Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Anak yang Suka Dinosaurus Lebih Pintar? Cek di Sini!
Ilustrasi anak (magnific.com/magnific)
  • Ketertarikan intens pada dinosaurus sering menunjukkan rasa ingin tahu besar; anak dapat menggali nama, makanan, habitat, fosil, dan perbedaan antarspesies.
  • Kemampuan menghafal banyak dinosaurus tidak otomatis menandakan anak lebih pintar, karena kecerdasan memiliki banyak bentuk dan minat kuat pada satu topik merupakan hal normal.
  • Minat dinosaurus dapat menjadi pintu belajar sejarah bumi, membaca, membandingkan, mencari informasi, mengingat detail, dan menghubungkan berbagai fakta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aku selalu merasa lucu melihat anak kecil yang bisa tiba-tiba berubah jadi “ensiklopedia dinosaurus”. Ditanya namanya siapa, jawabnya mungkin masih malu-malu. Tapi begitu ditanya dinosaurus favoritnya, mendadak lancar menjelaskan T-Rex punya gigi tajam, Triceratops punya tiga tanduk, sampai dinosaurus mana yang hidup jutaan tahun lalu. Kadang sampai terpikir, kok bisa sih mereka hafal sebanyak itu?

Lants, kenapa ya anak bisa begitu fokus pada satu hal? Apalagi ketertarikan pada dinosaurus sering terasa lebih intens dibandingkan sekadar “punya mainan favorit”. Mereka bisa mengoleksi buku, meminta mainan yang sama, menonton video tentang dinosaurus berulang kali, dan terus punya pertanyaan baru. Apakah kebiasaan seperti ini memang ada hubungannya dengan kecerdasan anak?

1. Anak yang suka dinosaurus biasanya punya rasa ingin tahu besar

Ilustrasi anak (magnific.com/magnific)

Memang benar, dinosaurus memang punya formula yang pas untuk membuat anak penasaran. Ada hewan dengan tubuh superbesar, ada yang punya tanduk atau leher panjang, ada yang memangsa hewan lain, dan semuanya hidup di bumi jauh sebelum manusia ada. Semakin banyak yang diketahui, justru semakin banyak hal yang ingin ditanyakan.

Psikolog anak Dr. Kimberley O'Brien pernah menjelaskan fenomena ini ketika membahas intense interests pada anak. “Menurut saya, anak-anak yang sangat cerdas sering kali menjadi sangat terobsesi dengan dinosaurus karena ada begitu banyak informasi yang bisa dipelajari,” dikutip dari ABC News Australia.

Jika diperhatikan baik-baik, ada perbedaan antara anak yang sekadar suka dinosaurus dan anak yang benar-benar mendalaminya. Anak dengan ketertarikan kuat biasanya gak berhenti setelah tahu nama satu dinosaurus. Mereka ingin tahu apa yang dimakan, bagaimana cara bertahan hidup, di mana fosilnya ditemukan, sampai apa yang membuat satu spesies berbeda dari spesies lainnya. Proses mencari tahu inilah yang menarik dari minat mereka.

2. Hafal banyak dinosaurus bukan berarti otomatis lebih pintar

Ilustrasi anak (magnific.com/magnific)

Tapi kamu juga gak boleh langsung mengambil kesimpulan bahwa anak yang bisa menyebut 20 nama dinosaurus pasti lebih pintar daripada teman seusianya. Kemampuan mengingat informasi dalam satu bidang memang mengesankan, tetapi kecerdasan anak punya banyak bentuk dan berkembang dengan cara yang berbeda.

Penelitian tentang Intense Interests pada anak menunjukkan bahwa ketertarikan yang sangat kuat pada satu topik sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Psikolog Judy S. DeLoache, yang meneliti fenomena tersebut mengatakan, “Ini sepenuhnya normal. Tidak ada sesuatu yang aneh dari hal tersebut," dikutip dari wawancara Live Science.

Jadi lebih tepat kalau ketertarikan pada dinosaurus dilihat sebagai cara anak membangun pengetahuan, bukan sebagai tes kecerdasan. Anak bisa saja punya pengetahuan luar biasa tentang dinosaurus karena memang topik itu membuatnya tertarik, sementara kemampuan lainnya masih berkembang. Dan itu sama sekali gak mengurangi nilai dari apa yang sudah berhasil dia pelajari.

3. Minat yang kuat bisa jadi pintu masuk untuk belajar

Ilustrasi anak (magnific.com/magnific)

Nah, bagian ini yang menurutku paling menarik. Kalau anak sudah menemukan sesuatu yang membuatnya penasaran, bermain dan belajar gak harus dipisahkan. Dari pertanyaan kenapa dinosaurus punah, misalnya, kita bisa mengenalkan sejarah bumi. Dari fosil, anak bisa mulai membaca, sementara mengelompokkan dinosaurus berdasarkan ukuran atau jenis bisa jadi cara sederhana untuk belajar membandingkan.

Makanya, saat anak sedang berada di fase “dinosaurus adalah segalanya”, menurutku gak perlu buru-buru mengalihkannya ke hal lain. Justru ikuti rasa penasarannya dan biarkan dia mengeksplorasi topik yang disukai. Bisa jadi dari satu T-Rex saja dia belajar mencari informasi, mengingat detail, sampai menghubungkan satu fakta dengan fakta lainnya.

Jadi, anak yang suka dinosaurus memang belum tentu lebih pintar. Tapi kalau satu topik bisa membuat mereka begitu penasaran sampai ingin terus mencari tahu, itu sudah jadi hal yang bagus untuk didukung. Karena yang paling menarik bukan seberapa banyak nama dinosaurus yang mereka hafal, tetapi rasa ingin tahu yang membuat mereka terus belajar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article