“Saat orangtua bersikap jujur, menenangkan, dan mengajarkan cara mengatasi masalah, anak tidak harus menghadapi pikirannya sendirian,” kata David J. Schonfeld, MD, direktur National Center for School Crisis and Bereavement di Children’s Hospital Los Angeles, dikutip dari Newyork Times.
6 Cara Efektif Membantu Anak Mengatasi Mimpi Buruk

Mimpi buruk pada anak sering bikin orangtua ikut waswas, apalagi kalau terjadi berulang hampir setiap malam. Anak bisa terbangun sambil menangis, ketakutan, bahkan enggan tidur lagi sendirian. Situasi ini terasa melelahkan, baik untuk anak maupun orangtua yang harus terus menenangkan.
Meski begitu, mimpi buruk adalah fase yang cukup umum dialami anak, terutama saat mereka mulai mengenal berbagai hal dari lingkungan sekitar. Kabar baiknya, ada cara-cara sederhana yang bisa membantu anak merasa lebih aman dan tidur lebih nyenyak. Yuk, simak langkah-langkah efektif yang bisa kamu terapkan!
1. Tunjukkan empati dan validasi perasaan anak

Saat anak terbangun karena mimpi buruk, penting untuk tidak langsung menyepelekan ketakutannya. Respons orangtua yang tenang dan penuh empati bisa membantu anak merasa lebih aman. Dengan begitu, anak tidak merasa sendirian saat menghadapi rasa takutnya.
Cobalah untuk mendengarkan cerita anak tanpa menyela atau langsung mengoreksi. Kamu bisa menenangkan dengan kalimat yang membuatnya merasa dipahami. Pendekatan ini membantu anak belajar bahwa perasaan takut itu wajar dan bisa diatasi.
2. Bangun rutinitas tidur yang menenangkan

Rutinitas sebelum tidur sangat berpengaruh pada kualitas istirahat anak. Anak yang tidur terlalu larut atau tidak punya pola tidur konsisten cenderung lebih mudah mengalami mimpi buruk. Karena itu, penting untuk menciptakan suasana yang nyaman menjelang waktu tidur.
Hindari penggunaan gadget setidaknya 30 menit sebelum tidur agar tubuh bisa memproduksi hormon melatonin dengan baik. Gantikan dengan aktivitas santai seperti membaca buku atau ngobrol ringan. Kebiasaan ini membantu tubuh anak lebih siap untuk tidur nyenyak.
“Rutinitas sebelum tidur membantu menciptakan rasa keteraturan dalam hari yang memberi ketenangan di masa yang tidak pasti,” kata Carol L. Rosen, MD, spesialis sleep medicine anak, dikutip dari Newyork Times.
3. Ajarkan teknik relaksasi sederhana

Menenangkan pikiran sebelum tidur bisa jadi kunci agar anak terhindar dari mimpi buruk. Salah satu cara yang bisa dicoba adalah teknik pernapasan sederhana. Latihan ini membantu tubuh dan pikiran anak menjadi lebih rileks.
Dawn Huebner, Ph.D., seorang psikolog, dikutip dari Parents, menyarankan agar mengajak anak melakukan “pernapasan melingkar”. Caranya, bayangkan napas masuk melalui lubang hidung kanan dan keluar melalui kiri. Napas berikutnya masuk melalui kiri dan keluar melalui kanan. Lakukan bergantian, seolah bernapas dalam lingkaran.
Kamu bisa mengajarkan anak untuk melakukannya perlahan sambil berbaring agar anak merasa nyaman. Jika dilakukan rutin, teknik ini bisa jadi kebiasaan baik sebelum tidur.
4. Jangan menghindari hal yang ditakuti

Banyak orangtua memilih menjauhkan anak dari hal yang membuatnya takut. Padahal, cara ini justru bisa memperkuat rasa takut dalam pikiran anak. Pendekatan yang lebih efektif adalah membantu anak menghadapi ketakutannya secara bertahap.
Ajak anak berinteraksi dengan hal yang ditakuti dalam suasana aman, misalnya lewat permainan atau cerita. Semakin sering anak terbiasa, rasa takutnya akan berkurang dengan sendirinya. Proses ini memang butuh waktu, tapi hasilnya lebih tahan lama.
“Fungsi mimpi adalah membantu kita memahami pengalaman yang kita alami sepanjang hari,” jelas Dr. Dawn Huebner.
5. Ubah pola pikir anak tentang mimpi buruk

Mimpi buruk bisa menjadi kebiasaan pikiran jika terus dipikirkan. Karena itu, penting untuk membantu anak mengalihkan fokus ke hal-hal yang lebih menyenangkan. Cara ini bisa membantu mengatur ulang cara berpikir mereka.
Ajak anak membayangkan akhir cerita yang lucu atau tidak menakutkan dari mimpinya. Misalnya, tokoh menyeramkan berubah jadi sesuatu yang konyol. Teknik ini membuat mimpi buruk terasa lebih ringan dan tidak lagi menakutkan.
“Anak bisa membayangkan seolah-olah ia mengganti saluran dari pikiran yang menakutkan,” ujar Dr. Dawn Huebner.
6. Pertimbangkan bantuan profesional jika perlu

Jika mimpi buruk terjadi terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan profesional. Terapi perilaku kognitif bisa membantu anak memahami dan mengelola rasa takutnya. Dalam beberapa sesi, anak biasanya sudah mulai menunjukkan perubahan positif.
Langkah ini bukan berarti ada yang salah, melainkan bentuk dukungan terbaik untuk anak. Dengan bantuan yang tepat, anak bisa merasa lebih kuat dan percaya diri. Orangtua pun jadi lebih tenang dalam mendampingi prosesnya.
Menghadapi mimpi buruk pada anak memang butuh kesabaran dan konsistensi. Namun, dengan pendekatan yang tepat, anak bisa belajar mengelola rasa takutnya secara perlahan. Peran orangtua yang hadir dan suportif jadi kunci utama agar anak kembali tidur dengan tenang.


















