ilustrasi orangtua dan anak sedang bermain (pexels.com/Arina Krasnikova)
Mungkin setelah membaca tentang risiko sharenting, sebagian orangtua mulai bertanya-tanya apakah mereka masih boleh mengunggah foto anak. Jawabannya bukan berarti semua unggahan harus dilarang. Yang lebih penting adalah memahami bahwa setiap unggahan membutuhkan pertimbangan.
Sebelum menekan tombol post, orangtua bisa berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah foto ini aman dibagikan, apakah ada informasi pribadi yang terlihat, dan apakah anak mungkin merasa malu ketika melihatnya nanti?
"Pesatnya kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah meningkatkan risiko bagi anak-anak dan remaja dalam hal perundungan siber (cyberbullying), pencurian identitas, dan eksploitasi data. Para ahli menyarankan orang tua untuk menahan diri agar tidak mengunggah konten tersebut dan sebaliknya mempertimbangkan masa depan, keselamatan, serta otonomi anak mereka," demikian panduan American Psychological Association (APA) tentang What you need to know before sharing your child’s life online.
Sejalan dengan perhatian tersebut, orangtua sebaiknya membatasi informasi yang disertakan dalam unggahan, memeriksa pengaturan privasi akun, menghindari publikasi lokasi secara langsung, dan tidak membagikan foto yang terlalu pribadi. Pengaturan akun privat bisa membantu, tetapi tidak menjamin bahwa foto tidak akan disimpan atau disebarkan oleh orang lain.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah membiasakan komunikasi sesuai usia anak. Ketika anak sudah bisa memahami pilihan sederhana, orangtua dapat bertanya apakah ia nyaman jika fotonya dibagikan. Jika anak menolak, jangan langsung menganggapnya berlebihan atau tidak menghargai usaha orangtua.
Sharenting bukan semata-mata tentang boleh atau tidaknya orangtua mengunggah foto anak, melainkan tentang bagaimana mereka menyeimbangkan kebahagiaan berbagi dengan tanggung jawab melindungi anak. Tidak semua momen berharga harus diketahui banyak orang agar tetap bermakna. Anak bukan hanya bagian dari cerita orangtuanya, melainkan juga individu yang berhak menentukan bagaimana kisah hidupnya kelak dikenal oleh dunia.