Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Adab Anak yang Terlihat Sepele, tapi Kini Makin Jarang Diajarkan

3 min read
5 Adab Anak yang Terlihat Sepele, tapi Kini Makin Jarang Diajarkan
Ilustrasi anak (magnific.com/magnific)
  • Artikel menyoroti adab sederhana yang kini makin jarang diajarkan, seperti menjaga gestur saat berbicara dan menghargai orang lain dalam interaksi sehari-hari.
  • Anak dapat dibiasakan mendahulukan orang tua saat mengambil makanan serta menunggu giliran berbicara agar belajar etika, rasa hormat, dan mendengarkan.
  • Ucapan tolong, terima kasih, serta kebiasaan menyapa perlu dicontohkan secara konsisten oleh orang tua tanpa memaksa anak, agar terasa natural.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah pola asuh yang terus berubah, ada banyak hal kecil yang dulu dianggap sebagai bagian dari keseharian anak, tetapi kini mulai jarang diperhatikan. Bukan soal harus membuat anak selalu patuh atau takut kepada orang yang lebih tua, melainkan mengajarkan mereka untuk memahami sikap, situasi, dan cara menghargai orang lain.

Beberapa adab bahkan terlihat sangat sederhana sampai sering dianggap sepele. Padahal, kebiasaan kecil seperti cara berbicara, bersikap di meja makan, hingga memperhatikan lawan bicara bisa membentuk bagaimana anak membawa dirinya ketika berada di tengah orang lain. Apa saja?

  1. 1. Jangan menunjuk dengan telunjuk di depan orang yang lebih tua

    Ilustrasi anak
    Ilustrasi anak (magnific.com/magnific)

    Menunjuk menggunakan telunjuk ketika berbicara dulu sering dianggap sebagai sikap yang kurang sopan, terutama jika dilakukan kepada atau di depan orang yang lebih tua. Anak bisa dikenalkan dengan cara yang lebih santun ketika ingin menunjukkan sesuatu.

    Misalnya, daripada menunjuk langsung dengan satu jari, anak bisa menggunakan telapak tangan terbuka atau cukup menyebutkan apa yang ingin ditunjukkan. Kelihatannya kecil, tetapi kebiasaan ini mengajarkan anak untuk lebih memperhatikan gestur saat berinteraksi.

  2. 2. Dahulukan orang tua saat mengambil makanan

    Ilustrasi anak
    Ilustrasi anak (magnific.com/magnific)

    Ketika makan bersama dalam satu meja, anak juga bisa diajarkan untuk gak langsung mengambil makanan sebelum orang yang lebih tua. Mereka bisa menunggu orang tua mengambil makanan terlebih dahulu, terutama jika hidangan berada di dekat orang yang lebih tua.

    Kebiasaan ini bukan berarti anak harus selalu mengalah, tetapi mengenalkan konsep menghargai dan mendahulukan orang lain dalam situasi tertentu. Dari meja makan saja, anak bisa belajar bahwa ada etika sederhana yang perlu diperhatikan ketika bersama orang lain.

  3. 3. Jangan memotong pembicaraan orang tua

    Ilustrasi anak
    Ilustrasi anak (magnific.com/prostooleh)

    Anak memang sering punya cerita yang ingin segera disampaikan. Ketika sedang antusias, mereka bisa saja langsung menyela pembicaraan tanpa sadar bahwa orang lain belum selesai berbicara.

    Di sinilah anak bisa diajarkan untuk menunggu giliran dan mendengarkan sampai lawan bicaranya selesai. Selain menunjukkan rasa hormat, kebiasaan ini juga membantu anak belajar bahwa setiap orang punya kesempatan untuk didengar.

  4. 4. Biasakan mengucapkan tolong dan terima kasih

    Ilustrasi anak
    Ilustrasi anak (magnific.com/magnific)

    “Tolong” dan “terima kasih” merupakan dua kata sederhana yang sebenarnya punya peran penting dalam keseharian anak. Ketika meminta bantuan, anak bisa dibiasakan mengucapkan “tolong”, sementara “terima kasih” digunakan setelah menerima bantuan atau sesuatu dari orang lain.

    Daripada sekadar meminta anak menghafal dua kata tersebut, orangtua juga bisa memberikan contoh dalam percakapan sehari-hari. Anak biasanya lebih mudah mengikuti sesuatu yang mereka lihat dan dengar secara konsisten di rumah.

  5. 5. Biasakan menyapa saat bertemu

    Ilustrasi anak
    Ilustrasi anak (magnific.com/prostooleh)

    Menyapa ketika bertemu orang lain juga menjadi kebiasaan sederhana yang gak ada salahnya dikenalkan sejak kecil. Gak harus selalu berupa percakapan panjang, anak bisa mulai dari mengucapkan salam, menyebut nama, tersenyum, atau sekadar memberi sapaan ketika bertemu.

    Jika anak masih malu, jangan langsung memaksanya untuk berbicara panjang dengan orang lain. Orangtua bisa memberi contoh terlebih dahulu dan perlahan mengajak anak ikut menyapa, sehingga kebiasaan tersebut terasa natural dan bukan sebuah kewajiban yang membuat mereka tertekan.

    Adab kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa menjadi bekal anak ketika mereka semakin sering bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Yang penting, ajarkan lewat contoh dan kebiasaan sehari-hari, bukan hanya lewat teguran ketika anak melakukan kesalahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More