ilustrasi ibu dan anak remaja (pexels.com/Karolina Kaboompics)
Tanda lain yang sering terlihat adalah sikap defensif anak saat diajak bicara. Mereka cepat tersinggung, langsung membantah, atau bahkan menghindari kontak mata. Sebenarnya, sikap ini muncul karena anak merasa setiap percakapan dengan orangtua akan berakhir dengan kritik. Alih-alih merasa didukung, mereka justru merasa diserang.
Untuk menghadapi situasi ini, orangtua bisa mencoba mengubah gaya komunikasi. Mulailah dengan pertanyaan terbuka yang gak menghakimi, seperti 'Kamu lagi merasa gimana hari ini?' atau 'Apa yang bikin kamu kepikiran akhir-akhir ini?' Dengan cara ini, anak akan lebih terbuka karena merasa diajak ngobrol, bukan diadili. Perlahan, mereka akan menyadari bahwa orangtua bisa menjadi tempat yang aman untuk mencurahkan isi hati.
Remaja adalah individu yang sedang mencari jati diri, sehingga mereka membutuhkan lebih banyak pengertian dibanding sekadar aturan. Ketika tanda-tanda seperti menarik diri, emosi gak stabil, merasa gak dimengerti, lebih sering curhat ke teman, atau bersikap defensif mulai muncul, itu saatnya orangtua menahan diri untuk gak langsung berceramah. Mendengarkan dengan tulus justru akan membuat anak merasa dihargai dan dicintai apa adanya.
Pada akhirnya, komunikasi sehat dengan anak remaja bukan soal siapa yang lebih banyak bicara, tetapi siapa yang lebih bisa memahami. Dengan menjadi pendengar yang baik, orangtua dapat membangun ikatan yang lebih kuat dan menumbuhkan rasa percaya. Dari sinilah, remaja akan lebih mudah menerima arahan dengan hati terbuka. Jadi, jangan buru-buru mengeluarkan ceramah panjang, cobalah dengarkan dulu.