, menghindari perdebatan, menggunakan bahasa tubuh yang hangat, serta menciptakan lingkungan yang tenang dapat membuat interaksi sehari-hari terasa jauh lebih nyaman bagi seluruh keluarga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More