"Banyak orangtua dan pengasuh membagikan foto anak-anak dan remaja mereka karena ingin melibatkan keluarga dan teman dalam momen-momen paling membahagiakan dalam hidup mereka. Namun, penting untuk menyadari risiko yang muncul saat mengunggah konten tentang anak-anak secara daring, atau yang dikenal sebagai sharenting," jelasnya dalam UNICEF.
Sharenting: Kenapa Orangtua Perlu Pikir Dua Kali Sebelum Upload Foto Anak

Pernahkah kamu melihat unggahan orangtua yang membagikan foto anaknya sedang tertawa, menangis, berulang tahun, atau bahkan ketika sedang sakit? Bagi sebagian orangtua, momen-momen tersebut terlalu berharga untuk disimpan sendiri. Mereka ingin membagikan kebahagiaan, mengabadikan proses tumbuh kembang anak, sekaligus menunjukkan rasa bangga kepada keluarga dan teman-teman di media sosial. Apalagi, satu foto sederhana bisa mengundang banyak komentar hangat, ucapan doa, hingga cerita serupa dari sesama orangtua.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah anak juga ingin momen itu dilihat banyak orang? Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika foto yang diunggah bukan hanya memperlihatkan wajah, tetapi juga nama lengkap, lokasi sekolah, kebiasaan sehari-hari, hingga cerita pribadi yang seharusnya tetap jadi bagian dari kehidupan anak.
1. Foto yang terlihat manis hari ini bisa menjadi jejak digital anak di masa depan

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Arina Krasnikova) Bayangkan seorang ibu yang sedang menemani anaknya belajar berjalan. Ketika si kecil akhirnya berhasil melangkah beberapa langkah, ia buru-buru mengambil ponsel, merekam momen tersebut, lalu mengunggahnya ke Instagram. Tidak lama kemudian, notifikasi berdatangan. Ada yang memberikan pujian, ada yang mengirim emoji hati, dan ada pula yang mengatakan bahwa anaknya menggemaskan.
Bagi sang ibu, unggahan itu menjadi kenangan manis yang ingin disimpan selamanya. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: foto yang dibagikan ke internet tidak selalu berhenti pada orang-orang yang kita kenal. Foto bisa disimpan, diambil tangkapan layarnya, atau disebarkan kembali tanpa sepengetahuan pemilik akun.
Stacey Steinberg, profesor hukum di University of Florida dan pakar sharenting, menjelaskan bahwa orangtua perlu mempertimbangkan risiko ketika membagikan informasi tentang anak. Konten tersebut berpotensi dimanfaatkan pihak lain dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
2. Niatnya berbagi kebahagiaan, tetapi privasi anak bisa terabaikan

ilustrasi memotret anak (pexels.com/PNW Production) Tidak semua orangtua yang melakukan sharenting memiliki niat buruk. Sebagian ingin berbagi kebahagiaan dengan keluarga yang tinggal berjauhan, sebagian ingin mendokumentasikan perkembangan anak, dan sebagian lainnya mencari dukungan dari komunitas sesama orangtua.
Media sosial memang bisa menjadi ruang untuk saling terhubung, terutama ketika seseorang menjalani pengalaman mengasuh anak yang terkadang melelahkan dan penuh tantangan. Meski begitu, keinginan untuk berbagi perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa anak juga memiliki hak atas privasinya.
"Ketika kita membagikan hal-hal tentang anak-anak kita secara daring tanpa melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan tersebut, kita melewatkan kesempatan berharga untuk mengajarkan dan memberikan contoh kepada anak-anak kita tentang konsep persetujuan (consent),” jelas Stacey Steinberg.
Pesan ini menunjukkan bahwa mengunggah foto anak bukan sekadar keputusan teknis, melainkan juga kesempatan bagi orangtua untuk menghargai batasan pribadi anak. Memang, bayi dan balita belum mampu memahami konsekuensi unggahan di internet secara utuh. Namun, hal itu bukan berarti orangtua bebas membagikan semua hal tentang mereka.
Orangtua bisa mulai dengan memilah foto yang layak dibagikan, menghindari cerita yang mempermalukan anak, dan menyimpan momen yang terlalu pribadi untuk konsumsi keluarga saja. Ketika anak mulai mampu menyampaikan pendapat, ajak mereka berdiskusi sebelum foto atau video diunggah.
3. Informasi kecil tentang anak bisa membuka risiko keamanan

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk) Pernah melihat unggahan hari pertama anak masuk sekolah yang menampilkan seragam, nama sekolah, papan nama kelas, dan lokasi tempat orangtua mengambil foto? Sekilas, unggahan tersebut terasa biasa saja. Orangtua mungkin hanya ingin menunjukkan rasa bangga karena anaknya mulai memasuki babak baru dalam kehidupan.
Namun, ketika sejumlah informasi kecil dikumpulkan, orang lain bisa memperoleh gambaran lebih lengkap tentang identitas dan rutinitas anak. UNICEF melalui panduan Online Privacy Checklist for Parents, mengingatkan orangtua untuk berhati-hati saat membagikan informasi seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat, nomor telepon, dan nama sekolah anak.
Informasi tersebut sebaiknya tidak diumbar di ruang publik tanpa pertimbangan. Apalagi, unggahan yang memperlihatkan lokasi secara langsung atau kebiasaan harian bisa memberi petunjuk mengenai aktivitas anak kepada orang yang tidak dikenal.
"Setiap klik, berbagi (share), komentar, dan unggahan yang kita lakukan secara daring menciptakan jejak digital yang mungkin mustahil untuk dihapus. Tumbuh besar di tengah teknologi digital, anak-anak masa kini menghadapi risiko terhadap privasi, identitas, reputasi, dan keamanan mereka yang belum pernah terjadi sebelumnya," demikian panduan UNICEF.
Risiko lainnya muncul ketika foto anak disalahgunakan atau dimanipulasi. Dalam artikel UNICEF tentang sharenting, Steinberg juga menyoroti kekhawatiran mengenai gambar anak yang dapat digunakan untuk tujuan berbahaya, termasuk dimanipulasi dengan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Risiko ini tidak berarti setiap foto anak pasti akan disalahgunakan, tetapi orangtua perlu memahami bahwa mereka tidak sepenuhnya bisa mengendalikan apa yang terjadi setelah sebuah gambar tersebar.
4. Anak berhak memiliki cerita masa kecilnya sendiri

ilustrasi memotret anak kecil (freepik.com/freepik) Saat anak melakukan sesuatu yang dianggap lucu, orangtua mungkin spontan mengambil foto dan membagikannya. Misalnya, video ketika anak mengamuk karena mainannya tidak ditemukan, foto ketika ia menangis setelah jatuh, atau cerita tentang kesalahan kecil yang membuat keluarga tertawa.
Bagi orang dewasa, kejadian itu mungkin terasa menghibur. Akan tetapi, bagi anak, pengalaman tersebut bisa terasa memalukan ketika dilihat kembali atau diketahui teman-temannya beberapa tahun kemudian. Stacey Steinberg menjelaskan bahwa anak memiliki perasaan dan kebutuhan untuk menentukan bagaimana dirinya ingin ditampilkan kepada orang lain.
"Anak-anak kecil belum bisa memberikan persetujuan yang didasari pemahaman penuh (informed consent) terkait aktivitas berbagi ini. Kita perlu mempertimbangkan bagaimana perasaan mereka seandainya kita bisa melakukan percakapan yang lebih mendalam dan mereka mampu mengutarakan pendapat mereka," jelas Stacey.
Ia mengingatkan bahwa hal yang dianggap sepele oleh orang dewasa belum tentu terasa sepele bagi anak. Pemikiran ini relevan karena anak sedang membangun identitas dan belajar memahami dirinya sendiri. Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh tanpa setiap kesalahan, ekspresi emosi, atau pengalaman pribadi harus terdokumentasi di media sosial orangtuanya.
"Jadi, kita perlu sangat berhati-hati mengenai kapan kita membagikan konten tersebut. Kita sebaiknya menjauh dari perangkat digital saat sedang bersama anak-anak agar kita bisa benar-benar menikmati momen tersebut, bukan malah sibuk melihat news feed dan membiarkan anak-anak memperkuat ingatan mereka sendiri," saran Stacey.
5. Cara bijak melakukan sharenting tanpa menghilangkan momen berharga

ilustrasi orangtua dan anak sedang bermain (pexels.com/Arina Krasnikova) Mungkin setelah membaca tentang risiko sharenting, sebagian orangtua mulai bertanya-tanya apakah mereka masih boleh mengunggah foto anak. Jawabannya bukan berarti semua unggahan harus dilarang. Yang lebih penting adalah memahami bahwa setiap unggahan membutuhkan pertimbangan.
Sebelum menekan tombol post, orangtua bisa berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah foto ini aman dibagikan, apakah ada informasi pribadi yang terlihat, dan apakah anak mungkin merasa malu ketika melihatnya nanti?
"Pesatnya kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah meningkatkan risiko bagi anak-anak dan remaja dalam hal perundungan siber (cyberbullying), pencurian identitas, dan eksploitasi data. Para ahli menyarankan orang tua untuk menahan diri agar tidak mengunggah konten tersebut dan sebaliknya mempertimbangkan masa depan, keselamatan, serta otonomi anak mereka," demikian panduan American Psychological Association (APA) tentang What you need to know before sharing your child’s life online.
Sejalan dengan perhatian tersebut, orangtua sebaiknya membatasi informasi yang disertakan dalam unggahan, memeriksa pengaturan privasi akun, menghindari publikasi lokasi secara langsung, dan tidak membagikan foto yang terlalu pribadi. Pengaturan akun privat bisa membantu, tetapi tidak menjamin bahwa foto tidak akan disimpan atau disebarkan oleh orang lain.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah membiasakan komunikasi sesuai usia anak. Ketika anak sudah bisa memahami pilihan sederhana, orangtua dapat bertanya apakah ia nyaman jika fotonya dibagikan. Jika anak menolak, jangan langsung menganggapnya berlebihan atau tidak menghargai usaha orangtua.
Sharenting bukan semata-mata tentang boleh atau tidaknya orangtua mengunggah foto anak, melainkan tentang bagaimana mereka menyeimbangkan kebahagiaan berbagi dengan tanggung jawab melindungi anak. Tidak semua momen berharga harus diketahui banyak orang agar tetap bermakna. Anak bukan hanya bagian dari cerita orangtuanya, melainkan juga individu yang berhak menentukan bagaimana kisah hidupnya kelak dikenal oleh dunia.












![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tahu Seberapa Rentan Mentalmu](https://image.idntimes.com/post/20250526/img-20250524-171226-164746ba170a9a5a6fad9a91e0cdcd36.jpg)










