Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Terlalu Sering Pakai Baby Monitor Bisa Berdampak pada Anak, Benarkah?
ilustrasi anak berada di crib (pexels.com/martproduction)
  • Baby monitor membantu menjaga keamanan anak, tetapi penggunaan terus-menerus dapat membuat anak merasa lingkungan tidurnya tidak aman dan bergantung pada pengawasan orangtua.
  • Respons orangtua yang terlalu cepat terhadap setiap suara atau tangisan kecil berpotensi mengurangi kesempatan anak belajar menenangkan diri, selama anak tidak berada dalam situasi berbahaya.
  • Kekhawatiran berlebihan dapat berlanjut menjadi pelacakan saat anak besar; orangtua perlu menyesuaikan pengawasan dengan kebutuhan keselamatan sambil memberi ruang bagi kemandirian dan privasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Baby monitor sering digunakan orangtua untuk memastikan anak tetap aman ketika tidur, terutama saat mereka berada di ruangan berbeda. Perangkat ini memang bisa membantu orangtua mengetahui ketika anak membutuhkan bantuan atau berada dalam kondisi tertentu. Namun, penggunaan yang terlalu lama dan pengawasan yang terus-menerus ternyata dapat memengaruhi rasa aman serta kemandirian anak.

Lantas, apakah baby monitor harus segera dihentikan penggunaannya? Bukan soal harus berhenti pada usia tertentu, tetapi orangtua perlu melihat kebutuhan anak dan mempertimbangkan apakah perangkat tersebut masih benar-benar diperlukan. Berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan.

1. Bisa membuat anak mempertanyakan rasa amannya

ilustrasi ibu bermain dengan anak (pexels.com/martproduction)

Anak perlu merasa bahwa kamar dan rumahnya merupakan tempat yang aman untuk tidur tanpa harus terus-menerus diawasi. Ketika orangtua terlalu sering memantau melalui baby monitor, anak bisa menangkap pesan bahwa ada sesuatu yang berbahaya di sekitarnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi membuat anak lebih bergantung pada kehadiran atau pengawasan orangtua untuk merasa aman.

Dikutip dari Parents, Rebecca Schrag Hershberg, Ph.D., psikolog klinis dan penulis The Tantrum Survival Guide, menjelaskan bahwa orangtua perlu mempertimbangkan apakah penggunaan monitor justru menghambat berkembangnya rasa aman pada anak. Menurutnya, anak perlu merasa aman dan nyaman di tempat tidurnya serta di rumah tanpa bergantung pada pengawasan melalui monitor.

“Anak perlu merasa aman dan nyaman di tempat tidurnya, di rumahnya. Jadi, sejauh mana penggunaan monitor justru dapat menghambat berkembangnya rasa aman tersebut?” ujar Rebecca.

2. Anak bisa kurang terlatih menenangkan diri sendiri

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/tatianasyrikova)

Baby monitor memungkinkan orangtua mengetahui hampir setiap suara yang dibuat anak saat tidur. Ketika anak sedikit menangis, memanggil, atau merasa gak nyaman, orangtua mungkin langsung datang meski sebenarnya anak masih bisa menenangkan diri sendiri. Respons yang terlalu cepat dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar menghadapi rasa gak nyaman secara bertahap.

Kemampuan menenangkan diri sendiri merupakan mekanisme koping yang penting bagi anak. Karena itu, orangtua dapat memberi ruang ketika anak hanya mengalami gangguan kecil dan gak berada dalam situasi berbahaya, bukan berarti tangisan atau panggilannya harus diabaikan, melainkan membedakan kapan anak membutuhkan bantuan dan kapan ia masih mampu menenangkan diri.

“Jika orangtua menjadi satu-satunya pihak yang bisa menenangkan anak, kondisi tersebut justru dapat memicu gangguan kecemasan pada anak,” ujar Jennifer Bronsnick, MSW, LCSW, spesialis terapi kecemasan berlisensi, dikutip dari Parents.

3. Pengawasan berlebihan bisa terbawa hingga anak besar

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/paveldanilyuk)

Kebiasaan memantau anak gak selalu berhenti ketika mereka sudah gak membutuhkan baby monitor. Kekhawatiran yang sama bisa membuat orangtua beralih ke bentuk pengawasan lain, seperti melacak ponsel, memantau perangkat, atau menggunakan aplikasi untuk mengetahui keberadaan anak. Jika dilakukan tanpa alasan keselamatan yang jelas, pengawasan tersebut dapat lebih mencerminkan kecemasan orangtua daripada kebutuhan anak.

Dikutip dari Parents, Gary T. Marx, Ph.D., profesor emeritus MIT yang banyak menulis tentang pengawasan, menjelaskan bahwa teknologi dapat membuat orangtua merasa harus terus memantau anak untuk mencegah kemungkinan buruk. Seiring bertambahnya usia anak, orangtua juga perlu memberi ruang agar mereka belajar bertanggung jawab dan menjaga diri sendiri, sembari tetap mempertimbangkan pengawasan ketika ada alasan keselamatan yang nyata serta menghormati privasi anak.

“Orangtua ingin menjadi orangtua yang baik, tetapi perangkat ini memanfaatkan rasa bersalah. Jika kamu gak melakukan hal tersebut, anakmu mungkin berisiko menyalahgunakan narkoba atau mengemudi terlalu cepat,” kata Gary.

Baby monitor tetap bisa digunakan selama memang dibutuhkan untuk memastikan keamanan anak. Namun seiring bertambahnya usia, beri anak ruang untuk belajar merasa aman, menenangkan diri, dan menjadi lebih mandiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article