5 Cara Lindungi Energi Emosional dari Anggota Keluarga yang Toksik

- Ubah standar privasi hidupmu, jaga mana yang bisa dibagi dan tidak.
- Berhenti menantang anggota keluarga dalam percakapan, alihkan topik pembicaraan pada hal lain.
- Buat batasan yang jelas saat kumpul keluarga, sampaikan batas jam malam dan tempat pertemuan yang lebih netral.
Tidak semua keluarga memiliki kondisi ideal. Ada yang suka memaksa kehendak, ada yang suka ikut campur berlebih. Hubungan ikatan darah selalu menjadi alasan untuk bersikap seenaknya. Ini yang membuat beberapa orang mudah merasa tertekan, stres, dan khawatir.
Ada beberapa cara bijak yang bisa kamu lakukan untuk mengendalikan perasaanmu dari anggota keluarga toksik. Dibanding buang-buang energi meladeni tipe rang seperti ini, coba terapkan lima langkah di bawah.
1. Ubah standar privasi hidupmu

Ada tipe anggota keluarga yang sangat jelas tidak bisa menjaga privasi. Ia pasti membagikannya pada orang lain, memberi nasihat yang tidak kamu inginkan, atau bahkan, membuat penghakiman yang keras. Hal ini bisa jadi beban untuk diri sendiri.
Salah satu cara untuk mengatasinya adalah memperkuat privasi hidupmu. Bukan berarti main sembunyi-sembunyi, maksudnya ialah kamu perlu bijak dalam memilah mana yang bisa dibagi, mana yang tidak. Apalagi pada keluarga besar, sadari bahwa tidak semua hal bisa diceritakan.
2. Berhenti menantang anggota keluarga dalam percakapan

Saat kumpul keluarga, pastinya ada saat-saat dimana kita harus menghadapi percakapan sulit dengan orang menyebalkan. Entah tentang pasangan hidup, pertanyaan “kapan nikah?” dan masih banyak lagi. Dalam situasi seperti ini, tidak perlu berusaha untuk menjelaskan atau membela diri.
Hal itu hanya akan buang-buang energi emosionalmu. Lebih baik, alihkan topik pembicaraan pada hal lain. Kamu bisa mengembalikan topik pembicaraan membahas tentang hidup lawan bicara, atau membahas hal lain yang lebih “netral”. Dengan demikian, ini mengurangi ketegangan dalam situasi kumpul keluarga.
3. Buat batasan yang jelas saat kumpul keluarga

Tidak bisa dipungkiri, beberapa orang dewasa seringkali bersikap seenaknya dalam kumpul keluarga. Bukan hanya tentang menggiring topik percakapan atau obrolan, melainkan juga sikap yang tidak etis dan melanggar batasan privasimu.
Tidak apa-apa, lho, menegaskan ulang batasan ini pada lawan bicara. Misal, ketika kumpul keluarga, sampaikan batas jam malam agar semua tamu bisa pulang tepat waktu. Atau, alihkan tempat pertemuan keluarga dari rumah-rumah ke restoran umum. Hal ini akan secara alami membatasi durasi dan intensitas pertemuan.
4. Mulai dari hal-hal kecil

Mengurangi kontak tidak harus langsung cut off orang tersebut secara drastis dan dramatis. Hal tersebut malah memicu semakin banyak drama. Mulailah dari hal kecil namun konsisten, seperti mengurangi waktu kunjungan, atau mengidentifikasi area minat bersama untuk menggantikan topik sulit. Perubahan kecil seperti ini walau sederhana, tapi menciptakan kelegaan.
Kamu tetap bisa membangun hubungan yang sehat dengan anggota keluargamu tanpa harus banyak makan hati. Jangan sekali-sekali kendor, tapi tetap setia dengan prinsip dan batasanmu.
5. Memutus hubungan secara emosional

Ucapan, pendapat, dan sikap orang berada di luar kendalimu. Yang bisa ada dalam kendalimu ialah bagaimana cara kamu mengelola perasaan. Memutus hubungan secara emosional berarti, kamu menyadari dan mengambil keputusan secara sengaja untuk berhenti mengambil hati setiap ucapan anggota keluargamu.
Tidak ada keluarga yang sempurna. Dinamika hubungan akan selalu terjadi, tapi bukan berarti kamu harus selalu lari darinya. Kamu tetap bisa menghadapi dan beradaptasi dengan dinamika keluargamu dengan menerapkan lima hal di atas. Jaga selalu perasaanmu, ya!

















