Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Saat Keluarga Suka Cerita Soal Masalah Pribadi ke Orang Lain
ilustrasi keluarga di ruang keluarga (pexels.com/Annushka Ahuja)
  • Cerita pribadi yang dibagikan keluarga kepada kerabat dapat membuat seseorang merasa kehilangan kendali atas informasi dirinya dan mengurangi rasa aman untuk terbuka.
  • Pengalaman tersebut mendorong seseorang memberi jawaban singkat, menyimpan masalah, atau mencari tempat curhat lain yang dianggap lebih mampu menjaga privasi.
  • Menetapkan batas secara jelas, termasuk meminta cerita tidak disebarkan, dapat membantu menjaga privasi tanpa harus sepenuhnya menutup diri dari keluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada satu momen yang mungkin terasa sepele, tetapi diam-diam membuatmu kapok bercerita. Kamu baru saja pulang dan ingin menceritakan masalah yang sedang dipikirkan kepada keluarga. Ceritanya memang tidak terlalu panjang, tetapi cukup pribadi untuk tidak didengar oleh orang lain. Beberapa hari kemudian, kamu bertemu kerabat dan tiba-tiba ternyata mereka sudah tahu cerita yang kamu ceritakan semalam.

Awalnya kamu mungkin menganggapnya sebagai hal biasa. “Oh, mungkin cuma cerita ke satu orang.” Namun, semakin sering terjadi, kamu mulai lebih berhati-hati saat akan bercerita ke anggota keluarga. Ada bagian cerita yang sengaja dipotong, ada masalah yang akhirnya disimpan sendiri, bahkan ada momen ketika kamu memilih pergi ke kamar daripada ikut mengobrol. Bukan karena kamu tidak sayang keluarga, tetapi karena kamu mulai merasa tidak punya kendali atas cerita tentang dirimu sendiri.

1. Kamu mulai merasa cerita pribadi bukan lagi milikmu

Ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/Askar Abayev)

Dulu, bercerita kepada keluarga mungkin terasa seperti pulang ke tempat yang aman. Kamu gak perlu terlalu banyak berpikir sebelum menceritakan masalah kuliah, pekerjaan, pertemanan, sampai hubungan. Namun, perasaan itu bisa berubah ketika cerita yang seharusnya berhenti di ruang keluarga justru berpindah ke orang lain.

Menurut Jeanie Cave, seorang psikolog klinis, “Jadi, kalau sesuatu bersifat pribadi, orang lain tidak punya hak untuk mengetahuinya jika hal tersebut tidak berdampak langsung pada mereka. Kamu berhak menyimpan hal itu sebagai sesuatu yang privat, untuk kamu simpan sendiri,” dikutip dari Listen Notes.

Masalahnya bukan lagi sekadar siapa yang mengetahui ceritamu. Ada perasaan bahwa kamu seharusnya punya hak menentukan informasi tentang dirimu yang boleh dibagikan dan kepada siapa. Ketika keluarga kamu terus mengabaikan hak itu, wajar jika kamu mulai berpikir ulang sebelum akhirnya memilih terbuka dengan keluarga.

2. Akhirnya, lebih mudah diam daripada menjelaskan semuanya

ilustrasi memilih diam (pexels.com/Demeter Attila)

Suatu hari, keluarga kembali bertanya, “Gimana masalahmu yang kemarin?”. Kamu mungkin hanya menjawab, “Udah, kok”. Bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena kamu tidak ingin kejadian ceritamu tersebar terulang kembali.

Kamu mulai memilih jawaban yang aman. Cerita tentang pekerjaan cukup sebatas “baik-baik saja”. Masalah dengan teman cukup dijawab “aman”. Bahkan ketika sedang membutuhkan tempat untuk bercerita, kamu justru mencari orang lain yang dianggap lebih bisa menjaga privasi.

Keenggananmu untuk bercerita bukan selalu karena kamu sedang menjauh secara emosional. Mungkin kamu hanya sedang belajar bahwa tidak semua orang harus mengetahui semua cerita dari hidupmu.

3. Batasan mungkin lebih sehat daripada terus memendam

ilustrasi menyampaikan batasan kepada orangtua (pexels.com/cottonbro studio)

Setelah beberapa kali ceritamu sampai ke telinga orang lain, kamu mungkin mulai memilih diam. Setiap kali ada masalah, kamu menimbang-nimbang dulu, kalau cerita ke keluarga, apakah nanti akan ada orang lain yang tahu? Kalau tidak cerita, apakah semuanya harus kamu tanggung sendiri? Dua-duanya terasa melelahkan.

Namun, menjaga privasi tidak selalu berarti harus menutup diri sepenuhnya. Kamu tetap bisa bercerita, hanya saja kamu bisa mulai lebih jelas menentukan bagian mana yang ingin dibagikan. Kamu bisa mengatakan, “Aku cerita ini karena percaya sama kamu, tapi tolong jangan ceritakan ke orang lain”. Kalimat sederhana itu mungkin terasa canggung di awal, tetapi justru membantu menunjukkan batas yang kamu butuhkan.

Seperti yang dijelaskan oleh Jill E. Daino, LCSW-R, terapis dari Talkspace, “Menetapkan batas dengan keluarga mungkin terasa sulit pada awalnya, tetapi ingat, batas yang jelas dapat membantu kamu merasa aman dan terlindungi, meskipun orang lain tidak selalu menyukai atau menyetujuinya.” dikutip dari laman yang sama.

Besoknya, ketika ibu kembali bertanya, “Ada cerita apa hari ini?”, kamu mungkin masih menjawab seperti biasa. Bedanya, kali ini kamu tahu ada beberapa hal yang tidak perlu diceritakan. Kamu tetap bisa berbagi tentang harimu, tertawa bersama, bahkan meminta pendapat ketika membutuhkannya.

Hanya saja, ada bagian dari hidupmu yang kini kamu pilih untuk kamu simpan lebih hati-hati. Kamu sedang belajar bahwa kedekatan juga membutuhkan batas dan mungkin, dari batas kecil itu kamu bisa kembali merasa aman untuk bercerita tanpa perlu khawatir ke mana cerita tersebut akan pergi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article