“Orangtua bisa menggunakan AI sebagai mesin pencari, bukan sebagai terapis atau pelatih parenting,” jelas Emily Guarnotta, PsyD, PMH-C, psikolog klinis dan pendiri Phoenix Health, dikutip dari Parents. “Gunakan AI untuk mendefinisikan istilah tertentu, seperti ‘Apa itu sleep regression?’, tapi jangan untuk mendiagnosis anakmu,” tambahnya.
5 Tren Parenting yang Sebaiknya Ditinggalkan di 2026

Tahun baru identik dengan resolusi baru, termasuk dalam urusan parenting. Memasuki 2026, inilah saat yang tepat untuk menata ulang pola asuh agar lebih sehat dan realistis. Pasalnya, tren parenting yang viral di media sosial memang terlihat menarik, tapi belum tentu membawa dampak positif bagi anak maupun orangtua.
Tak sedikit orangtua merasa harus mengikuti semua “aturan” parenting agar terlihat benar dan kekinian. Padahal, kebahagiaan anak dan keharmonisan keluarga tidak ditentukan oleh tren. Karena itu, awal tahun jadi momentum tepat untuk meninggalkan pola asuh yang bikin stres. Yuk, simak tren parenting apa saja yang sebaiknya ditinggalkan di 2026!
1. ChatGPT bukan pelatih parenting

Memang seru bisa bertanya pada AI soal tidur anak atau perilaku mereka, tapi mengandalkan ChatGPT untuk parenting itu berisiko. Banyak orangtua lupa kalau AI bisa salah dan tidak bisa menggantikan dokter atau psikolog anak. Akibatnya, bisa muncul saran yang malah membingungkan atau menyesatkan.
2. Tren foto atau mencari validasi publik

Anak tersenyum lucu di taman hiburan atau sedang belajar sering dibagikan di media sosial. Tapi beberapa orangtua posting bukan cuma untuk kenangan, melainkan takut dianggap gagal di masa depan. Foto yang kelihatan sempurna nggak selalu mencerminkan pengalaman anak sehari-hari.
“Foto menangkap ekspresi, bukan pengalaman,” ujar Robyn Koslowitz, PhD, seorang Psikolog Klinis & Pendidik Pengasuhan Anak, dikutip dari Parents. “Seorang balita bisa tersenyum di taman hiburan tapi tetap takut pada amarah orangtuanya di rumah,” tambahnya.
Terlalu fokus pada validasi publik justru bisa bikin orangtua cemas berlebihan. Anak pun bisa merasa hidupnya selalu dinilai. Mending nikmati momen indah keluarga di rumah, bukan di feed Instagram.
3. Overscheduling atau jadwal anak yang terlalu padat

Setiap menit dijadwalkan bisa bikin anak lelah dan kehilangan waktu eksplorasi. Anak jadi nggak punya kesempatan bermain kreatif atau belajar membuat keputusan sendiri. Padahal, ruang kosong penting banget buat perkembangan mental dan fisik mereka.
“Kesibukan tanpa henti membuat sistem saraf anak terus ‘menyala’, yang mempersingkat fokus, menurunkan mood, dan mengganggu tidur,” kata Cameron Caswell, PhD, psikolog remaja, dikutip dari Parents. “Anak justru belajar perform, bukan berpikir dan memecahkan masalah sendiri,” tambahnya.
Orangtua sebaiknya pilih satu atau dua kegiatan per minggu dan beri waktu bebas buat anak. Dengan begitu, mereka bisa belajar mandiri sambil tetap happy. Ingat, waktu luang itu bagian dari pendidikan, bukan buang-buang waktu.
4. FAFO vs. Gentle Parenting

Label parenting bisa bikin bingung. Gentle parenting yang hangat dan tegas kadang dianggap permisif, sedangkan FAFO (F** Around and Find Out*) bisa bikin anak merasa takut. Akibatnya, mereka gak belajar tanggung jawab, malah belajar takut dihukum.
Gentle parenting itu hangat tapi tetap tegas, mengajarkan disiplin tanpa membuat anak stres. Orangtua bisa bilang, “Saatnya tidur. Aku tahu kamu sedih hari ini berakhir, tapi kita tetap harus menjaga kesehatan tubuhmu.” Tren FAFO sebaiknya dihindari karena bisa menimbulkan rasa malu dan dendam.
5. Konflik besar soal child care

Masalah biaya dan akses child care masih jadi momok buat banyak keluarga. Orangtua sering stres karena harus menyeimbangkan kerja, sekolah anak, dan pengasuhan tambahan. Stres berlebihan bisa bikin interaksi dengan anak menurun dan mental orangtua terganggu.
Solusi seperti cuti orangtua, subsidi child care, atau bantuan pengasuh profesional bisa meringankan beban. Fokus pada kualitas pengasuhan lebih penting daripada mengikuti tren. Tahun baru ini pas banget buat menata ulang prioritas keluarga dan cari cara pengasuhan yang lebih ringan tapi bermakna.
Itulah tadi beberapa tren parenting yang sebaiknya ditinggalkan di tahun 2026 ini. Jadi orangtua terbaik gak soal ikut tren, tapi soal kasih sayang, perhatian, dan memberi ruang anak untuk berkembang dengan bahagia.

















