Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Hal yang Dipelajari Sejak Kecil oleh Orang Berenergi Positif
ilustrasi tersenyum (pexels.com/Nathã Soares Queiroz)
  • Orang berenergi positif membangun hubungan hangat lewat rasa ingin tahu tulus: bertanya, mendengarkan, dan menghargai pengalaman serta sudut pandang orang lain.
  • Mereka memperhatikan dan mengingat detail kecil, sehingga kepedulian terasa personal; kebiasaan ini dilatih dengan fokus mendengarkan dan mengurangi gangguan saat berinteraksi.
  • Energi positif juga tercermin dari kebaikan berempati tanpa pamrih serta konsistensi antara ucapan dan tindakan, termasuk menepati janji, bertanggung jawab, dan mengakui kesalahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak, kamu bertemu seseorang yang kehadirannya bikin suasana terasa lebih menyenangkan? Saat mengobrol dengannya, kamu merasa nyaman, didengarkan, bahkan bisa ikut bersemangat meskipun sebelumnya sedang lelah. Orang seperti ini sering dianggap memiliki energi positif yang membuat orang lain betah berada di dekatnya.

Namun, kemampuan tersebut gak selalu muncul secara alami atau terbentuk begitu saja ketika seseorang beranjak dewasa. Ada beberapa kebiasaan dan pelajaran hidup yang bisa dipelajari sejak kecil hingga akhirnya membentuk cara seseorang memperlakukan diri sendiri dan orang lain.

Menariknya, orang yang bahagia dan memancarkan energi positif cenderung memiliki kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Mereka terbiasa menunjukkan ketertarikan terhadap orang lain, memperhatikan hal-hal kecil, bersikap baik dengan tulus, serta berusaha menyelaraskan perkataan dan tindakan.

Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sepele, tapi dampaknya bisa terasa dalam hubungan sosial maupun cara seseorang menjalani hidup. Lantas, apa saja pelajaran yang biasanya dipahami oleh orang berenergi positif sejak kecil? Yuk, simak empat hal berikut ini yang bisa kamu terapkan dalam keseharian.

1. Belajar memiliki rasa ingin tahu terhadap orang lain

ilustrasi ngobrol dengan teman (magnific.com/magnific)

Orang yang memiliki energi positif biasanya gak hanya tertarik membicarakan dirinya sendiri, tapi juga ingin mengenal orang lain lebih jauh. Ketika bertemu seseorang, mereka cenderung mengajukan pertanyaan dan mendengarkan jawabannya dengan penuh perhatian. Mereka memahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman, pemikiran, dan cerita hidup yang menarik untuk dipelajari. Kebiasaan ini membuat lawan bicara merasa dihargai karena keberadaannya benar-benar diperhatikan.

Menurut Mary Kay Cocharo, seorang konselor dan terapis hubungan, rasa ingin tahu terhadap orang lain merupakan salah satu hal yang membuat seseorang lebih menarik dalam interaksi sosial. Ketika kamu menunjukkan ketertarikan yang tulus, percakapan terasa lebih seimbang dan gak hanya berpusat pada satu orang. Kamu juga berkesempatan memahami sudut pandang berbeda yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya. Dari kebiasaan sederhana ini, hubungan pertemanan bisa tumbuh lebih dekat karena kedua pihak merasa nyaman untuk saling berbagi.

Rasa ingin tahu tersebut bisa dilatih sejak kecil melalui kebiasaan bertanya, mendengarkan cerita, dan menghargai pendapat orang lain. Misalnya, ketika temanmu bercerita tentang pengalaman liburannya, kamu bisa bertanya bagian mana yang paling berkesan baginya. Hindari langsung mengalihkan pembicaraan dengan menceritakan pengalamanmu sendiri sebelum dia selesai berbicara. Dengan begitu, kamu belajar membangun komunikasi yang lebih hangat tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.

2. Belajar mengingat detail kecil tentang orang lain

ilustrasi menyapa (pexels.com/Zen Chung)

Pernahkah kamu merasa senang ketika seseorang mengingat cerita yang pernah kamu sampaikan beberapa minggu lalu? Misalnya, temanmu masih ingat bahwa kamu sedang mempersiapkan wawancara kerja atau menanyakan kabar anggota keluargamu yang sedang sakit. Perhatian seperti ini sering memberikan kesan mendalam karena menunjukkan bahwa ceritamu gak sekadar lewat begitu saja. Orang berenergi positif biasanya memahami bahwa detail kecil bisa menjadi cara sederhana untuk menunjukkan kepedulian.

Ruth Schimel, seorang konsultan manajemen karier dan penulis, menyoroti kebiasaan orang yang bahagia dalam memperhatikan serta mengingat hal-hal kecil tentang orang lain. Kebiasaan tersebut berkaitan dengan kemampuan mendengarkan secara sungguh-sungguh, bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara. Saat kamu benar-benar memperhatikan percakapan, informasi penting cenderung lebih mudah melekat dalam ingatan. Hal ini juga membuat interaksi terasa lebih personal karena orang lain menyadari bahwa kamu menghargai apa yang mereka bagikan.

Kemampuan mengingat detail bisa dilatih melalui kebiasaan sederhana, seperti memusatkan perhatian ketika seseorang berbicara dan mengurangi gangguan dari ponsel. Kamu juga bisa mengingat beberapa hal penting tentang teman atau rekan kerja, misalnya hobi, rencana, maupun tantangan yang sedang mereka hadapi. Ketika bertemu kembali, tanyakan perkembangan cerita tersebut dengan sewajarnya tanpa terkesan menginterogasi. Perhatian kecil seperti ini dapat membantu membangun hubungan yang lebih akrab sekaligus membuat orang lain merasa keberadaannya berarti.

3. Belajar bersikap baik dengan tulus

ilustrasi memeluk teman (pexels.com/Thirdman)

Bersikap baik merupakan salah satu kebiasaan yang sering ditemukan pada orang yang memancarkan energi positif. Namun, kebaikan yang mereka tunjukkan gak selalu berupa tindakan besar atau pengorbanan yang luar biasa. Hal sederhana seperti membantu teman yang kesulitan, memberikan apresiasi, atau mendengarkan seseorang yang sedang menghadapi masalah juga bisa menjadi bentuk kepedulian. Perbedaannya terletak pada niat, yaitu melakukan kebaikan karena benar-benar peduli, bukan semata-mata mengharapkan pujian atau balasan.

Clare Waismann, pendiri Waismann Method dan Domus Retreat, menjelaskan bahwa kebaikan yang tulus berkaitan erat dengan empati serta kemampuan memahami perasaan orang lain. Ketika kamu berusaha melihat situasi dari sudut pandang orang lain, kamu akan lebih mudah memahami alasan di balik sikap atau tindakan mereka. Hal ini bukan berarti kamu harus selalu menyetujui pendapat orang lain, lho, tapi kamu bisa belajar merespons dengan lebih bijaksana. Sikap tersebut membantu menciptakan hubungan yang dilandasi rasa hormat dan pengertian.

Kebiasaan berbuat baik bisa mulai dibangun sejak kecil melalui contoh yang diberikan keluarga dan lingkungan sekitar. Kamu dapat menerapkannya sekarang dengan membiasakan diri mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta menawarkan bantuan saat memang mampu. Meski begitu, bersikap baik bukan berarti harus selalu mengalah atau mengabaikan kebutuhan diri sendiri, ya. Kamu tetap boleh menetapkan batasan agar kepedulian terhadap orang lain berjalan seimbang dengan kemampuan dan kenyamananmu.

4. Belajar melakukan apa yang dikatakan

ilustrasi telat (pexels.com/Marius Mann)

Pernah bertemu seseorang yang sering memberikan nasihat, tapi justru melakukan hal yang bertentangan dengan perkataannya sendiri? Situasi seperti ini bisa membuat orang lain sulit mempercayainya karena ada jarak antara ucapan dan tindakan. Sebaliknya, orang yang berenergi positif cenderung berusaha menjalankan nilai-nilai yang mereka sampaikan kepada orang lain. Mereka memahami bahwa sikap sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap cara orang lain memandang dan memercayai mereka.

Dr. Gloria Brame, seorang terapis dan penulis, menyoroti pentingnya keselarasan antara perkataan dan tindakan dalam membangun hubungan dengan orang lain. Ketika kamu memberikan saran kepada teman, misalnya tentang pentingnya menghargai waktu, kamu juga perlu berusaha menerapkannya dalam kehidupan sendiri. Tentu saja, gak ada manusia yang selalu berhasil menjalankan semua nasihatnya dengan sempurna. Namun, kesediaan untuk terus belajar, mengakui kesalahan, dan memperbaiki perilaku menunjukkan bahwa kamu sungguh-sungguh dengan nilai yang kamu pegang.

Kamu bisa mulai melatih kebiasaan ini dengan menepati janji, bertanggung jawab atas keputusan sendiri, dan berani mengakui ketika melakukan kekeliruan. Kalau kamu pernah memberikan nasihat yang ternyata sulit diterapkan, gak perlu berpura-pura selalu benar di hadapan orang lain. Sebaliknya, jadikan pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Konsistensi seperti ini membantu membangun kepercayaan sekaligus membuat hubungan dengan teman, keluarga, dan rekan kerja terasa lebih sehat.

Energi positif gak selalu berkaitan dengan kepribadian yang ceria atau kemampuan membuat orang lain tertawa setiap saat. Ada kebiasaan sederhana yang turut membentuknya, mulai dari rasa ingin tahu, kemampuan mengingat detail kecil, kebaikan yang tulus, hingga keselarasan antara perkataan dan tindakan. Pelajaran tersebut memang idealnya dikenalkan sejak kecil, tapi bukan berarti kamu gak bisa mempelajarinya ketika sudah dewasa.

Kamu bisa mulai dari langkah kecil dalam interaksi sehari-hari dan membiasakannya secara perlahan. Dengan begitu, kamu gak hanya berpeluang membangun hubungan yang lebih baik, tapi juga menciptakan lingkungan yang terasa lebih nyaman bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitarmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article