Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Menanamkan Sifat Rendah Hati pada Anak Sejak Dini
ilustrasi ngobrol sama anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Artikel menekankan pentingnya menanamkan sifat rendah hati sejak dini melalui komunikasi dua arah dan bimbingan orangtua dalam pembentukan karakter anak.
  • Psikolog dan pakar pendidikan menyarankan latihan mendengarkan, empati, serta memahami perbedaan antara percaya diri dan sombong sebagai dasar membangun kerendahan hati.
  • Pendidikan Montessori dan keteladanan orangtua disebut efektif membantu anak mengembangkan kesadaran diri, empati, serta sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Memperkenalkan nilai-nilai kehidupan pada anak bisa dimulai dari usia dini. Ketika anak sudah dapat diajak berkomunikasi dua arah dengan lancar, di saat itulah peran orangtua untuk memberikan bimbingan dalam pembentukan karakter sangat diperlukan.

Salah satu hal yang perlu ditanamkan pada diri anak sejak dini adalah sifat rendah hati. Meskipun belum sepenuhnya paham, tapi hal ini perlu diajarkan pada anak sedini mungkin agar mereka tumbuh jadi sosok yang jauh dari kata sombong. Berikut beberapa cara menanamkan sifat rendah hati pada anak sejak dini.

1. Membiasakan anak untuk mendengarkan

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Helena Lopes)

Langkah pertama yang dapat dilakukan orangtua adalah membiasakan anak untuk mendengar. Seorang yang rendah hati adalah mereka yang mau mendengar pendapat dan isi hati orang lain, bukan semata-mata ingin didengarkan saja.

Dr. Danny Huerta, PsyD, MSW, LCSW, LLSW, seorang psikolog dan pekerja sosial berlisensi berpendapat bahwa orangtua perlu memberikan pengertian kalau terkadang orang lain juga ingin didengarkan. Belajar menahan diri untuk tidak mendominasi dan mau mendengarkan adalah hal yang baik.

"Ajari mereka untuk bicara perlahan dan mendengarkan dengan cepat. Memang sangat menggoda untuk mendominasi obrolan tentang diri kita sendiri, tanpa peduli dengan keinginan orang lain," ungkap Huerta seperti dikutip dari Focus on the Family.

2. Melatih empati terhadap kehidupan

ilustrasi anak dan hewan peliharaan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Menurut Huerta, orangtua bisa mengajarkan dan melatih empati anak sejak dini, salah satunya dengan memelihara hewan. Melatih empati anak terhadap kehidupan, akan menumbuhkan rasa rendah hati dan kepedulian mereka kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Merawat dan menyayangi hewan peliharan akan membuat rasa cinta dan kasih sayang seorang anak muncul dari dalam diri mereka. Selain membangun rasa rendah hati dan kepedulian, memelihara hewan juga bisa jadi sarana untuk mengajarkan kedisiplinan serta tanggung jawab.

3. Memberi pengertian perbedaan antara percaya diri dan sombong

ilustrasi mengajari anak (pexels.com/Puwadon Sang-ngern)

Penting bagi orangtua untuk membekali anak tentang perbedaan antara percaya diri dan sombong. Rasa percaya diri memang bisa jadi modal utama seorang anak untuk terus belajar dan berkembang, tapi jangan sampai itu berubah menjadi kesombongan. Meskipun seorang anak punya rasa percaya diri yang tinggi, rasa rendah hati juga harus tertanam dalam dirinya sebagai rem.

Ray Williams, seorang pelatih kepemimpinan dan konsultan eksekutif yang berpengalaman selama 35 tahun mengatakan, anak-anak perlu memahami bahwa kepercayaan diri yang sehat berarti percaya pada kemampuan mereka sambil tetap terbuka terhadap umpan balik dan pertumbuhan.

"Sebaliknya, kesombongan yang merusak melibatkan keyakinan bahwa mereka selalu benar dan tidak perlu belajar apa pun dari orang lain. Memahami perbedaan ini sangatlah penting, terutama ketika anak-anak menghadapi situasi sosial dan tantangan akademis," ujar Williams seperti dikutip dari tulisan Medium miliknya.

4. Latihan Montessori

ilustrasi latihan monttesori (pexels.com/Anna Shvets)

Menurut Williams, pendidikan Montessori secara alami telah menggabungkan kerendahan hati ke dalam pembelajaran mandiri dan kolaborasi. Hal itu bisa membantu anak untuk mengembangkan kesadaran diri, empati, dan pandangan realistis tentang kemampuan dan keterbatasan mereka.

"Dalam lingkungan Montessori, anak-anak belajar melalui eksplorasi langsung dan pengelompokan usia campuran, di mana mereka secara alami mengambil peran belajar dan mengajar, menumbuhkan kerendahan hati intelektual yang mengakui setiap orang memiliki sesuatu yang berharga untuk disumbangkan," kata Williams.

Pendidikan seperti ini menunjukkan bagaimana sistem pendidikan dapat dirancang untuk mendorong kerendahan hati, alih-alih secara tidak sengaja memberi penghargaan pada kesombongan. Mengutamakan anak bisa memahami suatu materi daripada memaksa anak terlihat pintar adalah salah satu keunggulan dari pembelajaran Montessori itu sendiri. Dengan begitu, anak-anak akan secara alami memahami kelebihan serta kekurangannya daripada bertindak arogan atau sibuk berkompetisi dan menyombongkan diri.

5. Orangtua menjadi contoh dan teladan yang nyata

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

The last but not least, orangtua juga harus menjadi contoh nyata bagaimana bersikap rendah hati. Mengajarkan anak untuk rendah hati tak cukup hanya dengan teori dan kata-kata saja. Anak akan lebih cepat paham jika mereka diberikan contoh konkretnya.

Ingat, anak adalah peniru ulung. Orangtua yang rendah hati di hadapan anak-anak, akan menjadi contoh yang mudah mereka tiru. Mengedepankan komunikasi dan diskusi untuk mengetahui pola pikir dan perasaan anak, merupakan langkah yang tepat.

"Hormatilah ide, emosi, dan minat satu sama lain antara orangtua dan anak. Belajar untuk bisa hidup berdampingan dengan segala perbedaan pendapat dan pandangan adalah hal yang baik," kata Huerta.

Mengajarkan anak tentang sikap rendah hati sedini mungkin bisa jadi keputusan yang tepat. Dengan memiliki sikap rendah hati, anak tak hanya akan disukai banyak orang, tapi juga memiliki ketertarikan untuk terus belajar. Kelima cara di atas bisa menjadi acuan agar orangtua lebih mudah membimbing dan memberikan arahan. Bagaimana menurutmu?

Curated For You

Editorial Team

Related Article