6 Sifat Unik Orang yang Lebih Suka Jalan-jalan daripada Investasi

- Orang yang lebih memilih jalan-jalan cenderung menghargai pengalaman dan kenangan dibanding kepemilikan barang, karena pengalaman dinilai memberi kebahagiaan tersendiri.
- Mereka umumnya tidak terlalu mengejar simbol status sosial, lebih mandiri menentukan standar sukses, serta memandang stabilitas sebagai kemampuan mengelola kebutuhan dan kebebasan pribadi.
- Menyukai perjalanan tetap perlu diimbangi pengelolaan keuangan sadar: kebutuhan pokok, tabungan, dana darurat, dan kewajiban harus terpenuhi agar menikmati masa kini tidak mengganggu masa depan.
Setiap orang punya cara berbeda dalam menikmati hidup, termasuk saat menentukan ke mana uang hasil kerja kerasnya akan digunakan. Ada orang yang lebih memilih membeli rumah, mengumpulkan aset, dan berinvestasi demi masa depan yang aman. Namun, ada juga orang yang justru merasa lebih bahagia ketika uangnya digunakan untuk jalan-jalan, mencoba pengalaman baru, atau mengunjungi tempat yang belum pernah didatangi.
Pilihan ini sering dianggap kurang ideal karena traveling dinilai sebagai pengeluaran, sedangkan investasi dipandang sebagai langkah untuk membangun kekayaan. Padahal, orang yang lebih suka bepergian daripada mengejar kepemilikan aset bisa memiliki sejumlah sifat unik yang membuat mereka menjalani hidup dengan cara berbeda.
Tentu saja, menyukai perjalanan bukan berarti kamu harus mengabaikan tabungan, investasi, atau kebutuhan masa depan, ya. Ada orang yang memang lebih menghargai pengalaman daripada barang, sementara orang lain merasa nyaman ketika memiliki aset yang terus bertambah. Keduanya tentu punya pertimbangan masing-masing selama keputusan keuangannya dibuat secara sadar.
Lantas, apa saja sifat unik yang biasanya dimiliki orang yang lebih suka jalan-jalan daripada investasi?
1. Lebih menghargai pengalaman daripada barang

ilustrasi street food di Korea Selatan, wisata kuliner (pexels.com/Tyler Wang) Orang yang lebih suka jalan-jalan biasanya merasa kebahagiaan gak selalu datang dari barang yang berhasil mereka beli. Mereka mungkin lebih senang menghabiskan uang untuk melihat matahari terbit di pegunungan, mencicipi makanan khas daerah, atau menikmati suasana kota yang belum pernah dikunjungi. Bagi mereka, pengalaman seperti ini punya nilai tersendiri karena bisa menciptakan kenangan yang bertahan lama. Mereka juga punya cerita menarik untuk dikenang atau dibagikan kepada orang-orang terdekat.
Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh University of Texas at Austin, pengeluaran untuk pengalaman dapat memberikan kebahagiaan yang lebih besar dalam momen ketika pengalaman tersebut dinikmati dibandingkan pengeluaran untuk barang material. Penelitian yang melibatkan ribuan partisipan itu menemukan pola kebahagiaan tersebut dalam berbagai kategori pembelian. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa sebagian orang lebih memilih mengalokasikan uang untuk perjalanan atau kegiatan menyenangkan daripada menambah koleksi barang. Meski demikian, bukan berarti membeli barang selalu memberikan kebahagiaan yang lebih rendah bagi setiap orang, lho.
2. Gak terlalu memikirkan simbol status sosial

ilustrasi cewek cuek (unsplash.com/Henri Pham) Memiliki rumah, kendaraan pribadi, atau portofolio investasi sering dianggap sebagai tanda keberhasilan finansial. Dalam lingkungan sosial tertentu, pencapaian tersebut bahkan bisa menjadi tolok ukur untuk menilai apakah seseorang sudah mapan atau belum. Akibatnya, ada orang yang merasa harus mengejar hal-hal tersebut supaya gak dianggap tertinggal dari teman sebaya. Namun, orang yang lebih suka jalan-jalan mungkin gak terlalu menjadikan penilaian orang lain sebagai dasar untuk menentukan pilihan hidupnya.
Dikutip Psychology Today, simbol status sosial dijelaskan sebagai penanda yang bisa menunjukkan identitas, kekayaan, sekaligus keanggotaan seseorang dalam kelompok sosial tertentu. Barang seperti tas bermerek, mobil mewah, dan produk eksklusif dapat menyampaikan pesan tentang posisi seseorang di lingkungan sosialnya. Orang yang lebih memprioritaskan perjalanan mungkin gak terlalu tertarik menggunakan kepemilikan barang untuk menunjukkan keberhasilan. Mereka cenderung memilih pengeluaran berdasarkan hal yang benar-benar diinginkan, bukan semata-mata demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.
3. Memiliki pandangan berbeda tentang stabilitas hidup

ilustrasi hammock (magnific.com/bugphai) Banyak orang menganggap hidup stabil berarti mempunyai pekerjaan tetap, rumah sendiri, tabungan, dan investasi yang terus berkembang. Pandangan tersebut memang masuk akal karena aset dan kondisi keuangan yang sehat bisa membantu seseorang menghadapi berbagai kebutuhan di masa depan. Namun, orang yang gemar traveling mungkin memiliki definisi stabilitas yang sedikit berbeda. Mereka bisa merasa hidupnya tetap terkendali selama mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengelola pengeluaran, dan memiliki kebebasan untuk melakukan hal yang disukai.
Dalam American Psychiatric Association dijelaskan bahwa stabilitas ekonomi merupakan salah satu faktor sosial yang berkaitan dengan kesehatan mental. Kondisi seperti pekerjaan, pendapatan, dan keamanan finansial dapat memengaruhi kesejahteraan seseorang, sedangkan kesulitan ekonomi bisa meningkatkan tekanan psikologis. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas finansial gak seharusnya hanya dinilai dari penampilan luar atau kepemilikan aset. Orang yang gemar bepergian juga tetap perlu memastikan pendapatan dan pengeluarannya terkendali agar kesenangan saat ini gak menimbulkan kesulitan keuangan pada masa mendatang.
4. Lebih ingin memegang kendali atas hidup sendiri

ilustrasi traveling bahagia (magnific.com/svetlanasokolova) Pernah merasa harus mengikuti pencapaian orang lain supaya gak dianggap gagal? Misalnya, kamu merasa wajib membeli rumah sebelum usia tertentu, menikah pada umur tertentu, atau memiliki investasi sebelum memasuki usia 30 tahun. Tekanan seperti ini bisa membuat seseorang menjalani hidup berdasarkan ekspektasi lingkungan, bukan berdasarkan kebutuhan dan keinginannya sendiri. Orang yang lebih suka jalan-jalan cenderung berani mempertanyakan standar tersebut sebelum memutuskan apa yang benar-benar ingin dicapai.
Mereka menyadari bahwa perjalanan hidup setiap orang gak harus memiliki urutan yang sama. Ada orang yang merasa puas ketika berhasil membeli rumah pertama, sedangkan orang lain justru menemukan kebahagiaan saat mengunjungi berbagai negara atau menjelajahi daerah di Indonesia. Mereka lebih tertarik menyusun prioritas berdasarkan nilai pribadi daripada sekadar mengikuti pencapaian orang lain. Meski begitu, kebebasan mengambil keputusan tetap perlu disertai tanggung jawab agar pilihan tersebut gak merugikan diri sendiri maupun orang-orang yang bergantung pada mereka.
5. Gak terlalu terikat pada kepemilikan barang

ilustrasi tas (unsplash.com/James Ree) Bagi sebagian orang, barang yang dimiliki memiliki hubungan erat dengan identitas diri. Pakaian bermerek, kendaraan, koleksi tertentu, atau rumah pribadi bisa memberikan rasa bangga karena mencerminkan pencapaian yang sudah diperoleh. Namun, orang yang gemar bepergian mungkin gak terlalu mengaitkan kebahagiaan dengan banyaknya barang yang dimiliki. Mereka tetap bisa menyayangi barang tertentu, tapi gak merasa harus terus menambah kepemilikan agar hidupnya terasa lebih lengkap.
Dalam pembahasan psikologi mengenai barang dan kepemilikan yang dimuat British Psychological Society, hubungan manusia dengan benda dapat dipahami melalui cara barang memengaruhi kehidupan, perasaan, dan identitas seseorang. Kepemilikan memang bisa memiliki nilai emosional, tapi gak semua orang memberikan arti yang sama pada barang yang dimilikinya. Orang yang lebih menyukai perjalanan mungkin lebih mengutamakan pengalaman daripada mengumpulkan benda sebagai penanda pencapaian. Mereka tetap membutuhkan barang untuk menjalani kehidupan, tapi gak harus menjadikan kepemilikan materi sebagai tolok ukur utama kepuasan hidup.
6. Lebih menikmati kesempatan yang ada saat ini

ilustrasi traveling (pexels.com/Loyale Trần) Orang yang lebih suka jalan-jalan biasanya memiliki dorongan untuk menikmati kesempatan selagi masih memungkinkan. Mereka memahami bahwa kondisi kesehatan, waktu luang, pekerjaan, dan tanggung jawab bisa berubah seiring bertambahnya usia. Karena itu, mereka gak selalu ingin menunda semua rencana menyenangkan sampai merasa benar-benar mapan. Mereka mungkin memilih merencanakan liburan sekarang, selama kebutuhan pokok dan kewajiban finansial tetap terpenuhi.
Namun, menikmati masa sekarang gak harus berarti mengabaikan masa depan. Kamu tetap bisa merencanakan perjalanan sambil menyisihkan uang untuk tabungan, dana darurat, dan investasi sesuai kemampuan. Misalnya, kamu menetapkan anggaran traveling tersendiri sehingga pengeluaran untuk liburan gak mengganggu pembayaran tagihan atau kebutuhan penting lainnya. Dengan begitu, kamu bisa menikmati pengalaman baru tanpa terus-menerus merasa bersalah karena mengeluarkan uang untuk bersenang-senang.
Lebih suka jalan-jalan daripada investasi bisa mencerminkan sejumlah sifat unik, mulai dari lebih menghargai pengalaman, gak terlalu mengejar status sosial, hingga berani menentukan standar kesuksesan sendiri. Namun, pilihan tersebut gak otomatis membuat seseorang lebih bahagia atau lebih buruk dalam mengelola keuangan dibandingkan orang yang memprioritaskan investasi.
Setiap orang punya kebutuhan, kondisi finansial, dan tujuan hidup yang berbeda sehingga gak perlu memaksakan satu standar kesuksesan kepada semua orang. Hal terpenting adalah menemukan keseimbangan antara menikmati hidup saat ini dan mempersiapkan masa depan agar keduanya bisa berjalan beriringan.





![[QUIZ] Pilih Situasi Hujan, Ini Perasaan yang Kamu Sembunyikan](https://image.idntimes.com/post/20261007/209340_1e7fb20f-76d5-433c-a317-229c2f26edea.jpg)

![[QUIZ] Pilih Warna Sunset, Ini Luka Lama yang Masih Memengaruhi Caramu Mencintai Orang Lain](https://image.idntimes.com/post/20241123/pexels-kuya-yus-1827722-3423865-120d99068824bc16e20fee794f36b728-47e48ab441b116fa322453a7877ea272.jpg)
![[QUIZ] Pilih Karakter SpongeBob, Ini Sisi Dirimu yang Ingin Dipahami](https://image.idntimes.com/post/20261029/pexels-shvets-production-7176216-1_36110db9-74ee-49f7-b0db-30a103fa1b30.jpg)

![[QUIZ] Dari Teman Upin Ipin, Ini Hal yang Sulit Kamu Lepaskan](https://image.idntimes.com/post/20260130/upload_8340297b14e222e61b54ab4e377a2d4c_f7d775a1-fdd1-4261-9f0a-18bcd52d3249.jpg)
![[QUIZ] Dari Masalah yang Lagi Dihadapi, Ini Kalimat yang Diam-diam Ingin Kamu Dengar](https://image.idntimes.com/post/20241116/pexels-cottonbro-6763604-999d577f583d9b173ee1be4aee0e3683-949e637d2c5816b45ed3b9f163a38565.jpg)




![[QUIZ] Pilih Ruangan, Ini Kebutuhan Emosional yang Jarang Kamu Sadari](https://image.idntimes.com/post/20260505/pexels-cottonbro-6284266_dec89ac6-570a-4601-8b1b-49ff378a04ca.jpg)
![[QUIZ] Pilih Pemandangan, Ini Kesedihan yang Selalu Kamu Samarkan dengan Candaan](https://image.idntimes.com/post/20250428/portrait-young-woman-with-low-self-esteem-sitting-by-window-home-23-2150038987-1-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-f65a962a3797c105cf6ce7a6ef06dba3.jpg)

![[QUIZ] Suasana Film Upin Ipin Ungkap Pikiran yang Sering Kamu Simpan](https://image.idntimes.com/post/20261015/120678_06bc393f-62b9-4dc1-8277-aac4b37fa7d0.jpg)



![[QUIZ] Ini Hal yang Diam-diam Kamu Takutkan dalam Hubungan](https://image.idntimes.com/post/20250603/screenshot-2025-06-03-185214-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-549cd9afbbed6ab465b460892294c37c.png)