Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jadi Ibu Baru Saja Berat, Kenapa Masih Diberi Tekanan dari Keluarga?
ilustrasi ibu dan bayi (unsplash.com/Kevin Liang)
  • Bayi berusia 28 hari meninggal setelah kritis, diduga akibat diberi telur mentah oleh neneknya; kasus ini menyoroti risiko campur tangan pengasuhan yang tak selaras dengan keselamatan bayi.
  • Ibu perlu dihormati sebagai pengambil keputusan utama pengasuhan, sementara orangtua baru disarankan menetapkan batas tegas agar masukan keluarga tidak mengganggu pola asuh konsisten.
  • Keluarga perlu menyampaikan kekhawatiran secara jelas, positif, dan tidak menghakimi, karena ibu pascamelahirkan membutuhkan rasa aman serta dukungan bagi pemulihan fisik dan emosional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seorang bayi meninggal dunia setelah mengalami kondisi kritis, diduga akibat diberi telur mentah oleh neneknya, yang merupakan ibu dari ayah bayi tersebut. Kisah ini viral di media sosial karena bayi yang baru berusia 28 hari itu sempat menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya meninggal dunia. Peristiwa tragis ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga sekaligus pengingat akan pentingnya memahami kebutuhan dan keselamatan bayi, terutama pada masa awal kehidupan.

Di balik tragedi tersebut, muncul persoalan lain yang kerap dihadapi orangtua, khususnya ibu, dalam menjalani pengasuhan anak. Seorang ibu kerap hadapi tekanan dan campur tangan dari pihak eksternal, termasuk keluarga sendiri.

Keputusan seorang ibu dalam merawat bayinya tak jarang berhadapan dengan perbedaan pandangan antar generasi, termasuk keyakinan atau tradisi turun-temurun yang belum tentu sejalan dengan petunjuk medis. Jika tidak disikapi dengan tepat, perbedaan tersebut berpotensi menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan anak.

Menjadi seorang ibu saja sudah membawa tanggung jawab yang besar, terlebih ketika harus menghadapi tekanan dari lingkungan terdekatnya, saat ia justru membutuhkan dukungan, rasa aman, dan ruang untuk mengambil keputusan terbaik bagi buah hatinya.

1. Pentingnya menghormati ibu sebagai pengambil keputusan utama dalam merawat bayinya

ilustrasi ibu dan bayi (pexels.com/RDNE Stock project)

Dalam pengasuhan, ibu kerap menjadi sosok yang paling banyak terlibat dalam pengambilan keputusan demi kesejahteraan anak. Naluri untuk melindungi buah hati menjadi salah satu hal yang mendorong ibu untuk memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, baik secara fisik maupun psikologis.

Hal ini sejalan dengan pandangan Dr. Becky Kennedy yang dikutip dari laman Parenting Place, "Pertama dan terutama, tugas kita adalah menjaga anak-anak kita tetap aman, secara fisik dan psikologis."

Oleh karena itu, keputusan seorang ibu dalam mengasuh anak perlu dihormati dan tidak semestinya diabaikan begitu saja. Sebab, keputusan tersebut umumnya didasarkan pada pengetahuan, pengalaman, serta pertimbangan mengenai kebutuhan dan kondisi anak.

Ibu tentu memahami bahwa keselamatan dan kesejahteraan anak menjadi prioritas. Maka, orang-orang di sekitar sebaiknya memberikan ruang untuk menentukan pilihan pengasuhan yang dinilai paling tepat bagi buah hatinya.

2. Dilema ibu baru harus merawat bayi sekaligus menghadapi perbedaan pendapat dengan orangtua

ilustrasi ibu melahirkan (pexels.com/Jonathan Borba)

Orangtua terkadang ikut campur dalam keputusan yang diambil oleh anak mereka, termasuk soal pola asuh yang diterapkan kepada cucu. Menurut terapis keluarga asal Chicago, Bethany Cook, hal ini wajar terjadi karena selama bertahun-tahun, orangtua terbiasa bertanggung jawab atas kesejahteraan anak-anaknya. Akibatnya, mereka mungkin kesulitan menyadari bahwa anak mereka telah dewasa dan mampu mengambil keputusan sendiri. Bahkan, kakek dan nenek terkadang merasa masih memiliki kendali atas keputusan yang berkaitan dengan pengasuhan cucu.

Untuk mengatasi hal tersebut, Bethany menyarankan orangtua baru menetapkan boundaries yang tegas kepada kakek dan nenek. Penting untuk menegaskan bahwa tanggung jawab utama dalam mengasuh anak berada di tangan orangtuanya, bukan kakek dan nenek. Terlalu banyak masukan dari berbagai pihak juga berpotensi membuat orangtua baru kebingungan dan kesulitan menentukan pola asuh yang konsisten.

3. Bijaksana dalam menyampaikan keresahan

ilustrasi ibu dan anak berpelukan (pexels.com/Yan Krukau)

Orangtua maupun mertua terkadang melontarkan komentar yang menyakiti hati ibu setelah melahirkan. Ucapan yang terdengar seperti sindiran atau kritik tajam dapat memicu rasa sakit hati, kemarahan, hingga kelelahan emosional. Dilansir Parents, penghinaan dan komentar sinis yang dilontarkan secara terus-menerus dapat menimbulkan luka emosional yang nyata.

Menurut Bethany, orangtua terkadang menggunakan kalimat yang menyakitkan karena ingin menyampaikan kekhawatiran tertentu, tetapi tidak tahu cara mengomunikasikannya dengan baik. Misalnya, ketika nama cucunya terlalu sulit diucapkan, kakek-nenek mungkin melontarkan komentar seperti, "Nama yang aneh." Padahal, di balik ucapan tersebut, mereka bisa jadi khawatir cucunya akan mendapat cibiran dari orang lain karena pelafalan nama itu terlalu rumit.

Oleh karena itu, ketika orangtua atau mertua memiliki kekhawatiran terkait ibu maupun bayi, penting untuk menyampaikannya dengan bahasa yang jelas, positif, dan tidak menghakimi. Mempertimbangkan perkataan serta perilaku sebelum bertindak dapat membantu mencegah munculnya luka emosional yang tidak perlu.

Terlebih, ibu yang baru melahirkan masih berada dalam masa pemulihan fisik dan emosional sehingga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama keluarga. Support system yang mendukung pemulihan ibu dapat dibentuk dengan membuatnya merasa aman, bukan komentar yang justru menambah beban.

Curated For You

Editorial Team

Related Article