Centers for Disease Control and Prevention, “Flu & Pregnancy,” diakses Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Signs and Symptoms of Flu,” diakses Oktober 2026.
Ruitong Wang, Wenxin Yan, Min Du, Liyuan Tao, and Jue Liu, “The Effect of Influenza Virus Infection on Pregnancy Outcomes: A Systematic Review and Meta-Analysis of Cohort Studies,” International Journal of Infectious Diseases 105 (2021): 567–78, https://doi.org/10.1016/j.ijid.2021.02.095.
Centers for Disease Control and Prevention, “Recommendations for Obstetric Health Care Providers Related to Use of Antiviral Medications for the Treatment and Prevention of Influenza,” diakses Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Treating Flu with Antiviral Drugs,” diakses Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Flu Vaccine Safety and Pregnancy,” diakses Oktober 2026.
Zakieh Ostad-Ahmadi, Sara Boccalini, Mohammad-Reza Modabberi, and Anahita Behzadi, “Evaluating the Protective Effects of Influenza Vaccination in Pregnant Women and Their Infants: An Umbrella Review,” Iranian Journal of Public Health 54, no. 12 (2025): 2634–46, https://doi.org/10.18502/ijph.v54i12.20816.
Bahaya Influenza bagi Ibu Hamil dan Janin

Kehamilan menurunkan daya tahan tubuh, sehingga flu lebih berisiko menyebabkan sakit berat, pneumonia, dan rawat inap; kerentanan ini juga perlu diperhatikan hingga dua minggu setelah melahirkan.
Demam dan flu saat hamil dikaitkan dengan beberapa risiko pada janin, termasuk lahir mati, tetapi hubungan sebab akibat serta dampak pada hasil kehamilan lain belum pasti.
Ibu hamil dengan gejala flu perlu segera menghubungi tenaga kesehatan. Antivirus dapat dianjurkan, sementara vaksin suntik dianjurkan untuk membantu melindungi ibu dan bayi.
Kehamilan membawa banyak perubahan, baik pada tubuh maupun emosi. Salah satu perubahan penting terjadi pada sistem kekebalan tubuh. Selama hamil, daya tahan tubuh secara alami menurun agar tubuh tidak menganggap janin sebagai benda asing yang harus dilawan. Akibatnya, ibu hamil menjadi lebih rentan terkena infeksi, termasuk flu atau influenza.
Meski sering dianggap penyakit ringan, tetapi flu pada ibu hamil tidak boleh disepelekan. Dibanding perempuan yang tidak hamil, ibu hamil memiliki risiko lebih besar mengalami komplikasi akibat flu. Karena itu, menjaga kesehatan dan melindungi diri dari flu selama kehamilan menjadi hal yang sangat penting.
Di sini kamu akan memahami bagaimana flu dapat memengaruhi kehamilan, serta berbagai cara aman untuk mencegah dan mengatasinya. Perlu diingat, informasi ini hanya bersifat umum dan tidak menggantikan konsultasi medis dengan dokter. Jika kamu sedang hamil dan mengalami gejala flu, sebaiknya segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Table of Content
1. Risiko sakit berat dan rawat inap lebih tinggi
Ibu hamil termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi flu. Risiko ini juga masih perlu diperhatikan hingga dua minggu setelah melahirkan.
Flu dapat berkembang menjadi pneumonia, yakni infeksi yang menyerang paru-paru. Pada sebagian orang, flu juga dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya.
2. Kondisi janin dapat ikut terdampak
Demam merupakan salah satu gejala flu. Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara demam selama kehamilan dan peningkatan risiko kondisi tertentu pada janin. Namun, hal ini bukan berarti setiap ibu hamil yang mengalami demam pasti akan mengalami masalah kehamilan.
Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis yang melibatkan 17 studi kohort dengan lebih dari 2,3 juta peserta menemukan bahwa flu selama kehamilan berkaitan dengan peningkatan risiko lahir mati. Di sisi lain, penelitian tersebut tidak menemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara flu saat hamil dengan kelahiran prematur, kematian janin, bayi kecil untuk masa kehamilan, maupun berat lahir rendah. Karena itu, para peneliti menilai bahwa dampak flu terhadap berbagai hasil kehamilan tersebut masih belum pasti.
Penting untuk dipahami bahwa temuan ini berasal dari penelitian observasional. Artinya, penelitian tersebut hanya menunjukkan adanya hubungan, bukan sebab akibat.
3. Gejala flu perlu segera disampaikan kepada tenaga kesehatan

ilustrasi sakit flu (freepik.com/benzoix) Jika sedang hamil dan mengalami gejala yang mengarah ke flu, hubungi dokter atau tenaga kesehatan, jangan menunggu kondisi memburuk.
Dokter mungkin menganjurkan pengobatan antivirus sesegera mungkin bagi ibu hamil dengan influenza yang terkonfirmasi maupun yang masih dicurigai.
Oseltamivir merupakan obat antivirus pilihan untuk kehamilan dan harus digunakan sesuai arahan dokter.
Antivirus umumnya memberi manfaat paling besar bila dimulai dalam satu hingga dua hari sejak gejala muncul. Namun, bagi orang yang berisiko mengalami komplikasi berat, pengobatan yang dimulai lebih lambat pun masih dapat bermanfaat.
Segera cari pertolongan medis jika muncul sesak napas, nyeri atau tekanan menetap di dada, kebingungan, tanda dehidrasi, atau demam maupun batuk yang sempat membaik lalu kembali memburuk.
4. Vaksinasi membantu melindungi ibu dan bayi
Vaksin flu suntik aman diberikan pada trimester kehamilan mana pun. Setelah vaksinasi, tubuh ibu akan membentuk antibodi yang juga dapat diteruskan kepada janin, sehingga membantu melindungi bayi pada awal kehidupannya.
Sebaliknya, vaksin flu semprot hidung tidak dianjurkan untuk ibu hamil karena mengandung virus hidup.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa vaksinasi saat hamil dapat menurunkan risiko flu pada ibu dan bayi. Selain itu, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin flu meningkatkan risiko keguguran atau kelainan bawaan.
Meski tidak bisa menjamin seseorang tidak akan terkena flu, tetapi vaksinasi tetap menjadi salah satu cara terbaik untuk mengurangi risiko sakit berat selama kehamilan.
Referensi


.jpg)




















