TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Potret Keluarga dalam Media, Apakah Sudah Sesuai?

Atau justru ada masalah?

ilustrasi keluarga (IDN Times/Mardya Shakti)

Praktik ketidakadilan gender yang ditampilkan media, baik melalui pemberitaan maupun iklan saat ini masih banyak kita jumpai. Hal ini menimbulkan kekhawatiran, terlebih saat masa pandemi Covid-19. 

Membahas masalah ini,  Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen PPPA) menggelar webinar terkait Keluarga Responsif Gender dalam Perspektif Media, Jumat (28/8/2020). Berikut pemaparannya!

Baca Juga: Media dan Keluarga, Meliput dengan Perspektif Gender

Tak bisa dimungkiri, di era digital ini segala infomasi bisa kita dapatkan lewat telepon genggam kita. Sayangnya gak semua informasi yang tersebar di dunia benar dan juga bermanfaat. 

“Dulu ruang tidak aman bagi anak itu di luar rumah. Namun kini ruang tidak aman adalah di dalam rumah itu sendiri. Kita tidak tahu apa yang anak lihat di handphone mereka," ungkap Sri Wahyuni, Konsultan Gender UNFPA.

Dalam hal ini, media massa memiliki kemampuan untuk mengubah opini publik sekaligus membentuk konstruksi tertentu di masyarakat. Oleh karena itu, penggambaran keluarga menjadi sangat krusial untuk membentuk konstruksi keluarga dan juga gender dalam masyarakat.

1. Akses media yang bisa didapatkan siapa saja, kini menjadi ruang tidak aman baru bagi anak

pixabay.com/mojzagrebinfo

2. Konten media di Indonesia masih memotret keluarga secara tradisional

Televisi kerap menggambarkan perempuan yang melakukan kerja domestik. dok. Roy Thaniago

Peneliti Media Roy Thaniago mengatakan media merupakan wahana untuk mengakses realitas salah satunya konsep tentang keluarga. Sayangnya banyak media masih menayangkan konsep ketidakadilan gender yang kemudian menciptakan konstruksi yang kurang tepat dalam pemahaman keluarga. 

"Dalam sinteron selalu digambarkan istri mengerjakan pekerjaan domestik dan Ayah bekerja. Laki-laki ditampilkan sebagai sosok otoritas, seolah-olah perempuan bergantung pada mereka," papar Roy. 

Ia pun menyimpulkan bahwa media kerap menampilkan Ayah absen dari peran domestik. Padahal, kenyataannya kini banyak juga Ibu yang bekerja dan Ayah turut mengerjakan pekerjaan domestik.

Baca Juga: Bahaya Klaster Keluarga COVID-19, Mengintai dan Tak Disadari

3. Pentingnya pemahaman kesetaraan gender yang baik pada pelaku media. Terutama di era pandemik ini

IDN Times/Klara Livia

Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis mengingatkan kepada media dan rekan-rekan jurnalis agar selalu mengingat pentingnya sensitif gender, khususnya dalam peliputan terkait pandemik.

“Tanpa pemahaman kesetaraan gender yang baik, media justru berkontribusi terhadap makin buruknya dampak krisis dan memutar balik perjuangan kesetaraan yang diperoleh perempuan di seluruh dunia," ungkapnya.

Uni menambahkan bahwa jurnalis perlu untuk selalu menggunakan kacamata keseimbangan gender dan bahasa yang netral secara gender. 

4. Pemangku kebijakan dan aktor utama media perlu terlibat untuk mengatasi permasalahan perspektif gender dalam keluarga

IDN Times/Klara Livia

Untuk menciptakan media yang lebih ramah keluarga dan anak, media perlu berubah. Roy merekomendasikan 5 langkah yang perlu dilakukan oleh pemangku kebijakan dan pelaku media, yakni:

  • (PPPI, Dewan Pers, KPI, PWI, AMSI, AJI, Persma, Media Komunitas)
  • Buat/revisi secara bersama-sama: panduan produksi sinetron, kode etik
    jurnalistik/pariwara, P3SPS
  • Kemen PPPA membuat narasi tandingan dan melakukan pemantauan
    atas media secara berkala
  • Lewat pendidikan: revisi pengajaran soal konsep keluarga,
    penggambaran peran istri-suami-anak di buku pelajaran, dll

"Menurut saya pendidikan itu penting buku-buku diubah. Jangan selalu pemaparan Ibu memasak dan Ayah baca koran. Secara perlahan itu menimbulkan stereotip pada anak," ungkap Roy Thaniago.

Baca Juga: CEO IDN Media, Winston Utomo: Makna di Balik IDN Media HQ

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya