Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kesalahan Menghadapi Anak yang Sedang Tantrum, Jangan Emosi!

4 min read
5 Kesalahan Menghadapi Anak yang Sedang Tantrum, Jangan Emosi!
ilustrasi anak kecil tantrum (pexels.com/Jep Gambardella)
  • Orangtua disarankan tidak memarahi, berteriak, atau memberi ceramah panjang saat anak tantrum karena kondisi emosional anak belum siap menerima penjelasan.
  • Jangan selalu mengabulkan permintaan demi menghentikan tangisan atau membandingkan anak dengan orang lain; akui kekecewaannya sambil tetap menjaga batas.
  • Tantrum dapat dipicu lapar, lelah, atau kesulitan berkomunikasi; pastikan anak aman, gunakan nada tenang, lalu bahas emosi dan perilakunya setelah reda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Anak sedang tantrum, lalu kamu sudah mencoba membujuk, menggendong, sampai menawarkan camilan kesukaannya. Bukannya berhenti, tangisannya malah semakin kencang. Di situ biasanya kesabaran orangtua mulai diuji, apalagi kalau kejadiannya berlangsung di tempat umum dan banyak orang melihat. Rasanya ingin cepat-cepat membuat anak diam, apa pun caranya.

Padahal, respons orangtua saat anak sedang meledak emosinya bisa ikut menentukan bagaimana situasi berkembang. Bukan berarti setiap tantrum harus ditangani secara sempurna karena orangtua juga bisa lelah dan kehilangan kesabaran. Namun, ada beberapa respons yang sebaiknya dihindari karena justru bisa membuat anak semakin sulit menenangkan diri. Tanpa sadar, mungkin salah satunya pernah kamu lakukan.

  1. 1. Memarahi anak agar cepat diam

    ilustrasi ibu memarahi anak (freepik.com/peoplecreations)
    ilustrasi ibu memarahi anak (freepik.com/peoplecreations)

    Tangisan anak yang gak kunjung berhenti memang bisa membuat kepala pusing. Apalagi kalau sudah berkali-kali meminta dia diam, tetapi volumenya malah semakin tinggi. Akhirnya, suara orangtua ikut naik dan keluarlah kalimat seperti, 'Sudah, diam!' atau 'Jangan menangis terus!' Masalahnya, anak yang sedang kewalahan oleh emosinya belum tentu mampu langsung menenangkan diri hanya karena dimarahi.

    Kalau orangtua ikut berteriak, suasana biasanya semakin tegang. Anak mungkin berhenti menangis karena takut, tetapi bukan berarti dia sudah memahami apa yang sebenarnya terjadi. Saat suasana sudah lebih tenang, kamu bisa membantu anak mengenali perasaannya dan membicarakan perilaku yang tadi muncul. Jadi, fokusnya bukan sekadar membuat tangisan berhenti, tetapi membantu anak belajar menghadapi emosinya.

  2. 2. Langsung memberikan apa yang diminta

    ilustrasi seseorang anak yang sedang tantrum (pexels.com/Keira Burton)
    ilustrasi seseorang anak yang sedang tantrum (pexels.com/Keira Burton)

    Bayangkan anak menangis karena ingin membeli mainan. Kamu sudah mengatakan tidak, tetapi tangisannya semakin keras sampai orang-orang mulai memperhatikan. Karena malu atau ingin cepat pulang, akhirnya mainan tersebut dibeli juga. Situasi memang langsung tenang, tetapi anak bisa menangkap pola bahwa menangis keras terkadang membuat keinginannya berubah menjadi kenyataan.

    Bukan berarti orangtua gak boleh mengubah keputusan. Ada situasi tertentu ketika memang lebih baik mengalah atau menyesuaikan rencana. Namun, kalau setiap tantrum selalu berakhir seperti itu, anak akan kesulitan memahami batas. Kamu tetap bisa mengakui rasa kecewanya sambil mempertahankan keputusan yang sudah dibuat, misalnya, 'Kamu memang pengin mainan itu, tapi hari ini kita gak beli.'

  3. 3. Memberi ceramah panjang saat anak masih menangis

    ilustrasi toddler tantrum (freepik.com/freepik)
    ilustrasi toddler tantrum (freepik.com/freepik)

    Ketika anak sedang tantrum, mungkin kamu tergoda menjelaskan panjang lebar tentang mengapa perilakunya salah. Kamu mulai menjelaskan soal sopan santun, aturan keluarga, bagaimana seharusnya anak bersikap, sampai mengingatkan kejadian-kejadian sebelumnya. Padahal, anak yang sedang sangat marah atau kecewa biasanya belum berada dalam kondisi yang tepat untuk menerima banyak penjelasan.

    Simpan pembicaraan panjang untuk nanti ketika emosinya sudah mereda. Saat tantrum berlangsung, gunakan kalimat yang pendek dan mudah dipahami. Kamu bisa mengatakan, 'Kamu marah, ya. Mama di sini,' sambil memastikan anak berada di tempat yang aman. Setelah dia lebih tenang, barulah kamu membicarakan apa yang terjadi dan bagaimana cara menyampaikan keinginan tanpa berteriak atau menyakiti orang lain.

  4. 4. Membandingkan anak dengan anak lain

    ilustrasi anak tantrum di depan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)
    ilustrasi anak tantrum di depan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)

    'Lihat tuh, kakak bisa diam, kenapa kamu gak bisa?' Kalimat seperti ini mungkin keluar karena orangtua sudah kehabisan cara. Namun, membandingkan anak saat dia sedang kesulitan mengendalikan emosi biasanya gak membantu. Anak malah bisa merasa dirinya lebih buruk daripada orang lain atau menganggap bahwa emosinya adalah sesuatu yang memalukan.

    Setiap anak punya perkembangan dan cara merespons situasi yang berbeda. Ada anak yang mudah tenang, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Kalau ingin mengajarkan perilaku yang lebih baik, fokuskan pembicaraan pada tindakan anak sendiri, bukan membandingkannya dengan orang lain. Misalnya, 'Tadi kamu marah karena gak boleh beli mainan. Besok kalau marah, coba bilang ke Mama.'

  5. 5. Menganggap semua tantrum sebagai bentuk kenakalan

    ilustrasi anak tantrum
    ilustrasi anak tantrum (pexels.com/cottonbro studio)

    Anak yang berteriak, menangis, atau berguling di lantai memang bisa terlihat seperti sedang membuat ulah. Namun, gak semua tantrum muncul karena anak sengaja ingin menyulitkan orangtuanya. Rasa lapar, lelah, mengantuk, terlalu banyak stimulasi, atau kesulitan menyampaikan keinginan juga bisa menjadi pemicu. Memahami kemungkinan penyebabnya gak berarti membenarkan semua perilaku anak.

    Kamu tetap boleh menetapkan batas ketika anak memukul, menendang, melempar benda, atau melakukan sesuatu yang membahayakan. Bedanya, batas tersebut disampaikan sambil tetap membantu anak memahami emosinya. 'Kamu boleh marah, tapi gak boleh memukul,' misalnya, memberi pesan bahwa perasaannya boleh ada, tetapi ada perilaku yang tetap gak boleh dilakukan. Dari sini anak perlahan belajar bahwa marah bukan masalah, tetapi cara melampiaskannya perlu dikendalikan.

    Menghadapi tantrum memang gak pernah sesederhana teori. Ada hari ketika kamu berhasil tetap tenang, tetapi ada juga hari ketika suara anak yang terus menangis membuat kesabaranmu habis. Kamu gak harus menjadi orangtua yang selalu punya respons sempurna. Yang penting, setiap kejadian bisa menjadi kesempatan untuk mencoba respons yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.

    Jadi, ketika anak kembali tantrum, coba tahan sebentar sebelum langsung bereaksi. Pastikan dia aman, jaga nada bicara, beri ruang untuk emosinya mereda, lalu bicarakan masalahnya setelah dia lebih tenang. Gak perlu buru-buru mencari cara agar anak terlihat 'baik' di depan orang lain. Yang sedang kamu bantu bukan cuma menghentikan tangisan hari ini, tetapi juga mengajarinya sedikit demi sedikit bagaimana memahami dan mengelola emosinya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More