6 Konflik Orangtua yang Sebaiknya Gak Dihadapkan Langsung pada Anak

- Konflik orangtua yang penuh permusuhan atau melibatkan anak dapat berkaitan dengan masalah emosional dan perilaku; konflik konstruktif tidak selalu berdampak buruk.
- Anak sebaiknya tidak dilibatkan dalam detail perselingkuhan, pertengkaran keuangan, saling menyalahkan, adu pola asuh, maupun konflik dengan keluarga besar.
- Dalam rencana perpisahan, perceraian, atau hak asuh, anak perlu informasi sesuai usia tanpa dipaksa memilih pihak, menjadi perantara, atau memikul tanggung jawab orangtua.
Orangtua tentu tidak selalu sepakat dalam segala hal. Perbedaan pendapat tentang uang, pekerjaan rumah, pola asuh, maupun masalah dalam hubungan adalah hal yang bisa terjadi dalam kehidupan berkeluarga. Namun, ada perbedaan antara anak mengetahui bahwa orangtuanya sedang punya masalah dan anak dibuat menjadi bagian dari masalah tersebut.
Konflik orangtua yang penuh permusuhan atau membuat anak merasa harus ikut bereaksi dapat berkaitan dengan masalah penyesuaian emosional dan perilaku pada anak. Sebaliknya, konflik yang dapat dikelola secara konstruktif tidak selalu berdampak buruk dan dalam kondisi tertentu justru dapat menjadi kesempatan bagi anak melihat bagaimana perbedaan diselesaikan.
Karena itu, bukan berarti semua persoalan harus disembunyikan, tetapi ada beberapa konflik yang sebaiknya tidak dibebankan langsung kepada anak. Apa saja? Simak beberapa konfliknya di bawah ini!
1. Perselingkuhan dan detail pengkhianatan

ilustrasi seorang anak dan orangtua yang bertengkar (magnific.com/magnific) Ketika terjadi perselingkuhan, wajar jika salah satu atau kedua orangtua membutuhkan tempat untuk meluapkan emosi. Namun, anak sebaiknya tidak dijadikan tempat untuk menceritakan detail perselingkuhan, menunjukkan bukti percakapan, atau menjelaskan siapa yang lebih bersalah. Informasi seperti itu terlalu dekat dengan konflik pasangan dan dapat membuat anak merasa harus memahami persoalan orang dewasa yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
Anak juga tidak seharusnya diminta menentukan siapa yang benar atau memilih untuk membela salah satu pihak. Mereka tetap memiliki hubungan emosional dengan kedua orangtuanya, sehingga ditempatkan di tengah konflik dapat menimbulkan tekanan loyalitas. Panduan American Academy of Pediatrics juga menyarankan agar orangtua tidak memaksa anak memilih pihak atau melibatkan mereka dalam pertengkaran orangtua.
2. Masalah keuangan rumah tangga

ilustrasi pasangan membahas keuangan (pexels.com/Mikhail Nilov) Persoalan uang bisa menjadi sumber konflik yang sangat sensitif, mulai dari utang, kehilangan pekerjaan, pengeluaran berlebihan, hingga perdebatan mengenai siapa yang paling banyak berkontribusi. Anak boleh saja mengetahui informasi keuangan keluarga yang memang perlu mereka pahami, terutama jika kondisi tersebut memengaruhi kehidupan sehari-hari. Namun, menjadikan mereka pendengar pertengkaran atau tempat menyampaikan rasa frustrasi sebaiknya dihindari.
Kalimat seperti, "Kalau bukan karena ayahmu, kita tidak akan sesusah ini" dapat membuat anak menghubungkan kondisi keluarga dengan salah satu orangtuanya. Bahkan ketika anak tidak diminta memilih pihak secara langsung, ia bisa merasa perlu membela salah satunya. Karena itu, pembicaraan mengenai persoalan finansial yang penuh emosi sebaiknya dilakukan secara pribadi, bukan di hadapan anak.
3. Pertengkaran tentang siapa yang paling bersalah

ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/Alex Green) Tidak semua konflik harus memiliki satu pihak yang dianggap sebagai penjahat dan satu pihak sebagai korban. Dalam hubungan jangka panjang, masalah sering kali lebih kompleks daripada itu. Ketika orangtua saling mengungkit kesalahan lama, menyebut kekurangan pasangan, atau berusaha mendapatkan simpati anak, anak dapat merasa harus ikut menentukan siapa yang pantas dipercaya.
Paparan berulang terhadap konflik orangtua dapat memengaruhi cara anak memproses keamanan dan hubungan di dalam keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa respons emosional dan pikiran anak terhadap konflik antarkelompok orangtua berkaitan dengan berbagai masalah penyesuaian. Karena itu, menyelesaikan persoalan pasangan di hadapan anak dengan pola saling menyalahkan dapat membuat konflik terasa jauh lebih besar bagi mereka.
4. Perbedaan pola asuh yang berubah menjadi adu kewenangan

ilustrasi seorang anak dan orangtua yang bertengkar (magnific.com/yanalya) Perbedaan pendapat soal aturan anak sebenarnya sangat wajar. Masalahnya muncul ketika perbedaan tersebut berubah menjadi saling menjatuhkan di depan anak. Misalnya, satu orangtua menetapkan aturan, lalu yang lain langsung mengatakan bahwa aturan tersebut tidak masuk akal atau sengaja mengabaikannya agar terlihat lebih “baik” di mata anak.
Situasi semacam ini membuat anak berpotensi terjebak dalam konflik loyalitas dan kebingungan mengenai batasan yang berlaku. Anak akhirnya bukan hanya belajar tentang aturan, tetapi juga melihat bahwa orangtuanya menggunakan dirinya sebagai bagian dari pertarungan. Perbedaan pola asuh sebaiknya dibicarakan sebagai persoalan antarpasangan, lalu disepakati bersama bagaimana aturan tersebut akan disampaikan kepada anak.
5. Konflik dengan keluarga besar

ilustrasi seorang anak dan orangtua yang bertengkar (magnific.com/magnific) Masalah dengan mertua, saudara, atau anggota keluarga besar lainnya juga sebaiknya tidak dijadikan beban anak. Ketika orangtua bertengkar tentang siapa yang lebih disayang oleh kakek-nenek, keluarga mana yang harus dikunjungi, atau mengapa salah satu pihak dianggap tidak menghormati keluarga pasangan, anak bisa merasa berada di tengah dua kelompok yang sama-sama penting baginya.
Lebih sulit lagi ketika anak diminta menyampaikan pesan kepada anggota keluarga lain, seperti "Bilang ke nenek kamu jangan ikut campur" atau "Kamu harus tahu siapa yang sebenarnya salah". Dalam kondisi seperti itu, anak bukan lagi sekadar saksi konflik, melainkan dijadikan perantara. Padahal, persoalan antardewasa seharusnya diselesaikan langsung oleh orang dewasa yang terlibat.
6. Rencana berpisah, perceraian, atau persoalan hak asuh yang penuh konflik

ilustrasi pasangan merencanakan berpisah (magnific.com/pressfoto) Ketika hubungan orangtua berada di ambang perpisahan, anak tentu perlu mendapat informasi yang sesuai dengan usianya. Yang sebaiknya dihindari adalah membuat anak mengikuti seluruh proses pertengkaran, mendengarkan ancaman perceraian berulang kali, atau mengetahui persoalan hak asuh sebagai sebuah kompetisi untuk menentukan siapa orangtua yang lebih baik.
Anak perlu merasa bahwa meskipun struktur keluarganya berubah, ia tetap dicintai dan tidak bertanggung jawab atas keputusan orangtuanya. American Academy of Pediatrics menekankan pentingnya tidak memaksa anak memilih pihak dan menjaga persoalan antara orangtua tetap berada di ranah orang dewasa. Konflik perpisahan yang terus-menerus juga dapat menjadi sumber rasa tidak aman bagi anak, terutama ketika mereka merasa harus ikut menyelesaikan atau meredakan masalah orangtuanya.
Melindungi anak dari konflik bukan berarti berpura-pura bahwa keluarga selalu baik-baik saja. Anak tetap boleh mengetahui bahwa orangtuanya sedang menghadapi masalah, terutama ketika perubahan tersebut berdampak langsung pada kehidupannya. Yang penting, jangan sampai mereka merasa harus memilih pihak, menjadi tempat curhat, menyampaikan pesan, atau bertanggung jawab memperbaiki hubungan kedua orangtuanya.
Anak tidak harus tumbuh dalam keluarga yang tidak pernah memiliki konflik. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana orangtua mengelola konflik tersebut. Ketika persoalan pasangan tetap diselesaikan sebagai persoalan orang dewasa, anak masih memiliki ruang untuk menjadi anak tanpa harus ikut memikul beban hubungan yang bukan tanggung jawabnya.







![[QUIZ] Kamu Lagi Burnout, Bosan, atau Memang Sudah Saatnya Resign?](https://image.idntimes.com/post/20250731/pexels-mart-production-7605197_dc361a96-710c-45c2-8241-59436766b720.jpg)






![[QUIZ] Kalau Join Grup WA Warga Kampung Durian Runtuh, Apa Peranmu di Sana?](https://image.idntimes.com/post/20251020/1000006280_661bb9aa-56cc-4d02-87ee-557f9d80773d.jpg)









