Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sering Terlalu Menuruti Anak? 4 Pertanyaan Ini Bisa Membantumu

ilustrasi orangtua dan anak bermain bersama (pexels.com/gustavofring)
ilustrasi orangtua dan anak bermain bersama (pexels.com/gustavofring)

Keinginan melihat anak selalu bahagia sering membuat orangtua sulit berkata “tidak”. Tanpa disadari, kebiasaan terlalu menuruti anak justru bisa berdampak pada kemandirian dan ketahanan emosionalnya.

Untuk membantu mengevaluasi pola asuh, ada beberapa pertanyaan reflektif yang bisa menjadi tanda apakah kamu sudah terlalu sering menuruti anak. Pertanyaan ini bertujuan membantu orangtua membangun pola asuh yang lebih seimbang dan sehat. Yuk, cek satu per satu!

1. Apakah tindakanku menghambat anak belajar keterampilan sesuai usianya?

ilustrasi ibu dan anak  berbaring di tempat tidur  (pexels.com/ketutsubiyanto)
ilustrasi ibu dan anak berbaring di tempat tidur (pexels.com/ketutsubiyanto)

Sering kali orangtua melakukan banyak hal demi kepraktisan, mulai dari menyiapkan bekal hingga membereskan kamar anak. Padahal, jika anak sudah cukup usia, kebiasaan ini bisa menghambat proses belajarnya. Anak jadi kehilangan kesempatan untuk melatih tanggung jawab dan kemandirian.

Dikutip dari NPR, Lauren Silvers, seorang psikolog anak, menegaskan bahwa bantuan berlebihan bisa berdampak jangka panjang. Jika orangtua terus mengerjakan tugas yang sebenarnya sudah bisa dilakukan anak, hal ini justru menghambat anak mempelajari keterampilan hidup dan membangun rasa percaya diri.

“Jika kamu masih sering mengerjakan hal-hal seperti menyiapkan bekal, membereskan kamar, atau mengikat tali sepatu, padahal anak sudah mampu melakukannya sendiri, tanpa sadar kamu sedang menghambat anak belajar mandiri,” jelas Silvers.

2. Apakah aku memberikan sumber daya keluarga secara berlebihan kepada anak?

ilustrasi orangtua dan anak  bermain jengga  (pexels.com/rdne)
ilustrasi orangtua dan anak bermain jengga (pexels.com/rdne)

Memberi perhatian, waktu, dan energi pada anak memang penting, tetapi tetap perlu batasan. Ketika hampir semua sumber daya keluarga terpusat pada anak, keseimbangan dalam keluarga bisa terganggu. Orangtua pun berisiko kelelahan secara emosional dan finansial.

Menurut Silvers, kondisi ini sering tidak disadari karena dibungkus niat baik. Memberikan terlalu banyak uang, waktu, atau energi kepada anak dapat membebani keluarga dan mengorbankan kebutuhan lain. Anak pun bisa tumbuh dengan ekspektasi bahwa semua keinginannya harus selalu dipenuhi.

3. Apakah keputusan yang kuambil lebih demi kenyamananku sebagai orangtua?

ilustrasi ibu dan anak menggunakan laptop (pexels.com/nicolabarts)
ilustrasi ibu dan anak menggunakan laptop (pexels.com/nicolabarts)

Menuruti anak agar suasana tetap tenang memang terasa menggoda, terutama di tempat umum. Namun, menghindari konflik bukan selalu pilihan terbaik dalam jangka panjang. Anak perlu belajar bahwa kecewa adalah bagian dari hidup yang wajar.

Menurut Silvers, menuruti anak demi kenyamanan orangtua sudah termasuk pemanjaan berlebihan. Anak yang jarang mendapat penolakan berisiko kesulitan mengelola emosi saat dewasa, padahal berkata “tidak” juga bisa menjadi bentuk kasih sayang.

4. Apakah perilaku anak berpotensi merugikan orang lain atau lingkungan?

ilustrasi orangtua dan anak bermain bersama (pexels.com/gustavofring)
ilustrasi orangtua dan anak bermain bersama (pexels.com/gustavofring)

Membiarkan anak bersikap semaunya, seperti melanggar aturan atau tidak menghormati orang lain, bukanlah hal sepele. Sikap ini bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara anak berinteraksi di masyarakat. Di sinilah peran orangtua menjadi sangat krusial.

“Ketika orangtua membiarkan anak berperilaku berbahaya, tidak sopan, melanggar aturan, atau merugikan orang lain, hal tersebut menjadi tanda bahwa anak sudah terlalu dimanjakan,” ujar Silvers.

Anak perlu memahami batasan sosial sejak dini. Mereka harus tahu bahwa setiap tindakan memiliki dampak, baik bagi orang lain maupun lingkungan sekitar. Dengan begitu, anak belajar bertanggung jawab dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih empatik.

Menuruti anak sesekali memang wajar, tapi jika menjadi kebiasaan, dampaknya perlu diwaspadai. Dengan refleksi yang tepat, orangtua bisa belajar memberi batasan tanpa kehilangan kehangatan dalam pengasuhan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

7 Ide Medium Hairstyle ala Megan Domani, Visualnya Girly and Cute!

12 Jan 2026, 13:41 WIBLife