“Orangtua dapat memvalidasi perasaan anak dengan mendengarkan secara aktif apa yang mereka katakan, kemudian merespons dengan mengungkapkan kembali apa yang telah kita dengar dari mereka,” jelasnya.
Cara Bantu Anak Menghadapi Kekecewaan karena Gak Punya Adik

Seorang anak pulang sekolah dengan wajah murung. Bukan karena bertengkar dengan teman atau mendapat nilai jelek, melainkan karena sahabatnya baru saja punya adik bayi. Sepanjang perjalanan pulang, ia membayangkan betapa serunya punya teman bermain di rumah. Sampai akhirnya, ia memberanikan diri bertanya kepada ibunya, “Ma, kapan aku punya adik?”
Bagi orangtua, pertanyaan sederhana itu mungkin terdengar mudah dijawab. Namun, bagaimana jika keluarga memang tidak berencana menambah anak? Di satu sisi, orangtua ingin membuat si kecil bahagia. Di sisi lain, mereka juga harus menjelaskan bahwa tidak semua keinginan bisa terwujud. Situasi ini tentu bisa menjadi tantangan tersendiri, apalagi ketika anak terus menanyakan hal yang sama.
Lantas, bagaimana cara membantu anak menghadapi kekecewaan karena gak punya adik? Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua untuk memahami perasaan si kecil sekaligus membantunya melewati kekecewaan tersebut.
1. Anak mulai membandingkan keluarganya dengan keluarga lain

ilustrasi ayah dan anak sedang packing pakaian (pexels.com/ketutsubiyanto) Rasa ingin tahu tentang saudara kandung bisa muncul ketika anak mulai memperhatikan lingkungan sekitarnya. Misalnya, saat melihat teman sekolahnya punya adik bayi atau mendengar cerita temannya yang punya kakak untuk diajak bermain. Dari situ, anak mungkin mulai bertanya-tanya mengapa keluarganya berbeda.
Dikutip dari Parents, Michelle Harris, LCSW, MA, pendiri sekaligus CEO Parenting Pathfinders, menjelaskan bahwa tidak semua anak tunggal menginginkan saudara. Namun, bagi yang menginginkannya, pertanyaan ini bisa muncul berulang kali seiring bertambahnya usia. Anak kecil mungkin ingin punya adik karena teman-temannya memilikinya, sedangkan anak yang lebih besar mendambakan teman bermain atau berbagi cerita.
2. Validasi perasaan anak, jangan langsung menyuruhnya berhenti berharap

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu) Ketika anak terus meminta adik, orangtua mungkin merasa bingung atau kehabisan jawaban. Sebagian bahkan langsung menyuruh anak bersyukur karena sudah memiliki keluarga yang menyayanginya. Padahal, respons tersebut bisa membuat anak merasa kesedihannya tidak dipahami. Menurut Harris, orangtua sebaiknya mulai dengan mendengarkan dan mengakui perasaan si kecil.
Misalnya, orangtua bisa berkata, “Aku tahu kamu sangat ingin punya adik. Pasti sedih rasanya ketika menginginkan sesuatu yang belum bisa kamu miliki. Aku senang kamu mau cerita tentang hal-hal yang penting buatmu.” Respons ini membantu anak memahami bahwa perasaannya boleh diungkapkan tanpa dihakimi, meski keinginannya belum tentu bisa dipenuhi.
3. Berikan penjelasan yang jujur dan sesuai usia anak

ilustrasi ibu dan anak sedang makan bersama (pexels.com/cottonbro) Anak-anak gemar bertanya, termasuk soal alasan mereka tidak memiliki adik. Pertanyaan ini bisa sulit dijawab jika berkaitan dengan kondisi atau keputusan orang dewasa. Menurut Leela R. Magavi, MD, seorang psikiater, dikutip Parents, orangtua perlu menyesuaikan penjelasan dengan usia dan kemampuan anak dalam memahami informasi.
“Saya mendorong orangtua untuk mempertimbangkan usia anak serta informasi yang mampu mereka pahami, kemudian mencari cara untuk menjelaskan alasan mereka tidak memiliki saudara kandung dengan bahasa yang sesuai dengan usianya,” ujar Leela R. Magavi.
Ia juga mengingatkan bahwa anak yang tidak memahami alasan di balik situasinya bisa menganggap bahwa hal tersebut berkaitan dengan dirinya sendiri. Karena itu, sampaikan keadaan keluarga secara jujur dengan bahasa sederhana agar anak tidak menyalahkan dirinya sendiri atau menganggap bahwa dirinya menjadi alasan orangtua tidak memiliki anak lagi.
“Ketika anak tidak mengetahui mengapa mereka tidak memiliki sesuatu dalam hidupnya, mereka sering kali percaya bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan diri mereka sendiri,” lanjutnya.
4. Cari tahu alasan anak ingin punya adik

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/gustavofring) Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa anak begitu ingin memiliki adik? Bisa jadi, ia bukan sekadar menginginkan kehadiran bayi di rumah, tetapi juga membayangkan keseruan bersama saudara kandung. Ada anak yang ingin punya teman bermain, merawat bayi, atau seseorang untuk berbagi cerita. Menurut Harris, setiap anak bisa memiliki alasan berbeda di balik keinginannya tersebut.
“Sebagian anak membayangkan bahwa saudara kandung dapat menjadi teman bermain. Sementara itu, anak-anak lainnya menyukai gagasan memiliki bayi yang bisa mereka rawat. Ada pula anak yang membayangkan bahwa kehadiran saudara kandung akan memberi mereka kedekatan emosional yang selama ini tidak mereka rasakan dengan anggota keluarga lainnya,” jelasnya.
Orangtua bisa mencari tahu alasan di balik keinginan anak. Jika ia ingin teman bermain, misalnya, ajak anak bermain bersama teman, mengikuti klub sesuai minat, atau menghabiskan waktu dengan sepupu seusianya. Meski tidak sepenuhnya menggantikan saudara kandung, cara ini bisa membantu memenuhi kebutuhan anak akan pertemanan dan kebersamaan.
5. Jangan memberikan harapan palsu, tetapi ajak anak melihat sisi positif keluarganya

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/pixabay) Saat anak terus meminta adik, orangtua mungkin tergoda menjawab “nanti, ya” agar lebih mudah. Namun, jika sudah yakin tidak akan menambah anak, memberikan harapan palsu justru bisa membuat anak terus menunggu. Karena itu, orangtua perlu menunjukkan empati sekaligus memberikan jawaban yang jelas.
Dr. Magavi menyarankan orangtua untuk mengakui perasaan anak dan menjelaskan kondisi keluarga dengan jujur. Jika keadaan membuat mereka tidak bisa menambah anak, orangtua bisa mengungkapkan bahwa mereka juga berharap situasinya berbeda, lalu mengajak anak melihat hal-hal baik yang dimiliki keluarga saat ini.
Setelah menjelaskan situasi keluarga, orangtua bisa mengajak anak menikmati waktu bersama melalui bermain, bepergian, atau melakukan aktivitas yang disukai. Dengan begitu, anak belajar bahwa keluarga bahagia tidak ditentukan oleh jumlah anggotanya dan dirinya tetap dicintai meski keinginannya belum terpenuhi.
6. Ajarkan cara menghadapi kesedihan dan tetapkan batasan dengan penuh kasih sayang

ilustrasi ibu dan anak membaca buku (pexels.com/olly) Ada kalanya anak kembali merasa sedih setelah melihat teman-temannya bermain bersama adik atau kakak mereka. Dalam situasi seperti ini, orangtua bisa membantu anak menemukan cara yang sehat untuk mengelola emosinya.
Dr. Magavi menyatakan bahwa, strategi yang efektif bisa berbeda bagi setiap anak. Karena itu, orangtua dapat mengajak anak mencoba berbagai kegiatan yang membantu meredakan kesedihan, mulai dari melukis, menggambar, menulis jurnal, berbicara dengan teman atau anggota keluarga, berolahraga, hingga menekuni hobi yang disukai.
Setelah anak menemukan kegiatan yang membuatnya merasa lebih baik, orangtua bisa mengingatkan kembali strategi tersebut ketika kesedihan muncul. Namun, jika anak terus-menerus menanyakan hal yang sama hingga orangtua merasa lelah secara emosional, menetapkan batasan juga diperbolehkan.
Pada akhirnya, anak yang belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya tidak memiliki adik membutuhkan waktu, pengertian, dan dukungan dari orangtua. Yuk, bantu si kecil memahami bahwa meski keluarganya tidak bertambah, ia tetap bisa tumbuh bahagia dengan cinta dan kebersamaan yang dimiliki!
























