“Pak/Bu, kami berterima kasih sekali atas semua bantuannya selama ini. Tapi untuk urusan rumah tangga, kami ingin belajar mandiri pelan-pelan.”
6 Cara Menghadapi Mertua yang Menuntut Balas Budi

- Pahami bahwa ini soal pola pikir, bukan sekadar uang
Banyak orangtua hidup dengan pola pikir bahwa kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Dengan memahami ini, kamu bisa lebih tenang. - Bedakan antara hormat dan mengorbankan diri sendiri
Hormati orangtua tapi jangan selalu menuruti semua permintaan. Ingat, pernikahan juga perlu ruang aman untuk kamu dan pasangan. - Bangun batasan secara halus tapi konsistenPenting untuk membuat batasan dan menyampaikannya dengan lembut tapi tegas. Kamu tidak bisa terus berada di bawah bayang-bayang utang budi.
Menikah itu bukan hanya soal tinggal seatap dengan orang yang kamu cinta, tapi juga soal dua keluarga yang tiba-tiba harus belajar hidup berdampingan. Salah satu yang paling menantang adalah membangun hubungan dengan mertua. Mengingat kamu dan mertua berasal dari latar belakang yang berbeda, wajar jika kalian memiliki pola pikir yang berbeda, salah satu hal yang cukup sensitif adalah soal balas budi.
Ya, tak sedikit orangtua yang merasa sudah banyak berjasa dalam kehidupan anak-anaknya dan kemudian menuntut balas budi. Awalnya, mungkin mereka hanya menginginkan validasi dan tidak ingin dilupakan. Namun, kadang tanpa sadar ini berubah jadi semacam tekanan. Kalau sudah begini, pasti rasanya melelahkan. Nah, supaya tidak terus menerus merasa bersalah dan terjebak, ini beberapa cara yang bisa dilakukan jika kamu memiliki mertua yang menuntut balas budi.
1. Pahami bahwa ini soal pola pikir, bukan sekadar uang

Banyak orangtua hidup dengan pola pikir bahwa kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Karenanya, mungkin mertua kamu juga termasuk salah satu yang menganut pemikiran bahwa pengorbanan mereka harus dibayar. Jadi saat mereka membantu—baik secara finansial, tenaga, atau waktu—mereka menganggap itu sebagai investasi emosional.
Dengan memahami ini, kamu bisa lebih tenang. Bukan berarti kamu membenarkan sikap menuntut. Akan tetapi, setidaknya kamu tahu bahwa ini soal mindset lama, bukan semata ingin menyakiti kamu.
2. Bedakan antara hormat dan mengorbankan diri sendiri

Menghormati orangtua itu penting. Namun, bukan berarti kamu harus selalu menuruti semua permintaan, apalagi kalau itu membuat kamu tertekan. Kalau kamu selalu bilang “iya” karena takut dibilang menantu durhaka atau tidak berbakti, lama-lama kamu akan kelelahan secara emosional. Ingat, pernikahan juga perlu ruang aman untuk kamu dan pasangan. Kamu boleh hormat tanpa harus kehilangan batas diri.
3. Bangun batasan secara halus tapi konsisten

Demi menjaga kewarasan, penting untuk membuat batasan dan menyampaikannya. Namun, penyampaiannya tidak harus dengan nada keras. Justru yang lembut tapi tegas itu paling efektif. Misalnya,
Atau,
“Kami sangat menghargai perhatian Bapak dan Ibu, tapi kami juga sedang menata keuangan sendiri.”
Kalimatnya sopan, tapi arahnya jelas: kamu tidak bisa terus berada di bawah bayang-bayang utang budi.
4. Jangan terjebak dalam permainan rasa bersalah

Mertua yang menuntut balas budi sering memakai senjata paling ampuh, yaitu rasa bersalah. Mulai dari kalimat bernada sedih, menyindir, sampai membandingkan kamu dengan orang lain. Kalau kamu selalu terpancing, mereka akan makin sering melakukannya. Bukan karena jahat, tapi karena sadar bahwa cara ini berhasil. Jadi, cobalah belajar mengatakan ini dalam hati:
“Aku menghargai jasanya, tapi aku tidak wajib mengorbankan hidupku demi menebusnya.”
5. Tunjukkan terima kasih lewat sikap, bukan keterpaksaan

Balas budi itu idealnya lahir dari keikhlasan, bukan paksaan. Kamu bisa tetap menunjukkan hormat lewat hal-hal kecil, seperti:
Sering menyapa
Membantu saat dibutuhkan
Menghargai pendapat, meski tidak selalu diikuti
Menjaga komunikasi yang baik
Dengan begitu, kamu tetap jadi menantu yang sopan, tanpa harus kehilangan kendali atas hidupmu sendiri.
6. Ingat, pernikahan bukan ajang membayar utang emosional

Kamu menikah untuk membangun kehidupan baru, bukan untuk jadi “alat bayar” atas semua pengorbanan masa lalu. Orangtua atau mertua memang berjasa besar bagi pasanganmu atau dirimu. Namun, begitu kamu menikah, fokus utama kamu adalah membangun rumah tangga yang sehat, baik secara mental, emosional, dan finansial. Kalau kamu terus hidup dalam bayang-bayang “utang budi”, kamu tidak akan pernah benar-benar merdeka dan bisa menjalani kehidupan pernikahan yang damai.
Menghadapi mertua yang menuntut balas budi memang tidak mudah. Di satu sisi kamu ingin jadi menantu yang baik, tapi di sisi lain kamu juga ingin hidup dengan tenang. Kuncinya ada di keseimbangan, yaitu tetap hormat, tapi punya batas. Tetap berterima kasih, tapi tidak mengorbankan diri. Karena rumah tangga yang sehat bukan dibangun dari rasa bersalah, tapi dari rasa saling menghargai.

















