Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Kebiasaan Kecil yang Menandakan Anak Suka dengan Dunia Literasi
ilustrasi ibu dan anak membaca (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Minat literasi anak dapat terlihat saat mereka memilih buku sendiri, meminta cerita favorit dibacakan berulang, dan menjadikan buku sebagai aktivitas menyenangkan tanpa paksaan.
  • Rasa ingin tahu terhadap cerita dan tulisan di sekitar menunjukkan anak mulai memahami informasi, terutama ketika mereka bertanya, menghubungkan isi cerita, atau memperhatikan teks sehari-hari.
  • Anak juga aktif mengolah literasi ketika menceritakan kembali isi buku atau menciptakan tokoh serta alur sendiri melalui gambar dan cerita imajinatif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membiasakan anak dekat dengan buku memang gak selalu langsung terlihat hasilnya. Hari ini mungkin anak mau duduk membaca, besok malah sibuk bermain dan bukunya ditinggalkan begitu saja. Jadi, kalau kamu sedang menunggu tanda bahwa anak mulai menyukai dunia literasi, coba perhatikan kebiasaan-kebiasaan kecil yang muncul dalam kesehariannya.

Anak yang mulai menikmati literasi juga gak harus selalu terlihat sedang membaca buku. Rasa suka itu bisa muncul lewat banyak cara, mulai dari penasaran dengan tulisan, senang mendengarkan cerita, sampai tiba-tiba membuat cerita sendiri. Kalau beberapa tanda ini mulai muncul, bisa jadi kamu sedang melihat tumbuhnya kebiasaan literasi yang keren banget.

1. Mulai memilih buku sendiri

ilustrasi anak membaca buku (pexels.com/Thirdman)

Salah satu tanda yang cukup mudah terlihat adalah ketika anak mulai punya pilihan sendiri soal buku yang ingin dibaca. Mereka mungkin menarik satu buku dari rak, membawa buku kesukaannya kepada orang tua, atau bahkan meminta cerita yang sama dibacakan berkali-kali. Pilihan bukunya mungkin terasa random bagi orang dewasa, tetapi justru dari situlah minat membaca mulai terbentuk.

Kamu gak perlu memaksa anak membaca buku yang menurutmu lebih 'bermanfaat'. Kalau mereka suka cerita tentang hewan, kendaraan, dinosaurus, atau tokoh superhero, biarkan dulu rasa penasaran itu berkembang. Ketika anak punya kesempatan memilih bacaan yang mereka sukai, buku bisa terasa seperti sesuatu yang ingin mereka datangi, bukan tugas yang harus diselesaikan.

2. Suka bertanya tentang cerita

ilustrasi anak membaca (pexels.com/Artem Podrez)

Anak yang mulai menikmati bacaan biasanya gak cuma mendengarkan cerita sampai selesai. Mereka mulai bertanya, 'Kenapa dia pergi?', 'Terus kenapa?', 'Itu siapa?', atau bahkan mempertanyakan sesuatu yang menurut orang dewasa gak kepikiran. Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini menunjukkan bahwa mereka sedang mencoba memahami dan menghubungkan informasi dari cerita.

Jangan buru-buru menganggap pertanyaan tersebut sebagai gangguan. Justru rasa penasaran itu bisa menjadi bahan bakar yang membuat anak semakin tertarik pada buku dan cerita. Kamu bisa balik bertanya, 'Menurut kamu kenapa begitu?' supaya anak gak hanya mencari jawaban dari orang dewasa, tetapi juga belajar membangun pemikirannya sendiri.

3. Minta dibacakan cerita berulang-ulang

ilustrasi anak membaca buku (pexels.com/Mikhail Nilov)

'Tolong bacain yang ini lagi!' Kalau kalimat tersebut mulai sering terdengar, mungkin kamu sudah punya satu buku yang statusnya naik kelas menjadi buku favorit anak. Mereka bisa meminta cerita yang sama berkali-kali, bahkan sampai hafal bagian tertentu dari ceritanya.

Bagi orang dewasa, mengulang cerita yang sama mungkin terasa membosankan. Bagi anak, pengulangan justru bisa membuat mereka semakin akrab dengan tokoh, kosakata, alur, dan detail cerita. Jadi, kalau buku yang sama kembali disodorkan untuk kesekian kalinya, anggap saja itu salah satu bentuk apresiasi anak terhadap sebuah cerita.

4. Mulai tertarik pada tulisan di sekitar

ilustrasi orang tua dan anak membaca buku (pexels.com/Kamaji Ogino)

Coba perhatikan ketika sedang berjalan bersama anak. Apakah mereka mulai bertanya tentang tulisan di papan nama, kemasan makanan, spanduk, poster, atau tulisan yang mereka lihat di tempat umum? Kalau iya, jangan sepelekan rasa penasaran tersebut karena literasi memang gak hanya hidup di halaman buku.

Anak mulai memahami bahwa tulisan punya makna dan bisa memberikan informasi tentang sesuatu. Kamu bisa memanfaatkan momen sederhana ini untuk mengajaknya membaca bersama tanpa membuatnya terasa seperti sedang belajar. Misalnya saat melihat tulisan 'STOP', kamu bisa bertanya, 'Kamu tahu tulisan itu artinya apa?' Belajar membaca pun terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

5. Suka menceritakan kembali isi buku

ilustrasi ibu dan anak membaca (pexels.com/Lina Kivaka)

Setelah membaca cerita, anak mungkin tiba-tiba bercerita kepada orang lain tentang apa yang baru saja ia dengar. Bisa kepada ayah, ibu, saudara, teman, bahkan boneka kesayangannya. Ceritanya mungkin gak persis sama seperti yang ada di buku, tetapi anak sedang mencoba mengingat dan menyusun kembali informasi menggunakan bahasanya sendiri.

Kebiasaan ini menarik karena anak gak hanya menerima cerita secara pasif. Mereka mulai mengolahnya, memilih bagian yang dianggap menarik, lalu menyampaikannya kembali. Kamu bisa ikut masuk ke ceritanya dengan pertanyaan seperti, 'Terus setelah itu apa?' atau 'Bagian mana yang paling kamu suka?' Percakapan sederhana ini bisa membuat anak semakin menikmati aktivitas bercerita.

6. Mulai membuat cerita sendiri

ilustrasi anak membaca (pexels.com/cottonbro studio)

Pernah melihat anak mengambil beberapa lembar kertas lalu menggambar sesuatu dan mengatakan, 'Ini ceritanya...'? Jangan buru-buru menganggapnya sekadar bermain. Ketika anak mulai membuat tokoh, memberi nama, menciptakan kejadian, atau menyusun cerita sendiri, mereka sedang menggunakan imajinasi sekaligus kemampuan berbahasa.

Cerita yang dibuat anak juga gak harus masuk akal. Bisa saja seekor kucing pergi ke bulan, dinosaurus berjualan es krim, atau mobil bisa berbicara dengan manusia. Biarkan saja imajinasi itu berkembang. Kamu bisa membantu dengan pertanyaan sederhana seperti, 'Siapa tokohnya?', 'Dia sedang pergi ke mana?', dan 'Setelah itu terjadi apa?' Dari sana, cerita kecil bisa berubah menjadi petualangan yang panjang.

7. Menganggap buku sebagai sesuatu yang menyenangkan

ilustrasi anak membaca (pexels.com/Ron Lach)

Tanda yang paling menarik mungkin ketika anak mulai mencari buku tanpa harus disuruh. Mereka mengambil buku ketika sedang santai, meminta dibacakan sebelum tidur, atau memilih buku sebagai salah satu aktivitas yang ingin dilakukan. Pada tahap ini, buku mulai menjadi bagian dari keseharian anak.

Tentu saja anak tetap akan lebih memilih bermain, berlari, menonton, atau melakukan hal lain sesekali. Itu wajar. Anak yang menyukai literasi gak harus menghabiskan sepanjang hari dengan buku. Yang penting, mereka mulai melihat bahwa membaca dan cerita bisa memberikan pengalaman yang menyenangkan, membuat penasaran, dan membuka dunia baru di kepala mereka.

Mengenalkan dunia literasi kepada anak gak harus selalu dimulai dari target berapa halaman yang harus dibaca setiap hari. Kadang, perkembangannya justru terlihat dari hal-hal kecil yang gak kita sadari, seperti anak mulai memilih buku sendiri, bertanya tentang cerita, atau penasaran dengan tulisan yang ditemuinya di jalan. Tanda-tanda sederhana itu layak diapresiasi karena minat terhadap literasi memang tumbuh secara bertahap.

Jadi, kalau hari ini anak belum betah duduk lama bersama buku, gak perlu langsung panik. Terus hadirkan cerita, berikan kesempatan memilih bacaan, ajak ngobrol, dan biarkan anak menikmati prosesnya. Siapa tahu, dari satu buku favorit yang dibaca berkali-kali, tumbuh kebiasaan membaca yang akan menemani mereka jauh lebih lama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article