“Hari ini, secara khusus merayakan ikatan muslim Batak. Kami menyoroti kain Abit Godang, warna kemewahan masyarakat Tapanuli Selatan,” katanya dalam Preview Ramadan Colletion Tobatenun di Sopo Del Tower, Rabu (11/2/2026).
Tobatenun Hidupkan Tenun Abit Godang dalam Koleksi Raya, Sarat Makna!

- Abit Godang, kain tenun kemewahan dari Tapanuli Selatan
- Wastra Sumatra Utara diolah ulang dengan pendekatan desainer kontemporer
- Jejak akulturasi dalam setiap helai benang sebagai refleksi inklusifitas Ramadan
Jakarta, IDN Times - Ramadan selalu menjadi ruang pulang pada nilai, tradisi, dan akar budaya yang membentuk identitas. Selaras dengan hal tersebut, tahun ini Tobatenun menyambut bulan suci dengan cara yang lebih reflektif dan penuh makna melalui koleksi Raya yang mengangkat Abit Godang, kain tenun khas Sumatra Utara yang lahir dari tanah Tapanuli Selatan.
Di tengah semarak Raya yang identik dengan warna, silaturahmi, dan kebahagiaan, Tobatenun menghadirkan sesuatu yang lebih dalam, yakni kisah tentang teknik, rona, dan jejak akulturasi yang hidup di setiap helai benang. Bukan sekadar koleksi busana, melainkan narasi budaya yang dirajut ulang untuk generasi hari ini.
1. Abit Godang, kain tenun dengan warna kemewahan dari Tapanuli Selatan

Abit Godang bukan sekadar kain. Ia adalah simbol status, sejarah, dan kebanggaan masyarakat Tapanuli Selatan. Dikenal dengan teknik tenun yang kompleks dan warna-warna berkarakter kuat, kain ini merepresentasikan kemewahan yang berakar pada tradisi. Kerri Na Basaria, CEO dan Founder Tobatenun pun, menegaskan nilai tersebut.
Melalui koleksi Raya ini, Tobatenun tidak hanya mengangkat estetika, tetapi juga identitas. Jenama milik anak Luhut Panjaitan tersebut, menghadirkan kembali warisan yang mungkin jarang tersorot dalam lanskap fashion nasional.
2. Wastra Sumatra Utara dalam tafsir desainer kontemporer

Keunikan Tobatenun terletak pada pendekatan kolaboratifnya. Wastra Sumatra Utara diolah kembali oleh para desainer yang tergabung, menghasilkan karya yang tetap setia pada akar, namun relevan dengan gaya modern.
“Wastra Sumatra Utara diolah jadi karya unik oleh para desainer yang tergabung,” ujar Kerri.
Dalam koleksi Raya ini, Abit Godang diterjemahkan ke dalam siluet yang lebih ringan, fleksibel, dan mudah dikenakan saat momen buka puasa, silaturahmi, hingga perayaan Idul Fitri. Tradisi tidak dibingkai kaku karena ia bergerak, bernapas, dan mengikuti ritme kehidupan urban.
3. Jejak akulturasi dalam setiap helai benang

Tanah Tapanuli Selatan dikenal sebagai ruang pertemuan budaya antara Batak, Melayu, hingga pengaruh Islam yang kuat, yang membentuk identitas masyarakatnya. Abit Godang menjadi refleksi akulturasi tersebut, baik dalam motif, struktur, maupun pilihan warna.
Koleksi Raya Tobatenun pun menangkap semangat ini sebagai bentuk perayaan inklusif. Ramadan bukan hanya milik satu kelompok, melainkan ruang kebersamaan lintas latar. Pesan ini terasa relevan di tengah keberagaman Indonesia, bahwa wastra dapat menjadi bahasa universal yang menyatukan.
“Raya, bulan kebahagiaan untuk semua lapisan masyarakat,” tutur Kerri.
4. Ramadan sebagai momentum refleksi dan kebanggaan identitas

Mengangkat Abit Godang dalam koleksi Ramadan memiliki makna simbolik. Ramadan adalah bulan perenungan dan dalam konteks ini, Tobatenun mengajak masyarakat untuk kembali melihat akar budaya sebagai sumber kekuatan.
Perayaan Raya sering kali identik dengan tren global dan busana instan. Namun, koleksi ini mengingatkan bahwa kemewahan sejati lahir dari proses, dari tangan para penenun, dari teknik turun-temurun, dari cerita yang diwariskan lintas generasi. Dengan mengangkat kain khas Batak Muslim, Tobatenun juga memperkuat narasi bahwa identitas Batak dan Islam berjalan berdampingan dalam harmoni sejarah.
5. Semangat tahun Kuda dan energi baru di bulan suci

Menariknya, koleksi ini hadir di momentum yang juga beririsan dengan semangat Tahun Kuda sebagai simbol energi, keberanian, dan pergerakan maju. Semangat ini terasa selaras dengan filosofi Tobatenun: bergerak maju tanpa meninggalkan akar. Seperti kuda yang berlari mantap, koleksi Raya ini membawa Abit Godang melintasi batas generasi dari tradisi menuju masa depan.
“Selamat menyambut tahun kuda dan bulan Ramadan,” pungkas Kerri.
Melalui koleksi Raya yang mengangkat Abit Godang, Tobatenun tidak hanya menghadirkan busana untuk Ramadan, tetapi juga ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Setiap lipatan kain membawa cerita, setiap warna menyimpan makna, dan setiap siluet menjadi perpanjangan identitas yang dirayakan dengan bangga.
Di bulan yang suci dan penuh cahaya ini, Tobatenun mengingatkan bahwa merayakan Raya bukan hanya tentang apa yang dikenakan, tetapi tentang nilai yang dijaga. Dan dalam tenun Abit Godang, kita menemukan keduanya, keindahan dan warisan, yang berjalan berdampingan.

















