Melansir dari laman Talkspace, Bisma Anwar, seorang terapis mengatakan, “Contoh cara menetapkan batasan dengan keluarga adalah dengan cara menyampaikan kebutuhan pribadi tanpa menyalahkan atau merendahkan pihak lain, sekaligus menegaskan keterbatasan waktu yang dimiliki. Selain itu, batasan ini tidak bersifat menolak secara kaku karena diikuti dengan solusi alternatif. Dengan cara seperti ini, batasan dapat disampaikan tanpa memicu konflik, menjaga komunikasi tetap sehat, dan memperkuat rasa saling menghargai dalam hubungan keluarga."
Saat Hubungan dengan Orangtua Retak: Cara Jaga Mental Tetap Sehat

Hubungan dengan orangtua sering kali dianggap sebagai tempat paling aman untuk pulang, berbagi cerita, dan mencari dukungan. Namun, tidak semua hubungan berjalan mulus. Perbedaan nilai, ekspektasi, luka lama yang belum sembuh, atau konflik yang terus berulang dapat membuat hubungan dengan orangtua menjadi retak. Situasi ini tidak hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental jika tidak disikapi dengan bijak.
Ketika hubungan dengan orangtua memburuk, banyak orang merasa terjebak antara rasa bersalah, marah, sedih, dan keinginan untuk melindungi diri sendiri. Tekanan sosial yang menuntut untuk “tetap berbakti” sering membuat perasaan ini dipendam sendirian. Padahal, menjaga kesehatan mental di tengah hubungan keluarga yang bermasalah adalah hal yang penting dan sah untuk dilakukan, demi keseimbangan emosi dan kualitas hidup yang lebih baik.
1. Tetapkan batasan

Batasan membantu menjaga rasa hormat dalam hubungan karena memungkinkan setiap individu memahami ruang, kebutuhan, dan batas kenyamanan satu sama lain. Dengan menetapkan batasan yang jelas, potensi kesalahpahaman dan konflik dapat berkurang karena ekspektasi disampaikan secara terbuka dan tegas. Dalam konteks keluarga, batasan yang sehat memberikan rasa stabilitas, terutama saat hubungan sedang dalam proses pemulihan, karena setiap anggota keluarga memiliki pedoman yang jelas untuk berinteraksi tanpa saling melukai.
2. Komunikasikan

Saling berkomunikasi secara teratur menunjukkan bahwa kamu berupaya untuk terhubung kembali dan saling mendukung. Hal ini juga menciptakan ruang yang sehat untuk mengatasi masalah baru saat muncul, alih-alih membiarkannya menumpuk.
“Agar pertemuan keluarga berjalan efektif, penting untuk menetapkan agenda dan memastikan setiap orang memiliki kesempatan untuk berbicara. Hal ini membantu menetapkan aturan dasar untuk komunikasi yang saling menghormati, terlibat dalam mendengarkan secara aktif, dan menjaga agar pertemuan tetap fokus pada isu-isu yang relevan," kata Anwar.
3. Minta bantuan

Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Banyak orang di sekitar kita sebenarnya ingin membantu, tetapi tidak selalu tahu apa yang sedang kita rasakan jika tidak disampaikan. Dengan berbicara kepada anggota keluarga atau teman yang dipercaya, beban emosional yang dirasakan dapat menjadi lebih ringan. Dukungan emosional, sekadar didengarkan, atau mendapatkan sudut pandang lain sering kali membantu seseorang merasa tidak sendirian dalam menghadapi masalah.
Selain itu, penting untuk mencari bantuan profesional ketika perasaan yang dialami mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, atau studi. Berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan mental dapat membantu memahami kondisi yang sedang dialami dan menemukan cara penanganan yang tepat. Bantuan profesional memberikan ruang yang aman dan objektif untuk mengelola emosi, sehingga seseorang dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih seimbang dan sehat secara mental.
Merawat kesehatan mental saat hubungan dengan orangtua retak bukanlah tanda egois atau tidak berbakti, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Dengan mengenali batasan, mengelola emosi, dan mencari dukungan yang tepat, seseorang tetap bisa tumbuh dan menjalani hidup dengan lebih sehat secara mental. Hubungan yang baik dimulai dari diri yang lebih utuh, dan menjaga mental tetap sehat adalah langkah awal menuju pemulihan, baik dengan orangtua maupun dengan diri sendiri.


















