Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Parenting di Media Sosial Bisa Bikin Orangtua Minder?

3 min read
Kenapa Parenting di Media Sosial Bisa Bikin Orangtua Minder?
ilustrasi parenting (pexels.com/William Fortunato)
  • Media sosial hanya menampilkan momen tertentu sehingga kehidupan parenting orang lain terlihat lebih ideal.

  • Tips pengasuhan dan pencapaian anak lain belum tentu sesuai dengan kondisi setiap keluarga.

  • Terlalu sering membandingkan diri dengan orangtua lain bisa membuat standar parenting terasa semakin tinggi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sekarang, gampang banget menemukan konten pengasuhan anak (parenting) tentang kehidupan orangtua lain di media sosial. Baru buka Instagram atau TikTok, sudah ada video keluarga yang sedang makan bersama, anak belajar, atau orangtua berbagi cerita soal cara mereka mengurus anak. Kadang, kita cuma mau lihat sebentar, tetapi ujung-ujungnya malah ikut membandingkan kehidupan keluarga sendiri.

Awalnya, mungkin gak ada niat membandingkan. Namun, kalau hampir setiap hari melihat konten yang serupa, bisa saja muncul pikiran, “Kok di rumahku gak begini, ya?” Dari sini, media sosial yang tadinya cuma tempat mencari hiburan atau informasi, malah bisa bikin orangtua merasa kurang percaya diri. Yuk, simak kenapa hal ini bisa terjadi!

  1. 1. Kita cuma melihat momen yang diunggah

    ilustrasi menggulir media sosial
    ilustrasi menggulir media sosial (pexels.com/RDNE Stock project)

    Saat melihat video parenting, kita biasanya langsung melihat hasil akhirnya. Anak terlihat duduk tenang, mau makan, membereskan mainan, atau mengikuti kegiatan yang dibuat orangtua. Momen seperti itu memang menyenangkan untuk dibagikan.

    Kita gak tahu apa yang terjadi sebelum kamera dinyalakan. Bisa saja 5 menit sebelumnya anak masih menangis, gak mau makan, atau berantem dengan saudara. Orangtua lain juga mungkin sudah mencoba berkali-kali sampai akhirnya mendapatkan satu momen yang dirasa pantas diunggah.

  2. 2. Tips di media sosial belum tentu cocok

    ilustrasi media sosial
    ilustrasi media sosial (pexels.com/Los Muertos Crew)

    Di media sosial, orangtua bisa menemukan beragam tips untuk menghadapi anak. Ada cara menghadapi tantrum, mengatur waktu tidur, mengurangi penggunaan HP, sampai mengenalkan makanan tertentu. Karena disampaikan berdasarkan pengalaman pribadi, tips tersebut kadang terasa meyakinkan dan ingin langsung dicoba.

    Namun, hasilnya belum tentu sama ketika diterapkan di rumah. Anak malah bisa menolak, makin rewel, atau tetap melakukan hal yang ingin kita hentikan. Kalau melihat orang lain berhasil dengan cara tersebut, orangtua bisa mulai berpikir bahwa diri sendiri yang belum bisa mengurus anak dengan benar.

  3. 3. Anak sendiri ikut dibandingkan

    ilustrasi parenting
    ilustrasi parenting (pexels.com/Gustavo Fring)

    Konten tentang perkembangan anak juga gampang ditemukan di media sosial. Ada anak seusia anakmu yang sudah lancar membaca, bisa membereskan mainan sendiri, atau berani tampil di depan banyak orang. Padahal, sebelumnya, kamu mungkin biasa saja melihat kemampuan anak sendiri.

    Setelah sering melihat konten seperti itu, kamu bisa mulai memperhatikan hal-hal yang belum bisa dilakukan anak. “Kok anakku belum bisa, ya?” Pertanyaan sederhana seperti ini bisa berubah menjadi rasa khawatir kalau terus muncul setiap kali melihat pencapaian anak lain.

  4. 4. Orangtua lain kelihatan lebih sabar

    ilustrasi parenting
    ilustrasi parenting (pexels.com/Kampus Production)

    Ada orangtua yang membagikan video ketika menghadapi anak yang sedang marah atau rewel. Mereka terlihat tenang, bicara pelan, lalu menjelaskan sesuatu sampai anak akhirnya mau mendengarkan. Melihatnya, kamu mungkin jadi berpikir bahwa seharusnya menghadapi anak memang bisa dilakukan setenang itu.

    Padahal, kamu gak tahu seperti apa keadaan sebelum kamera dinyalakan. Di rumah sendiri, anak bisa sudah dipanggil berkali-kali, menolak makan, atau terus meminta sesuatu ketika kamu sedang capek. Wajar kalau ada kalanya kesabaran habis meski setelah itu kamu tetap bisa menyadari bagian mana yang perlu diperbaiki.

  5. 5. Standar parenting jadi makin tinggi

    ilustrasi parenting
    ilustrasi parenting (pexels.com/August de Richelieu)

    Semakin banyak konten parenting yang dilihat, semakin banyak pula hal yang terasa harus dilakukan. Anak harus punya jadwal tidur yang teratur, makan makanan tertentu, punya waktu bermain, dibacakan buku, ditemani belajar, dan masih banyak lagi. Belum selesai memikirkan satu hal, sudah ada konten lain yang membuatmu merasa masih kurang sebagai orangtua.

    Padahal, kehidupan keluarga kecilmu gak selalu bisa mengikuti semua saran tersebut. Orangtua punya pekerjaan, urusan rumah, kondisi keuangan, dan waktu yang berbeda-beda. Kalau semuanya dijadikan standar, wajar kalau akhirnya kamu merasa apa yang dilakukan setiap hari masih belum cukup.

    Konten parenting sebenarnya gak selalu buruk. Banyak juga yang membantu orangtua menemukan ide ketika sedang bingung menghadapi anak. Hanya saja, jangan sampai setelah selesai menggulir medsos, kamu malah sibuk membandingkan apa saja yang belum bisa dilakukan sebagai orangtua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More