“Gak bisa.”
“Gak mau.”
“Pokoknya gak.”
6 Cara Menolak Permintaan Mertua dengan Sopan Tanpa Bikin Kikuk

- Pahami maksud di balik permintaan mertua
- Gunakan kalimat lembut, hindari "gak bisa"
- Jelaskan alasan secara jujur dan tawarkan alternatif jika memungkinkan
Setelah menikah, banyak orang baru sadar kalau tugasnya bukan hanya menjadi pasangan yang baik, tapi juga menantu yang baik. Ya, banyak orang baru sadar bahwa ternyata membangun hubungan dengan mertua jauh lebih sulit daripada membangun hubungan dengan pasangan. Nah, di sinilah sering muncul dilema klasik, yaitu bagaimana caranya menolak permintaan mertua tanpa terlihat durhaka, tidak sopan, atau membuat hubungan jadi dingin?
Pasalnya, jujur saja, ada kalanya permintaan mertua itu berat untuk dilakukan, tidak sesuai kemampuan kita, atau bahkan membuat kita merasa nyaman. Namun, karena mereka adalah orang tua dari pasangan, kita sering merasa serba salah. Mau bilang “gak” takut dianggap tidak hormat, tapi kalau dituruti terus bisa bikin capek sendiri.
Padahal, menolak dengan sopan itu bukan berarti melawan. Justru ini soal menjaga batasan dengan cara yang sehat. Berikut beberapa cara menolak permintaan mertua dengan sopan tanpa bikin kikuk serta tak menimbulkan drama.
1. Pahami dulu maksud di balik permintaannya

Sebelum langsung bersikap defensif, coba pahami dulu kenapa mertua meminta hal tersebut. Kadang niat mereka sebenarnya baik, hanya cara menyampaikannya yang terasa menekan. Misalnya, mertua minta kamu sering main ke rumah mereka bukan karena mau mengatur, tapi karena kangen cucu atau anaknya. Kalau kamu sudah paham maksudnya, kamu bisa merespons dengan lebih tenang dan empati. Nada bicaramu juga otomatis jadi lebih lembut, bukan seperti orang yang sedang tersinggung.
2. Gunakan kalimat lembut, jangan langsung “gak bisa”

Hindari menjawab dengan kata-kata yang terlalu kaku atau terdengar menutup pintu bantuan, seperti:
Lebih baik pilih kalimat yang ada unsur penghargaan dulu, misalnya:
“Terima kasih banyak sudah mikirin kami…”
“Aku senang sekali Ibu/Bapak percaya sama aku…”
“Sebenernya aku pengen bantu, tapi…”
Dengan begitu, penolakanmu terdengar sebagai keterbatasan, bukan pembangkangan.
3. Jelaskan alasan secara jujur

Kamu tidak wajib menjelaskan segalanya panjang lebar, tapi setidaknya beri alasan yang masuk akal dan jujur. Misalnya:
Soal waktu: sedang capek, kerjaan padat
Soal kondisi: kurang sehat, mental lagi tidak stabil
Soal kemampuan: belum sanggup secara finansial atau tenaga
Contoh kalimatnya:
“Sebenernya aku pengen banget bantu, tapi sekarang kondisiku lagi capek banget dan takut malah gak maksimal.”
Tidak perlu drama, tapi cukup jelas dan tenang.
4. Tawarkan alternatif kalau bisa

Kalau memang memungkinkan, kamu bisa menolak sambil memberi opsi lain. Ini membuat mertua merasa tetap dihargai. Misalnya:
“Kami gak bisa datang hari ini, tapi besok sore insyaAllah bisa mampir sebentar.”
atau
“Kami belum bisa bantu dana sekarang, tapi nanti kalau ada rezeki kamu pasti bantu.”
Dengan begitu, penolakanmu tidak terkesan mutlak dan kaku.
5. Libatkan pasangan kalau situasinya sensitif

Kalau permintaan mertua sudah menyentuh hal yang berat, misalnya soal uang, tempat tinggal, atau keputusan besar, sebaiknya pasangan ikut turun tangan. Karena bagaimanapun, itu orang tua dari pasanganmu. Namun, pastikan kamu dan pasanganmu satu suara. Jangan sampai mertua merasa kamu “melarang” anak mereka. Biarkan pasangan yang menyampaikan atau mendampingi saat kamu bicara.
6. Jaga nada bicara dan bahasa tubuh

Kadang bukan isi kata-kata yang membuat orang tersinggung, tapi cara menyampaikannya. Nada tinggi, wajah jutek, atau gestur menutup diri bisa membuat penolakan terasa kasar, walau kata-katanya sopan. Usahakan tetap senyum, tatap mata dengan ramah, dan bicara pelan. Sikap kecil ini pengaruhnya besar.
Cara menolak permintaan mertua dengan sopan tanpa bikin kikuk memang gak mudah, namun selama dilakukan dengan tepat, penuh empati dan komunikasi yang baik, hal ini gak bakal berujung konflik. Justru bisa jadi awal hubungan yang lebih dewasa dan saling menghargai. Ingat, menjadi menantu yang baik bukan berarti selalu berkata “iya”, tapi tahu kapan harus berkata “tidak” dengan cara yang sopan dan penuh rasa hormat.


















