Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Orangtua Harus Terus Ajarkan Sopan Santun pada Anak?
ilustrasi ayah dan dua anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Orangtua perlu menjadikan sopan santun prioritas sejak anak kecil karena sikap anak sangat dipengaruhi pendidikan di rumah, bukan semata-mata generasinya.
  • Pengajaran etika yang konsisten, berulang, dan disertai teladan membantu anak menghadapi pengaruh pergaulan serta mencegah ucapan atau perilaku tidak sopan berkembang.
  • Kesopanan menjadi kesan awal yang dilihat orang; ketidaksopanan dapat menunjukkan minimnya empati dan kontrol diri, serta membuat orang lain sulit terus bersabar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apakah kamu dan pasangan sudah menempatkan pendidikan tentang sopan santun sebagai salah satu prioritas di rumah? Kalau belum, segeralah melakukannya. Orangtua tidak boleh meremehkan pentingnya sopan santun pada anak sekalipun zaman makin maju.

Dirimu serta pasangan jangan sampai termakan pandangan bahwa Generasi Alfa memang begitu. Celetukan serta tindakannya suka semaunya sendiri. Anak di generasi apa pun sama saja. Seperti apa sikapnya sangat tergantung pada pendidikan yang diperolehnya dari orangtua.

Bahkan ajaran orangtua perihal kesopanan lebih penting daripada ajaran dari guru atau sumber lain. Alasannya, anak lebih lama berada di rumah bersama orangtuanya. Kamu serta pasangan gak boleh kendur dalam mengajarkan adab kepada anak mumpung dia masih kecil. Berikut alasan orangtua harus terus ajarkan sopan santun pada anak.

1. Ajaran orangtua adalah benteng pergaulan

ilustrasi menasihati anak (pexels.com/Kampus Production)

Kalau anak sudah berada di luar rumah, orangtua tak tahu lagi dengan siapa saja ia berinteraksi. Juga apa yang dilihat serta didengar anak dari orang-orang di sekitarnya. Bayangkan seandainya di rumah baik kamu maupun pasangan tak pernah berisik soal sopan santun.

Salah satunya, terkait larangan berbicara kasar atau merundung kondisi orang lain. Anak bisa tiba-tiba pulang membawa kata-kata makian yang dengan entengnya diucapkannya kepada siapa saja. Anak mudah sekali meniru ucapan atau perilaku negatif yang ditemuinya di luar sana.

2. Kalau anak gak sopan, orangtua juga yang malu

ilustrasi menasihati anak (pexels.com/Vitaly Gariev)

Misalnya, kamu dan pasangan mengajak anak makan di luar. Saat makanan datang, anak menyamakan salah satu menu dengan hal-hal yang tidak pantas. Contohnya, kotoran. Atau, ia suka sekali mengomentari siapa pun yang dilihatnya tanpa memedulikan perasaan.

Seperti om itu botak kayak tuyul, kakak itu gendut banget, rambutnya aneh, dan sebagainya. Kalau dirimu serta pasangan paham etika, tentu celetukan-celetukan seperti di atas bukannya terdengar lucu, justru sangat tidak sopan serta memalukan. Atur perkataan serta perilaku anak dengan ajaran sopan santun sejak dini.

3. Ajaran apa pun gak bisa sekali disampaikan langsung tertanam kuat

ilustrasi ayah dan putrinya (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Usaha untuk mentransfer nilai-nilai positif pada anak merupakan tugas yang berkesinambungan. Kamu dan pasangan jangan berpikir dulu bahwa kamu pernah menyampaikan satu ajaran terkait tata krama. Bila ajaran itu tidak diulang-ulang dalam berbagai kesempatan serta dibarengi dengan contoh, pasti anak lupa atau mengabaikannya.

Perkataan dan perbuatannya di luar rumah seakan-akan anak belum pernah dikasih tahu mengenai hal tersebut. Orangtua perlu terus mengingatkan anak tentang berbagai sikap sopan yang harus ditunjukkan. Juga kebalikannya, yaitu hal-hal gak sopan yang wajib ditinggalkan.

4. Anak gak sopan dibiarkan, sikapnya menjadi-jadi

ilustrasi menegur anak (pexels.com/kaboompics.com)

Pembiaran atas segala hal yang kurang baik hanya akan membuatnya tambah buruk dari waktu ke waktu. Orangtua tidak boleh berpikir bahwa seiring pertambahan umur, anak dengan sendirinya akan lebih memahami sopan santun. Bagaimana anak bakal memahaminya kalau kalian tidak serius mengajarkannya?

Perilaku serta cara bicaranya pasti makin jauh dari nilai-nilai kesopanan yang diharapkan. Ia bisa terlihat sangat nakal. Bahkan beberapa orang mungkin sampai menyebutnya monster cilik. Sebutan yang terlalu menyakitkan untuk buah hati kalian yang sebenarnya masih bisa bersikap lebih manis asalkan dididik dengan tepat.

5. Kesopanan menjadi hal pertama yang dilihat orang darinya

ilustrasi menasihati anak (pexels.com/Vitaly Gariev)

Ini tidak hanya berlaku pada anak-anak. Orang dewasa pun lebih cepat dinilai dari attitude-nya terlebih dahulu. Orang yang baru pertama kali bertemu anak jelas tak mengetahui nilai-nilai pelajarannya di sekolah.

Akan tetapi, setiap sikap gak sopannya langsung tampak di perjumpaan pertama sekalipun. Meski jarak mereka cukup jauh dan tak berinteraksi secara langsung. Contohnya, orang melihat tindakan anak mengejek temannya atau merebut barang pribadinya. Pemandangan seperti itu saja sudah cukup bagi orang untuk mengambil kesimpulan mengenai anak.

6. Sikap tidak sopan sering kali tanda kurang ilmu

ilustrasi menasihati anak (pexels.com/August de Richelieu)

Ketidaksopanan anak menandakan pengetahuannya tentang etika minim. Ia juga kurang memiliki kontrol diri serta empati terhadap orang lain. Anak kesulitan membawa diri secara tepat dalam berbagai suasana. Oleh karena itu, ukuran kecerdasan anak bukan cuma nilai-nilai pelajarannya.

Orangtua wajib waspada apabila anak mulai menunjukkan sikap kurang sopan. Bukan malah kalian selalu berdalih namanya saja anak-anak. Di mana-mana anak memang seperti itu dan sebagainya. Kalau kalian serius dalam mendidiknya terkait adab, pasti ia bisa bersikap jauh lebih baik.

7. Orang lain gak bisa terus bersabar menghadapi ketidaksopanannya

ilustrasi ayah dan putrinya (pexels.com/RDNE Stock project)

Jika orang lain tidak selalu bisa bersabar menghadapi anakmu, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Seolah-olah mereka tak punya kasih sayang terhadap anak, galak, arogan, dan sebagainya. Orangtua wajib belajar objektif dalam melihat kelakuan anak.

Jangan-jangan ucapan dan perbuatannya memang telah melampaui batas-batas kesopanan. Tindakannya tak lagi terlihat lucu, melainkan keterlaluan di mata orang lain. Mereka merasa perlu mengingatkan anakmu dengan tegas. Mereka sebenarnya juga kasihan pada anakmu bila tak pernah diajari sopan santun di rumah.

Anak yang sopan tidak mempelajari etika secara otomatis. Sikapnya adalah buah pengajaran yang telaten oleh kedua orangtuanya atau siapa pun di sekitarnya. Hindari kamu dan pasangan menganggap wajar perkataan atau perbuatan anak yang semaunya sendiri dengan dalih Generasi Alfa. Itu sama dengan kalian lepas tangan dari tanggung jawab mendidiknya dengan benar. Oleh sebab itu, orangtua harus terus ajarkan sopan santun pada anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article