5 Buku Nonfiksi Klasik untuk Memahami Masalah Global

- Lima buku nonfiksi klasik dibahas sebagai karya penting yang membantu memahami akar masalah global seperti ketimpangan, kolonialisme, dan kekerasan struktural yang masih relevan hingga kini.
- Setiap buku menyoroti isu berbeda: dari kritik terhadap superioritas Barat, perjuangan feminis interseksional, hingga analisis ekonomi pasar bebas dan ketaatan buta pada kekuasaan.
- Artikel menegaskan pentingnya ilmu sosial dan humaniora dalam membaca ulang fenomena global serta memahami bagaimana keputusan manusia membentuk tatanan masyarakat modern.
Sadarkah kamu kalau kehidupan di belahan dunia mana pun sedang tidak bersahabat? Pasar kerja sedang lesu, inflasi makin menggila, ketimpangan makin jelas, dan konflik bersenjata masih berlangsung. Ternyata semua masalah global ini sudah terjadi sejak lama, dianalisis oleh ilmuwan, dibukukan, dan menjadi karya nonfiksi klasik yang relevansinya tak lekang oleh waktu. Penasaran, buku-buku apa yang dimaksud? Lima judul berikut adalah jawabannya. Mari bahas satu per satu.
1. Orientalism (Edward Said)

Orientalism adalah sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Edward Said sebagai bentuk kritiknya terhadap kepercayaan ilmuwan dan orang Barat secara umum bahwa mereka lebih superior. Ini terlihat dari cara mereka memandang kultur negara jajahan mereka di Asia dan Afrika sebagai sesuatu yang tertinggal.
Stereotip-stereotip itu secara perlahan dipakai sebagai justifikasi untuk berbagai kebijakan luar negeri negara-negara Barat, terutama eks-penjajah. Argumen Edward Said menjadi menarik dan relevan berkat pengalaman dan latar belakangnya sebagai seorang Palestina yang hidup pada era British Mandate, kemudian eksodus ke luar negeri pada 1967 saat negara Zionis Israel berdiri.
2. Women, Race & Class (Angela Davis)

Women, Race & Class adalah sebuah buku feminis interseksional yang menjelaskan kaitan erat antara diskriminasi rasial, kapitalisme, dan patriarki. Angela Davis menegaskan betapa mudahnya orang melupakan gerakan feminisme yang dilakukan perempuan kulit berwarna dan etnis minoritas. Ia juga mengambil contoh berbagai kejahatan kemanusiaan dan pencerabutan hak yang dilakukan penjajah kulit putih terhadap budak serta warga pribumi perempuan.
3. Right-Wing Women (Andrea Dworkin)

Penasaran mengapa masih banyak perempuan yang antifeminis? Ternyata, semua bisa dijelaskan lewat buku Right-Wing Women karya Andrea Dworkin.
Dalam buku itu, Dworkin berargumen bahwa posisi politik itu diambil sebagian oleh perempuan sebagai insting bertahan hidup di tengah opresi yang mereka hadapi. Misalnya, keputusan mereka untuk menikah dan kemudian mengambil peran tradisional sebagai istri bisa saja merupakan cara untuk menghindari kemiskinan serta berlindung dari potensi kekerasan yang dilakukan pria lain. Buku ini menarik dan amat relevan dengan fenomena masa kini ketika tren trad-wife (istri tradisional) sedang naik-naiknya.
4. The Great Transformation (Karl Polanyi)

Buku nonfiksi klasik lain yang rasanya relevan sampai sekarang adalah The Great Transformation karya Karl Polanyi. Buku ini mengupas dan mengkritik konsekuensi dari sistem ekonomi laissez-faire (pasar bebas minim intervensi pemerintah). Ia melihat bagaimana pasar digerakkan oleh pekerja yang takut akan kelaparan dan kerakusan pengusaha hingga akhirnya tidak lagi sehat dan berkelanjutan. Alhasil, ketidakstabilan muncul di mana-mana dan kerap berakhir fatal, seperti Great Depression sampai Perang Dunia. Argumen ini begitu relevan dengan kondisi saat ini, setuju?
5. Eichmann in Jerusalem (Hannah Arendt)

Kamu heran dengan kekerasan yang tiada hentinya di dunia? Bahkan dilakukan secara terang-terangan karena tak ada pula konsekuensi yang harus ditanggung pelaku. Jawaban dari fenomena ini ada dalam buku Eichmann in Jerusalem. Di buku itu, Hannah Arendt mengikuti proses persidangan beberapa petinggi Nazi yang terbukti terlibat dalam holocaust (genosida terhadap warga Yahudi, terutama di Eropa). Menurut pengamatan dan argumennya, para pelaku kejahatan kemanusiaan itu bukan psikopat, hanya orang biasa dibutakan ketaatan bahkan ketika menyaksikan penyimpangan kekuasaan.
Selain memahami fenomena global, buku-buku tadi juga bakal menyadarkanmu betapa krusialnya peran ilmu sospol dan humaniora. Pada dasarnya, cabang keilmuwan inilah yang justru membantu kita memahami bagaimana manusia membuat keputusan dan dampaknya terhadap tatanan masyarakat secara luas.


















