“Kami memiliki data yang menunjukkan bahwa lebih dari 97 persen orang yang telah menerima dua dosis vaksin tidak pernah terkena campak,” ujar Julie E. Mangino, profesor emeritus di Departemen Penyakit Dalam di The Ohio State University Wexner Medical Center, dikutip dari BBC.
Campak Merebak, Ini Pola Asuh yang Perlu Dipahami Orangtua Agar Anak Terhindar dari Risiko Penularan

- Imunisasi campak dua dosis menjadi langkah utama melindungi anak, terbukti efektif mencegah infeksi dan penyakit berat menurut para ahli kesehatan dunia.
- Kebiasaan hidup sehat di rumah seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan, dan edukasi kesehatan sejak dini membantu memperkuat perlindungan anak dari penularan penyakit.
- Orangtua perlu bijak menyaring informasi kesehatan agar tidak terpengaruh hoaks tentang vaksin serta segera berkonsultasi ke tenaga medis saat anak menunjukkan gejala campak.
Kesehatan anak selalu menjadi prioritas utama bagi orangtua. Ketika muncul kabar tentang meningkatnya kasus penyakit menular, wajar jika rasa khawatir ikut muncul. Banyak orangtua mulai bertanya-tanya bagaimana cara terbaik melindungi anak, mulai dari menjaga daya tahan tubuh hingga memastikan anak tidak mudah tertular penyakit yang sedang merebak.
Kekhawatiran ini sebenarnya bisa menjadi langkah awal yang baik untuk meningkatkan kewaspadaan. Dengan memahami pola asuh yang tepat, orangtua dapat membantu mengurangi risiko anak terpapar penyakit menular seperti campak. Yuk, simak beberapa pola asuh yang perlu dipahami orangtua agar anak terhindar dari risiko penularan campak.
1. Pentingnya imunisasi

Salah satu cara paling efektif melindungi anak dari campak adalah memastikan mereka menerima imunisasi sesuai jadwal. Vaksin campak diberikan dalam dua dosis pada masa kanak-kanak untuk membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vaksin ini telah menyelamatkan puluhan juta nyawa dalam dua dekade terakhir.
Dikutip dari Science News, Peter Chin Hong, dokter spesialis penyakit menular dari University of California, juga menegaskan bahwa vaksin memiliki peran yang sangat besar dalam pencegahan penyakit. Ia mengatakan bila vaksin campak tidak hanya melindungi dari penyakit berat, tetapi juga mencegah infeksi sejak awal.
“Vaksin campak bukan hanya mencegah penyakit yang serius, tetapi juga mencegah infeksi. Ini adalah vaksin yang sangat luar biasa,” ujar Peter Chin Hong.
2. Kebiasaan sehat di rumah

Selain imunisasi, orangtua juga perlu membangun kebiasaan hidup sehat di rumah. Mengajarkan anak untuk mencuci tangan secara rutin, menutup mulut saat batuk atau bersin, serta menjaga kebersihan lingkungan dapat membantu mengurangi penyebaran berbagai penyakit menular. Kebiasaan sederhana ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan keluarga.
Namun, para ahli menegaskan bahwa pola hidup sehat saja tidak cukup untuk mencegah campak tanpa vaksinasi. Dikutip dari Science News, Scott Weaver, direktur Institute for Human Infections and Immunity di University of Texas Medical Branch, menyatakan bahwa nutrisi tidak dapat menggantikan vaksin. Ia juga menegaskan tidak ada bukti ilmiah bahwa perbaikan nutrisi saja mampu mencegah infeksi atau menghentikan penyebaran campak.
3. Edukasi kesehatan sejak dini

Pola asuh yang mendukung kesehatan anak juga mencakup edukasi sejak dini. Anak-anak perlu diajarkan pentingnya menjaga kebersihan diri, memahami kebiasaan hidup sehat, serta mengenali tanda-tanda ketika tubuh sedang tidak sehat. Edukasi sederhana ini dapat membantu anak menjadi lebih peduli terhadap kesehatan mereka sendiri.
Selain itu, anak juga dapat diajarkan untuk tidak berbagi barang pribadi seperti alat makan atau minum, terutama ketika ada teman yang sedang sakit. Dengan membangun kebiasaan tersebut sejak kecil, anak akan lebih siap menghadapi berbagai risiko penyakit menular yang mungkin muncul di lingkungan sekitar mereka.
4. Bijak menyaring informasi

Di tengah maraknya informasi kesehatan di internet dan media sosial, orangtua perlu bijak menyaring informasi tentang campak dan vaksinasi. Tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar ilmiah yang kuat, bahkan sebagian bisa menyesatkan dan memicu keraguan terhadap vaksin.
Karena itu, orangtua disarankan mengutamakan sumber informasi yang kredibel, seperti tenaga kesehatan, lembaga kesehatan resmi, atau penelitian ilmiah terpercaya. Dengan literasi kesehatan yang baik, orangtua dapat mengambil keputusan yang lebih tepat untuk melindungi anak dari risiko penularan campak.
Kekhawatiran para ahli juga muncul karena masih adanya anggapan dari masyarakat awam bahwa kekebalan alami dari infeksi lebih baik daripada vaksinasi. Padahal, pandangan tersebut dinilai berbahaya karena dapat membuat anak terpapar risiko komplikasi serius akibat campak.
“Teori kekebalan alami ini berbahaya. Infeksi campak secara alami bisa sangat parah. Sekitar 20 persen anak yang terkena campak harus dirawat di rumah sakit, dan sebagian kecil dapat mengalami pembengkakan otak yang mengancam jiwa,” ujar Larry Kociolek, dokter spesialis penyakit menular anak di Ann & Robert H. Lurie Children’s Hospital of Chicago, dikutip dari Science News.
5. Responsif saat anak sakit

Orangtua juga perlu peka terhadap perubahan kondisi kesehatan anak. Gejala awal campak sering kali menyerupai penyakit pernapasan biasa, seperti demam, batuk, hidung berair, dan mata merah. Karena gejalanya tidak selalu langsung terlihat khas, banyak kasus yang tidak disadari pada tahap awal.
Dokter Peter Chin Hong menjelaskan, bahwa pada awalnya campak sering sulit dikenali. Oleh karena itu, jika anak mengalami demam tinggi atau muncul ruam yang tidak biasa, orangtua sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Dengan menerapkan pola asuh yang tepat mulai dari memastikan imunisasi lengkap hingga bijak menyaring informasi, orangtua dapat membantu melindungi anak dari risiko penularan campak. Pada akhirnya, kewaspadaan dan pengetahuan yang cukup menjadi kunci penting untuk menjaga kesehatan anak sejak dini.