Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

#MahakaryaAyahIbu: Mahakarya Potret Keabadian

#MahakaryaAyahIbu: Mahakarya Potret Keabadian
tribunews

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik. 


Malam itu di kamar kosan kecilku yang sepi, kunyalakan kameraku.Kuluhat-lihat kembali hasil-hasil foto jepretanku yang tersimpan di memori kamera tersebut. Jariku bergerak-gerak memencet-mencet tombol kamera. Mataku memandangi foto-foto yang muncul di layar LCD kamera. Namun pikiranku tidak terfokus pada gambar-gambar itu. Pikiranku tertuju pada memori yang lain. Jiwaku sedang menatap sebuah foto yang tidak ada di memori kameraku saat itu, namun ada dalam memori hatiku. Suatu potret yang tak pernah bisa dilupakan. Sebuah kenangan yang secara tak langsung turut andil dalam perjalanan hidupku hingga kini.

Pikiranku kembali melayang ke masa kecilku. Dua wajah yang begitu kukenal itu terbayang dalam pikiranku. Membuatku tiba-tiba merindukan mereka di malam yang sepi di sebuah kota yang jauh dari istana masa kecilku yang damai itu. Aku teringat pada suatu hari saat kami bertiga tertawa bersama di suatu pagi hari yang cerah. Aku memakai baju baru hadiah ulang tahunku. Ayah selalu sibuk memotretku dengan kameranya setiap aku memakai baju baru. Hari itu, aku mencoba untuk mengambil kamera dari tangannya. Memaksa Ayah dan Ibu untuk berpose dan aku memotret mereka dengan kamera ayah yang kini mungkin sudah rusak dan tampak begitu kuno itu.

Saat foto itu selesai dicetak, hasil fotoku tentu saja buruk, namun tidak begitu bagi Ayah dan Ibu. Mereka bilang hasil fotoku bagus. Foto yang sangat tidak memenuhi kaidah estetika fotografi itu dicetak besar dan mereka pajang di rumah kami. Sebuah karya foto pertamaku. Waktu memang berganti, namun sebuah karya selalu abadi. Itulah sebabnya aku ingin mengabadikan setiap peristiwa dalam sebuah karya foto, agar kenangan itu akan terus hidup setiap kita menikmatinya. Aku menikmati apa yang kulakukan ini.

Ayah bukanlah seorang fotografer, namun kegemarannya memotret semua kegiatanku saat kecil dulu telah menginspirasiku. Aku ingin berkarya untuk keabadian. Aku mengambil minat studi fotografi di kuliahku. Aku terus mengasah kepekaanku dalam menangkap peristiwa melalui lensa kamera. Ilmu fotografiku semakin mendalam. Karya-karya fotoku semakin banyak. Salah satunya mungkin akan menjadi sebuah mahakarya. Tiba-tiba aku telah berada di ruang pameran yang tampak besar dan mewah ini. Karya-karya terbaikku terpajang di sepanjang dinding ruangan. Orang-orang datang untuk mengapreasiasi foto-foto yang dipamerkan itu. Para curator dan seniman-seniman besar mengucapkan selamat untukku.

Aku melangkah menuju tempat sebuah foto yang menjadi karya utama dalam pameranku ini. Kulihat kedua orang yang menjadi inspirasiku itu sedang memandangi foto tersebut. Aku memeluk mereka dari belakang, kulihat sudut mata mereka menahan setetes air mata, namun bibir mereka membentuk sebuah senyum kebanggaan untukku. Kualihkan pandanganku dari wajah mereka menuju sebuah foto yang terpajang pada dinding didepan kami. Sebuah foto berjudul Mahakarya Inspirasi Abadi. Kulihat potret kedua orang tuaku di dalam foto itu. Foto yang sudah cukup tua dengan teknik pengambilan gambar yang jauh sekali dengan segala macam teori fotografi yang kupelajari selama ini.

Namun bagiku, foto itu yang telah membawaku hingga sejauh ini. Karya pertamaku itu adalah mahakarya terbaikku. Ayah, Ibu, biarkanlah mahakarya itu tetap mengabadikan kenangan kita sehingga jarak dan waktu takkan pernah bisa memisahkan ikatan kita, membuat sebuah ingatan yang kokoh tak tertandingi dan selalu hidup dalam hati kita. Aku kembali dari semua lamunan panjangku.

Aku masih berada disini, di kamar kosanku ini. Kumatikan kameraku. Kuputuskan untuk menelepon mereka untuk menghilangkan rasa rindu ini. Di sebuah kota kecil nun jauh disana, ayah dan ibupun selalu merindukanku dan mendoakan kesuksesanku setiap mereka memandangi karya fotoku itu. Ayah, ibu..tunggulah sampai waktu itu tiba. Akan kupersembahkan potret mahakarya inspirasi abadi itu untuk kalian berdua.

Share
Topics
Editorial Team
Sri Sulistiyani
EditorSri Sulistiyani
Follow Us