Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Pola Asuh Seimbang yang Bisa Diterapkan Orang Tua di Era Gadget

Seorang ibu sedang membimbing anaknya bermain komputer
Seorang ibu sedang membimbing anaknya bermain komputer. (pexels.com/Julia M Cameron)

Gadget telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keluarga modern. Anak-anak tumbuh di lingkungan digital yang menawarkan hiburan, informasi, dan kemudahan akses sejak usia dini. Di satu sisi, teknologi dapat menjadi alat bantu belajar yang bermanfaat, namun di sisi lain, penggunaan yang tidak terkontrol berisiko memengaruhi perkembangan emosi, sosial, dan konsentrasi anak.

Dalam psikologi perkembangan, tantangan utama orang tua di era gadget bukanlah melarang teknologi sepenuhnya, melainkan membangun keseimbangan. Pola asuh yang seimbang membantu anak mengenal dunia digital secara sehat tanpa kehilangan pengalaman penting dalam interaksi nyata.

Berikut lima tips pola asuh seimbang yang dapat diterapkan orang tua di era gadget.

1. Jadikan gadget sebagai alat, bukan pengasuh

Anak-anak sedang memainkan smartphone
Anak-anak sedang memainkan smartphone (pexels.com/Jessica Lewis)

Gadget sering kali digunakan sebagai solusi cepat untuk menenangkan atau mengalihkan perhatian anak. Namun, ketika gadget terlalu sering menggantikan kehadiran orang tua, anak kehilangan kesempatan penting untuk belajar berinteraksi dan mengelola emosi secara langsung.

Psikolog perkembangan Jean M. Twenge menyoroti bahwa penggunaan gadget berlebihan dapat mengurangi kualitas hubungan sosial anak. Anak tetap membutuhkan kehadiran emosional orang tua untuk membangun rasa aman dan keterampilan sosial yang sehat.

2. Tetapkan aturan screen time yang jelas dan konsisten

ilustrasi sedang duduk di kursi
ilustrasi sedang duduk di kursi (pexels.com/RDNE Stock project)

Anak membutuhkan batasan yang jelas agar merasa aman dan terarah. Aturan penggunaan gadget, seperti durasi dan waktu tertentu, membantu anak memahami bahwa teknologi adalah bagian dari hidup, bukan pusat dari segalanya.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan batasan screen time yang disesuaikan dengan usia anak. Konsistensi orang tua dalam menerapkan aturan ini penting agar anak belajar disiplin dan mampu mengontrol diri dalam penggunaan teknologi.

3. Dampingi anak saat menggunakan gadget

Terlalu memanjakan dan tidak pernah memberi konsekuensi
Ilustrasi pola didikan orang tua yang membuat anak nakal di sekolah (pexels.com/MART PRODUCTIONS)

Pendampingan orang tua saat anak menggunakan gadget membantu anak memahami konten secara lebih kritis dan kontekstual. Interaksi ini membuka ruang diskusi, pertanyaan, dan pembelajaran bersama, bukan sekadar konsumsi pasif.

Psikolog Lev Vygotsky menekankan pentingnya scaffolding, yaitu pendampingan orang dewasa dalam proses belajar anak. Dengan pendampingan, gadget dapat menjadi sarana belajar aktif, bukan pemicu ketergantungan.

4. Seimbangkan dengan aktivitas non-digital

Seorang ayah sedang menemani putrinya bermain
Seorang ayah sedang menemani putrinya bermain (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Aktivitas fisik, bermain bebas, dan interaksi sosial langsung tetap menjadi kebutuhan utama anak. Tanpa keseimbangan ini, anak berisiko mengalami kesulitan fokus, kurang empati, dan ketergantungan pada stimulasi instan dari layar.

Menurut World Health Organization (WHO), aktivitas fisik dan bermain memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan emosional anak. Orang tua berperan menciptakan lingkungan yang kaya pengalaman nyata di luar layar.

5. Jadilah teladan dalam penggunaan gadget

Seorang ibu sedang membimbing anaknya bermain komputer
Seorang ibu sedang membimbing anaknya bermain komputer. (pexels.com/Julia M Cameron)

Anak belajar terutama melalui observasi. Ketika orang tua terus-menerus menatap layar, anak akan meniru pola yang sama. Sebaliknya, orang tua yang mampu menggunakan gadget secara bijak memberi contoh nyata tentang keseimbangan.

Psikolog sosial Albert Bandura melalui teori social learning menjelaskan bahwa perilaku anak banyak dipelajari dari figur signifikan di sekitarnya. Pola penggunaan gadget orang tua menjadi cermin utama bagi anak.

Pola asuh seimbang di era gadget bukan tentang menolak teknologi, melainkan tentang membimbing anak agar mampu menggunakannya secara sehat dan bertanggung jawab. Dengan aturan yang jelas, pendampingan yang hangat, serta teladan dari orang tua, gadget dapat menjadi alat pendukung tumbuh kembang anak, bukan penghambat. Di tengah dunia digital, kehadiran orang tua tetap menjadi faktor terpenting dalam perkembangan psikologis anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ken Ameera
EditorKen Ameera
Follow Us

Latest in Life

See More

Ceramah Tarawih 2026 Malam Kedua tentang Niat dan Ikhlas dalam Ibadah

19 Feb 2026, 20:18 WIBLife