ilustrasi orangtua bermain bersama anak (pexels.com/gustavo-fring)
Meskipun pola parenting modern cenderung lebih humanis, suportif, dan hangat, bukan berarti disiplin dan nilai moral ditinggalkan. Survei menunjukkan bahwa 4 dari 5 responden sangat setuju bahwa fondasi utama dalam membesarkan anak adalah pendidikan agama dan nilai moral, serta kedisiplinan tetap harus dipertahankan dalam parenting.
Pendekatan yang dipilih orangtua saat ini lebih menekankan pada keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Alih-alih menuntut anak untuk patuh tanpa alasan, 58 persen responden menolak ide bahwa anak harus diajarkan patuh tanpa berdiskusi. Sebaliknya, 99,2 persen orangtua lebih memilih mengajak bicara saat anak membantah, bukan memberi hukuman langsung.
Respons yang diberikan orangtua ketika anak temperamental itu, memengaruhi dirinya saat dewasa. Dalam buku Life Span Development edisi ke-13 (2010), dikatakan bahwa orangtua yang peka, menerima, tidak memberikan hukuman, dan membiarkan anak menentukan langkahnya sendiri akan menjadikan anak itu tumbuh menjadi individu yang lebih stabil secara emosional.
Meski begitu, 27,3 persen responden masih melihat hukuman fisik sebagai hal penting dalam mendisiplinkan anak, walaupun mayoritas besar (72,7 persen) menilai hal itu sudah tidak relevan. Angka ini menunjukkan adanya transisi: disiplin tetap dijaga, tetapi lewat pendekatan yang lebih rasional, komunikatif, dan mendidik.
Dalam pola pengasuhan modern yang dianggap ideal, gaya authoritative parenting (27,3 persen) mendapat posisi penting karena menekankan kemandirian anak tetapi tetap memberi batasan. Nilai-nilai lama seperti etika dan sopan santun (84,2 persen), kemandirian sejak dini (64,4 persen), serta disiplin tinggi (50,5 persen) tetap dianggap penting untuk diwariskan, meskipun dalam atmosfer yang lebih suportif dan penuh dialog.
Bahkan saat membayangkan pola parenting ideal, 78,9 persen responden memilih untuk mengombinasikan pola pengasuhan lama dengan pola baru, bukan membuang sepenuhnya. Ini menandakan bahwa generasi sekarang tetap menghargai nilai tradisi, tetapi menerjemahkannya dengan cara yang lebih adaptif sesuai tantangan zaman.
Dengan kata lain, parenting modern bukan berarti 'bebas tanpa aturan.' Justru, orangtua kini lebih sadar bahwa aturan dan disiplin harus hadir bersama rasa aman, komunikasi terbuka, dan dukungan emosional agar anak tumbuh bukan hanya patuh, tetapi juga bertanggung jawab, percaya diri, dan mandiri.
Seperti yang disebutkan salah satu responden berinisial DA (31), "Komunikasi dua arah penting banget bagiku. Pertama, biar anak ngerasa nyaman buat terbuka sama orangtuanya. Kedua, aku gak suka sama kesan orangtua yang superpower dan nganggep anak kayak gak tahu apa-apa, jadi harus selalu dengar dan nurut apa kata ortu."
Hasil serupa juga didapatkan dalam survei IMGR ketika gen Z dan milenial yang sudah jadi orangtua, ditanya perihal parenting value yang ingin mereka terapkan. Sebanyak 48 persen responden mengatakan ingin membesarkan anak-anak yang respectful dan 47 persen ingin mengajarkan nilai-nilai keagamaan. Lalu, di angka 37 persen, responden mengaku juga ingin membesarkan anak dengan empati serta emotional awareness.