Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Tanda Anak Sedang Mengalami Peer Pressure, Orangtua Harus Peka!

7 Tanda Anak Sedang Mengalami Peer Pressure, Orangtua Harus Peka!
ilustrasi seorang ayah dan anak (pexels.com/cottonbro)
Intinya Sih
  • Peer pressure adalah tekanan sosial dari teman sebaya yang dapat memengaruhi perilaku, emosi, dan rasa percaya diri anak, terutama saat mereka mencari identitas diri.
  • Tanda-tanda anak mengalami peer pressure meliputi perubahan suasana hati, fokus berlebihan pada penampilan, menjauh dari keluarga, hingga mengikuti perilaku teman tanpa pertimbangan.
  • Dukungan emosional dan komunikasi terbuka dari orangtua penting agar anak mampu menghadapi tekanan sosial tanpa kehilangan jati diri serta tetap merasa aman untuk bercerita.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Peer pressure adalah tekanan dari lingkungan pertemanan yang membuat seseorang merasa perlu mengikuti perilaku, gaya hidup, atau kebiasaan tertentu agar diterima kelompok sosialnya. Kondisi ini paling sering dialami anak dan remaja karena pada usia tersebut, mereka mulai mencari identitas diri sekaligus ingin merasa masuk dalam lingkungannya. Meski terkadang terlihat sepele, peer pressure bisa memengaruhi kondisi emosional, perilaku, hingga rasa percaya diri anak.

Tidak semua peer pressure berdampak buruk karena ada juga pengaruh positif dari teman sebaya. Namun, tekanan sosial yang negatif sering membuat anak melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak nyaman bagi mereka. Karena itu, penting bagi orangtua memahami tanda-tandanya agar bisa memberi dukungan sebelum kondisi anak semakin tertekan. Yuk, ketahui tandanya!

1. Anak jadi terlalu fokus pada penampilan

ilustrasi anak menyortir pakaian
ilustrasi anak menyortir pakaian (pexels.com/olly)

Anak yang mengalami peer pressure biasanya mulai lebih memperhatikan penampilannya secara berlebihan. Mereka bisa mendadak ingin mengikuti tren pakaian, gaya rambut, atau aksesori tertentu agar terlihat sama seperti teman-temannya. Keinginan ini sering muncul karena anak takut dianggap berbeda dari kelompok sosialnya.

Selain itu, anak juga mulai lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka menjadi sensitif terhadap komentar soal tubuh atau penampilan fisik yang sebenarnya terdengar sederhana. Jika terus terjadi, kondisi ini bisa membuat rasa percaya diri anak menurun perlahan.

“Anak perempuan lebih mungkin mengalami tekanan terkait penampilan mereka dibanding anak laki-laki,” jelas Amy Morin, psikoterapis dan penulis, dikutip dari Verywell Mind.

2. Suasana hati anak mudah berubah

ilustrasi seorang anak menangis sendirian
ilustrasi seorang anak menangis sendirian (pexels.com/pixabay)

Perubahan emosi menjadi salah satu tanda paling umum saat anak sedang mengalami tekanan sosial. Anak bisa terlihat lebih murung, mudah marah, cemas, atau justru menjadi lebih pendiam dari biasanya. Hal ini sering terjadi karena mereka merasa harus terus menyesuaikan diri agar diterima lingkungan pertemanan.

Di sisi lain, anak juga bisa kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya mereka sukai. Mereka tampak lelah secara emosional karena terlalu memikirkan pendapat orang lain tentang dirinya. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

3. Anak mulai menjauh dari keluarga

ilustrasi seorang ayah dan anak
ilustrasi seorang ayah dan anak (pexels.com/cottonbro)

Saat mengalami peer pressure, anak sering menjadi lebih tertutup kepada orangtua. Mereka mungkin lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di kamar dan mulai jarang bercerita tentang kesehariannya. Kondisi ini biasanya muncul karena anak merasa lebih fokus mencari penerimaan dari teman sebaya.

Anak juga bisa takut dihakimi jika menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Akibatnya, mereka memilih memendam tekanan sosial tersebut sendirian. Padahal, dukungan emosional dari keluarga sangat penting agar anak merasa aman dan didengar.

4. Mendadak mengikuti perilaku teman

ilustrasi kedua anak remaja duduk bersama
ilustrasi kedua anak remaja duduk bersama (pexels.com/pixabay)

Salah satu tanda peer pressure adalah ketika anak mulai mengikuti perilaku teman tanpa banyak berpikir. Misalnya, mereka ikut membolos, berkata kasar, atau mencoba sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Anak biasanya melakukan hal tersebut karena takut dianggap tidak keren atau dijauhi kelompoknya.

Pada usia remaja, hubungan dengan teman memang terasa sangat penting. Karena itu, anak lebih mudah mengambil keputusan impulsif demi diterima lingkungan sosialnya. Sayangnya, keputusan tersebut belum tentu sesuai dengan nilai yang sebenarnya mereka yakini.

“Bagi remaja, hubungan dengan teman sebaya menjadi hal yang paling penting sehingga membuat mereka lebih rentan terhadap peer pressure,” ujar Akeem Marsh, psikiater anak dan remaja, dikutip dari Verywell Mind.

5. Anak sering membandingkan diri dengan orang lain

ilustrasi seorang anak perempuan bersedih
ilustrasi seorang anak perempuan bersedih (pexels.com/liza-summer)

Anak yang mengalami tekanan sosial biasanya mulai merasa dirinya kurang dibanding teman-temannya. Mereka merasa harus memiliki penampilan, barang, atau gaya hidup tertentu agar dianggap layak diterima. Perasaan seperti ini sering dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan maupun media sosial.

Jika terus terjadi, anak bisa kehilangan rasa percaya diri terhadap dirinya sendiri. Mereka menjadi lebih mudah merasa insecure dan sulit menghargai kelebihan pribadi yang dimiliki. Dalam beberapa kasus, kebiasaan membandingkan diri juga dapat memicu stres emosional.

6. Pola tidur mulai berubah

ilustrasi remaja tertidur di sofa
ilustrasi remaja tertidur di sofa (pexels.com/rdne)

Tekanan sosial ternyata juga bisa memengaruhi kualitas tidur anak. Anak yang sedang cemas karena peer pressure mungkin jadi sulit tidur, sering begadang, atau terlihat kelelahan sepanjang hari. Pikiran tentang bagaimana diterima teman-temannya bisa terus membebani mental mereka.

Selain itu, anak juga bisa terlalu aktif bermain media sosial agar tetap merasa terhubung dengan kelompok pertemanannya. Mereka takut tertinggal informasi atau merasa dikucilkan jika tidak selalu mengikuti aktivitas teman-temannya. Kebiasaan ini lama-kelamaan dapat mengganggu kesehatan fisik maupun emosional anak.

“Perubahan suasana hati, perilaku, atau rasa percaya diri bisa menjadi tanda bahwa anak merasa tertekan dan membutuhkan dukungan,” ujar Emily Edlynn, psikolog, dikutip dari Verywell Mind.

7. Anak mulai kehilangan kepercayaan diri

ilustrasi ibu dan anak
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/kindelmedia)

Tekanan dari lingkungan sosial dapat membuat anak mulai meragukan dirinya sendiri. Mereka menjadi takut mengatakan pendapat, sulit menolak ajakan teman, atau merasa harus selalu mengikuti orang lain agar diterima. Kondisi ini biasanya terjadi karena anak belum memiliki rasa percaya diri yang cukup kuat.

Di sisi lain, anak yang terus ditekan untuk menyesuaikan diri juga bisa kehilangan identitas pribadinya. Mereka lebih fokus menjadi versi yang disukai lingkungan dibanding memahami dirinya sendiri. Jika terus berlangsung, anak bisa kesulitan membangun batasan sehat dalam hubungan sosialnya di masa depan.

Peer pressure memang menjadi bagian yang sulit dihindari dalam proses tumbuh kembang anak. Namun, dukungan emosional dan komunikasi yang terbuka dapat membantu anak menghadapi tekanan sosial tanpa kehilangan jati dirinya. Yang terpenting, pastikan anak tahu bahwa mereka selalu punya tempat aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto

Related Articles

See More