Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Vlada Karpovich)
  • Konten parenting di media sosial bisa menginspirasi, tetapi tidak semua standar ideal cocok diterapkan karena tiap keluarga memiliki kebutuhan dan keterbatasan berbeda.
  • Anak tidak harus selalu menjalani stimulasi terstruktur, bekal kreatif, atau banyak kegiatan; bermain bebas, makanan bergizi, dan waktu luang tetap penting.
  • Pengasuhan empatik dan keluarga harmonis tidak menuntut kesempurnaan; orangtua perlu mengevaluasi diri, memperbaiki komunikasi, serta menyesuaikan pola asuh dengan kondisi keluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Media sosial membuat berbagai informasi tentang pengasuhan anak semakin mudah ditemukan. Mulai dari cara memberikan stimulasi, mengatur pola makan, memilih sekolah, hingga membangun kedekatan emosional dengan anak. Beragam konten tersebut memang bisa menjadi sumber inspirasi bagi orangtua. Namun, tidak semua hal yang terlihat ideal di internet bisa diterapkan dalam setiap keluarga.

Masalahnya, paparan konten parenting yang serba sempurna terkadang membuat orangtua merasa harus memenuhi standar tertentu agar dianggap berhasil mengasuh anak. Padahal, setiap keluarga memiliki kondisi, kebutuhan, dan keterbatasan yang berbeda. Supaya tidak mudah terjebak dalam ekspektasi yang melelahkan, kenali beberapa standar parenting di media sosial yang sebenarnya tidak harus kamu ikuti. Yuk, simak satu per satu!

1. Anak harus selalu mendapatkan stimulasi setiap hari

ilustrasi ibu dan anak membaca buku (pexels.com/RDNE Stock project)

Konten parenting sering memperlihatkan berbagai aktivitas edukatif yang dirancang untuk mendukung tumbuh kembang anak. Mulai dari permainan sensorik, eksperimen sederhana, membaca buku, hingga kegiatan seni yang terlihat menarik. Tidak sedikit orangtua kemudian merasa perlu menyediakan aktivitas serupa setiap hari agar anak tidak kehilangan kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Padahal, anak juga membutuhkan waktu untuk bermain bebas, beristirahat, atau sekadar melakukan kegiatan yang disukainya. Tidak semua momen harus diubah menjadi aktivitas edukatif dengan tujuan tertentu. Interaksi sederhana bersama keluarga dan kesempatan mengeksplorasi lingkungan pun dapat menjadi bagian dari proses belajar. Orangtua tidak perlu merasa gagal hanya karena keseharian anaknya tidak selalu dipenuhi kegiatan terstruktur.

2. Bekal dan makanan anak harus selalu dibuat menarik

ilustrasi anak memakan bekal (pexels.com/Katerina Holmes)

Berbagai konten bekal anak di media sosial sering menampilkan makanan dengan bentuk karakter lucu, warna beragam, serta penataan yang rapi. Tampilan tersebut memang menarik, tetapi secara tidak langsung bisa membentuk ekspektasi bahwa orangtua harus selalu kreatif dalam menyiapkan makanan. Akibatnya, bekal sederhana terkadang dianggap kurang menarik atau tidak cukup menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan anak.

Padahal, hal terpenting dari makanan anak adalah kandungan gizi, kebersihan, keamanan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan. Orangtua tidak harus menghabiskan banyak waktu untuk membentuk nasi menjadi karakter tertentu atau membeli perlengkapan makan khusus. Selama makanan yang diberikan cukup bergizi dan anak dapat menikmatinya, bekal sederhana tetap memiliki nilai yang sama. Kreativitas boleh dilakukan, tetapi tidak perlu menjadi tuntutan setiap hari.

3. Orangtua harus selalu menerapkan gentle parenting dengan sempurna

ilustrasi ibu dan anak (magnific.com/magnific)

Gentle parenting sering ditampilkan sebagai pendekatan pengasuhan yang mengutamakan empati, komunikasi, dan penghargaan terhadap emosi anak. Namun, konten singkat di media sosial terkadang membuat penerapannya terlihat terlalu ideal. Orangtua seolah harus selalu tenang, tidak boleh meninggikan suara, dan mampu merespons setiap perilaku anak dengan kalimat yang tepat dalam berbagai situasi.

Padahal, orangtua juga manusia yang memiliki batas kesabaran, emosi, dan kondisi fisik yang berbeda setiap harinya. Menerapkan pengasuhan yang penuh empati bukan berarti harus selalu bereaksi sempurna. Hal yang lebih penting adalah kesediaan untuk mengevaluasi perilaku, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta memperbaiki komunikasi dengan anak. Proses tersebut jauh lebih realistis daripada mengejar citra orangtua yang tidak pernah kehilangan kesabaran.

4. Anak harus memiliki banyak kegiatan untuk mengembangkan potensinya

ilustrasi anak bermain di atas bola-bola (pexels.com/Helena Lopes)

Media sosial sering memperlihatkan anak yang mengikuti berbagai les, kursus, kompetisi, dan kegiatan ekstrakurikuler sejak usia dini. Pemandangan tersebut dapat membuat orangtua merasa perlu memberikan banyak kesempatan serupa agar anak tidak tertinggal. Bahkan, waktu luang terkadang dianggap sebagai kesempatan yang terbuang karena tidak dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan tertentu.

Padahal, banyaknya kegiatan tidak otomatis membuat anak lebih berkembang. Terlalu banyak jadwal justru berisiko membuat anak kelelahan dan kehilangan kesempatan untuk mengenali minatnya sendiri. Setiap anak memiliki kebutuhan serta kecepatan perkembangan yang berbeda. Orangtua dapat memberikan kesempatan untuk mencoba berbagai aktivitas, tetapi tidak perlu menjadikan kesibukan sebagai tolok ukur keberhasilan pengasuhan.

5. Kehidupan keluarga harus selalu terlihat harmonis

ilustrasi orangtua dan anak (magnific.com/magnific)

Konten keluarga yang memperlihatkan kebersamaan, komunikasi hangat, dan hubungan harmonis sering menjadi gambaran ideal kehidupan rumah tangga. Tidak ada salahnya menjadikan hal tersebut sebagai inspirasi. Namun, ketika terlalu sering melihat keluarga lain yang tampak sempurna, orangtua bisa merasa bahwa keluarganya sendiri kurang bahagia hanya karena memiliki konflik atau rutinitas yang tidak selalu menyenangkan.

Padahal, hubungan keluarga yang sehat bukan berarti tidak pernah mengalami perbedaan pendapat, kelelahan, atau pertengkaran. Ada persoalan yang perlu diselesaikan dan emosi yang membutuhkan waktu untuk dikelola. Keharmonisan tidak harus dibuktikan melalui unggahan yang memperlihatkan kebersamaan setiap saat. Kualitas hubungan justru lebih terlihat dari bagaimana anggota keluarga saling menghargai, memperbaiki kesalahan, dan menghadapi masalah bersama.

Itulah 5 standar parenting di media sosial yang tidak harus kamu ikuti. Konten pengasuhan boleh menjadi sumber inspirasi, tetapi bukan tolok ukur mutlak dalam membesarkan anak. Pada akhirnya, pengasuhan yang baik bukan tentang terlihat sempurna di mata orang lain, melainkan tentang memahami kebutuhan anak dan menyesuaikannya dengan kondisi keluarga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article