Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Bikin Anak Berani Cerita saat Alami Sesuatu yang Gak Menyenangkan

5 min read
5 Cara Bikin Anak Berani Cerita saat Alami Sesuatu yang Gak Menyenangkan
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Ketika anak mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti dimarahi guru, bertengkar dengan teman, diejek, dikucilkan, bullying, atau merasa takut terhadap sesuatu di sekolah, tidak semua anak akan langsung bercerita kepada orangtua. Sebagian anak justru memilih diam karena khawatir dimarahi, disalahkan, dianggap berlebihan, atau takut orangtua langsung mengambil tindakan yang membuat keadaan semakin rumit.

Karena itu, membuat anak berani bercerita bukan hanya soal sering bertanya, “Ada masalah apa di sekolah?”. Yang tidak kalah penting adalah membangun suasana di rumah yang membuat anak merasa aman ketika ingin membuka cerita.

  1. 1. Biasakan mendengarkan anak tanpa langsung menghakimi

    Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)
    Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)

    Anak akan lebih mudah bercerita ketika mereka merasa bahwa orangtua benar-benar mau mendengarkan. Karena itu, ketika anak mulai membuka percakapan tentang sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, usahakan untuk tidak langsung memotong, menyalahkan, atau memberikan ceramah.

    Bahkan ketika cerita anak terdengar sepele bagi orang dewasa, pengalaman tersebut mungkin terasa sangat besar bagi anak. American Psychological Association (APA) menyarankan orangtua untuk mendengarkan secara aktif ketika anak membicarakan kekhawatirannya.

    "Saat anak-anak Anda membicarakan hal-hal yang menjadi kekhawatiran mereka, hentikan apa pun yang sedang Anda lakukan dan dengarkanlah. Tunjukkan minat terhadap apa yang mereka sampaikan tanpa terkesan mencampuri urusan pribadi mereka secara berlebihan. Dengarkan sudut pandang mereka, meskipun mungkin sulit untuk didengar. Biarkan mereka menyelesaikan penjelasannya sebelum Anda memberikan tanggapan," dikutip dalam panduan APA tentang Talking with your children about stress.

  2. 2. Ajukan pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan yang membuat anak terpojok

    Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Helena Lopes)
    Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Helena Lopes)

    Cara bertanya juga menentukan apakah anak akan melanjutkan cerita atau justru menutup diri. Pertanyaan seperti “Kamu dibully, ya?”, “Siapa yang salah?” atau “Kamu ngapain sampai dia begitu?” bisa membuat anak merasa sedang diinterogasi.

    Sebaliknya, pertanyaan terbuka memberikan ruang bagi anak untuk menjelaskan kejadian dengan bahasanya sendiri. Grace Berman, LCSW, pekerja sosial yang berspesialisasi dalam perawatan dan evaluasi anak-anak, remaja, dan dewasa muda dengan gangguan kecemasan, termasuk gangguan obsesif-kompulsif (OCD), dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD), menyarankan orangtua untuk menghindari pertanyaan yang menyudutkan.

    "Pertanyaan terbuka membantu anak merenungkan pengalaman emosional mereka sendiri, yang merupakan bagian penting dalam mengelola kecemasan. Kecemasan sering kali muncul pada situasi tertentu; oleh karena itu, penting untuk tidak membuat asumsi mengenai emosi anak, melainkan membiarkan mereka menggali pemahaman tersebut dan berbagi informasi tentang apa yang mereka rasakan," jelasnya dalam Child Mind Institute.

  3. 3. Validasi perasaan anak sebelum memberikan solusi

    Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Tamara Govedarovic)
    Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Tamara Govedarovic)

    Salah satu kesalahan yang cukup umum adalah terlalu cepat memberikan solusi. Begitu anak mengatakan bahwa ia dijauhi teman misalnya, orangtua langsung berkata, “Ya sudah, cari teman lain saja.”

    Padahal, sebelum membutuhkan solusi, anak mungkin sedang membutuhkan seseorang yang memahami bahwa pengalaman tersebut memang menyakitkan. American Psychological Association menyarankan orangtua untuk memahami sudut pandang anak sebelum memberikan saran.

    "Luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh anak atau remaja Anda. Sering kali, yang mereka butuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengarkan mereka. Cobalah untuk memahami sudut pandang mereka sebelum memberikan saran," dikutip dalam panduan APA berjudul Talking to kids when they need help.

    "Terkadang, rasa cemas Anda sendiri bisa mendorong Anda untuk mencoba memperbaiki segalanya. Namun, sering kali bantuan terbaik yang bisa Anda berikan adalah mendengarkan dengan penuh perhatian," lanjutnya.

  4. 4. Jangan membuat anak takut dengan reaksi orangtua

    Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Ксения)
    Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Ксения)

    Anak sering kali bukan tidak ingin bercerita, melainkan takut dengan apa yang akan terjadi setelah ia bercerita. Mereka mungkin khawatir orangtua akan langsung menelepon guru, mendatangi orangtua teman, memarahi seseorang, atau justru menyalahkan dirinya sendiri.

    Kekhawatiran tersebut dapat membuat anak memilih menyimpan masalah sendirian. Jadi, ketika anak akhirnya berani bercerita, orangtua perlu berusaha mengendalikan reaksi spontan seperti berteriak, panik, atau langsung menyalahkan seseorang.

    APA juga menyarankan orangtua untuk melembutkan reaksi yang terlalu kuat karena anak dapat berhenti mendengarkan ketika orangtua terlihat marah, defensif, atau menghakimi. Kalimat seperti “Kamu aman cerita sama Mama,” “Kita pikirkan bersama apa yang harus dilakukan,” atau “Mama tidak akan menyalahkan kamu karena cerita” dapat membantu membangun rasa aman.

  5. 5. Bangun kebiasaan ngobrol sebelum anak mengalami masalah

    Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Vitaly Gariev)
    Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Vitaly Gariev)

    Anak tidak bisa dipaksa menjadi terbuka hanya ketika masalah sudah terjadi. Kebiasaan bercerita justru lebih mudah tumbuh ketika komunikasi antara anak dan orangtua sudah terbangun dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip Child Mind Institute, psikolog klinis Jerry Bubrick, PhD, menyarankan untuk melakukan percakapan santai, misalnya saat makan malam atau ketika berjalan-jalan bersama keluarga.

    Ia juga mengandalkan pendekatan sederhana namun cerdas untuk membuat anak mau terbuka. Tapi Jerry Bubrick mengingatkan untuk tidak membuka obrolan saat menjelang tidur karena bisa menumbulkan rasa cemas pada anak.

    "Waktu menjelang tidur bukanlah saat yang tepat. Anak-anak mulai bersiap untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas. Anak-anak yang mudah cemas cenderung memiliki lebih banyak kekhawatiran di malam hari. Jangan memancing mereka ke arah kekhawatiran yang lebih besar. Jangan pula membahas hal ini saat mereka baru bangun tidur. Carilah waktu yang tepat-waktu yang netral-saat tidak ada pertengkaran hebat sebelumnya. Carilah momen yang tenang," ujarnya.

    Membuat anak berani cerita membutuhkan proses dan tidak bisa dilakukan hanya dengan satu percakapan. Ketika anak melihat bahwa ceritanya tidak langsung dibalas dengan kemarahan, ceramah, atau tuduhan, perlahan ia akan belajar bahwa orangtua bukan hanya tempat meminta izin atau menyelesaikan masalah, tetapi juga tempat yang aman untuk bercerita.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More